1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

2015: Cina Buka Jalur Kereta Cepat ke Korut

2 Januari 2014

Meski menetang program nuklir Korea Utara, Cina tetap ingin melakukan kerjasama ekonomi dengan Korea Utara.

https://p.dw.com/p/1AkSM
Foto: AFP/Getty Images

Cina akan membuka jalur kereta super cepat ke perbatasan Korea Utara tahun depan, seperti yang dilaporkan oleh media pemerintah Cina “Xinhua“ Kamis lalu. Dengan dibangunnya jalur kereta ini Cina berharap bisa meningkatkan perdagangan dan hubungan ekonomi dengan negara jirannya itu.

Jalur tersebut sudah berada dalam tahap pembangunan sejak tahun 2010. Jalur ini memiliki panjang 207 km yang membentang dari Shenyang sampai Dandong, sebuah kota di Cina yang letaknya menghadap sungai Yalu yang menjadi batas pemisah antara Cina dan Korea Utara. Nantinya jalur ini akan memperpendek waktu perjalanan dari 3,5 jam menjadi hanya satu jam saja.

Cina berdagang dengan Korea Utara

Delapan puluh persen transaksi perdagangan yang terjadi antara Cina dan Korea Utara terjadi di kota Dandong yang terletak dekat salah satu zona ekonomi khusus Korea Utara yakni pulau Hwanggumpyong.

Cina sedang mendorong perkembangan tiga zona ekonomi khusus di Korea Utara dengan harapan bisa menekan ongkos pekerja serta mendorong Korea Utara untuk bisa melihat keuntungan yang bisa diperoleh dari reformasi ekonomi. Meski ingin meningkatkan kerjasama ekonomi, disaat bersamaan Cina juga menentang program nuklir Korea Utara.

Cina melakukan pengetatan pemeriksaan terhadap pengiriman yang dilakukan melalui kapal dari dan ke Korea Utara menyusul tes nuklir ketiga yang dilakukan oleh Korea Utara. Meski demikian Cina tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan pemutusan hubungan dengan Korea Utara.

Meski kemajuan yang dicapai di zona ekonomi itu hanya sedikit, Cina terus melakukan perbaikan infrastruktur di sisi perbatasan termasuk membangun jembatan dari Dandong ke Korea Utara.

Korea Utara menarik pelaku bisnisnya dari CIna

Sebelumnya diberitakan Korea Utara telah memanggil pulang sejumlah besar pengusahanya dari Cina. Kantor berita Korea Utara Yonhap menduga tindakan ini dilakukan terkait eksekusi yang dilakukan oleh Kim Jong Un terhadap pamannya Jang Song Thaek. Yang terkena dampak pemanggilan tersebut adalah para pengusaha Korea Utara yang melakukan perdagangan dan promosi investasi di Shenyang dan Dandong.

Jang Song Thaek telah lama dikenal sebagai orang terkuat ke dua di Korea Utara. Beberapa kali ia sempat membawa delegasi besar ke Cina dengan tujuan membangun kerjasama ekonomi. Jumat lalu, Korea Utara memastikan telah melaksanakan hukuman mati terhadap Jang Song Thaek yang berusia 67 tahun itu. Ia dihukum mati karena telah mencoba melakukan kudeta. Hukuman mati tersebut adalah upaya pembersihan politik yang dilakukan oleh Kim Jong Un untuk memperkuat kekuasaannya.

asb/rn (dpa, rtr)