1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Ada Apa dengan Toleransi di Indonesia?

13 November 2015

Islam Indonesia dianggap mempunyai bentuk moderat, berbeda dengan Timur Tengah. Tapi beberapa tahun terakhir, kekerasan bermotif agama meningkat. Berbagai kasus penyerangan terjadi pada kelompok minoritas di Indondesia.

https://p.dw.com/p/1H51o
Foto: picture alliance/Godong

Selama ini dunia memuji kesuksesan Indonesia dalam transisi demokrasi. Indonesia dan Turki dianggap sebagai contoh bahwa demokrasi bisa berkembang di negara berpenduduk mayoritas muslim.

Itulah wajah Indonesia yang dilihat dunia. Tapi demokrasi Indonesia tidak semulus itu. Melihat lebih dekat akan segera menyadarkan kita bahwa ada banyak bopeng di sana.

Intoleransi tidak hanya milik kelompok ekstrim yang jumlahnya kecil. Bahwa mereka yang paling aktif dan vokal mendiskriminasi kelompok lain: ya. Tapi sesungguhnya, pandangan mereka didukung oleh publik yang lebih luas.

Hampir semua survey menunjukkan indikasi bahwa masyarakat Indonesia semakin tidak toleran terhadap perbedaan keyakinan.

Itulah yang menyebabkan pejabat atau aparatus negara sering ragu menindak kelompok garis keras. Karena diam-diam, banyak orang mendukung pandangan seperti itu. Pandangan yang tidak toleran terhadap perbedaan.

Semakin maraknya aksi kekerasan dan penindasan terhadap kaum minoritas membuat wajah indah Indonesia sebagai negara yang toleran semakin pudar.

Komunitas GUSDURian mengganggap, maraknya aksi intoleransi karena ada yang salah dengan dialog.