1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Anggota OPM Minta Amnesti dan Bertemu Kepala BIN Sutiyoso

2 Februari 2016

Sepuluh mantan anggota kelompok separatis Papua diberitakan mengajukan permohonan untuk mendapat amnesti. Dua tokohnya melakukan pertemuan tertutup dengan Kepala BIN, Sutiyoso di Jakarta.

https://p.dw.com/p/1HnRQ
West Papua Indonesische Soldaten
Foto: Getty Images/AFP/T. Eranius

Sepuluh mantan anggota kelompok separatis Papua Organisasi Papua Merdeka (OPM) diberitakan telah memohon pemerintah Indonesia untuk memberikan amnesti. Dua tokoh pemberontak Papua sudah melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Letjen TNI (Purn) Sutiyoso.

"Ini adalah langkah yang baik, sebagai efek domino menyerahnya Din Minimi," kata Sutiyoso hari Senin (01/02) seperti dikutip Jakarta Post dari tempo.co.

Sutiyoso selanjutnya mengatakan, para mantan pemberontak juga meminta bantuan sosial. Hal-hal itu sudah dibicarakan dengan pemerintah daerah di Papua dan permintaan mereka kemungkinan bisa dipenuhi, misalnya mendapat perumahan rakyat."Pemerintah setempat telah membuat rencana," kata Sutiyoso.

Indonesien Entlassung Filep Karma politischer Aktivist
Aktivis Papua Filep Karma dibebaskan dari tahanan, 19 November 2015Foto: picture-alliance/dpa/D. Mahendra

Terinus Enumbi, mantan pemberontak yang pernah menyebut dirinya sebagai komandan peleton di Tinggi Nambu, Puncak Jaya, menyatakan mereka sudah lelah dengan pertemuan. Ia bersama Melodi Enumbi sebelumnya bertemu dengan Bupati Puncak Jaya Hanock Ibo awal Januari lalu. Keduanya lalu dipertemukan dengan Kepala BIN Sutiyoso.

10 anggota kelompok bersenjata yang diberitakan sudah menyerahkan diri adalah Teranus Enumbi, Yandu Enumbi, Telak Kogoya, Tendison Enumbi, Paindin Enumbi, Yalingga Enumbi, Berenggup Enumbi, Kopinggup Enumbi, Lendi Enumbi dan Tendiron Enumbi. Sedangkan Melodi Enumbi karena sakit tidak jadi mengikuti rombongannya.

Indonesisches Militär in Papua
Aparat keamanan Indonesia sering terlibat pelanggaran HAM di PapuaFoto: T. Eranius/AFP/Getty Images

hp/rn (jakartapost, tempo.co, republika)