1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

41 Negara Muslim Kukuhkan Aliansi Anti Teror

28 November 2017

Setelah serangan teror di Mesir, Arab Saudi bersama 40 negara Muslim bertekad "mengejar teroris sampai mereka terhapus dari muka bumi", kata Pangeran Mohammed bin Salman di Riyadh.

https://p.dw.com/p/2oNDN
Islamic Military Counter Terrorism Coalition Riad
Foto: Reuters/B. Algaloud

Wakil-wakil dari 40 negara Muslim berkumpul di Riyadh hari Minggu lalu (26/11) memenuhi undangan Arab Saudi.

"Pada tahun-tahun sebelumnya, terorisme telah beraksi di semua negara kita ... tanpa koordinasi" dari otoritas nasional untuk membasminya, kata Pangeran Mohammed bin Salman, yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Arab Saudi.

Situasi tanpa koordinasi itu " berakhir hari ini, dengan aliansi ini," tandas Mohammed bin Salman.

Inilah pertemuan puncak pertama para menteri pertahanan dan pejabat senior lainnya dari Koalisi Anti Terorisme Militer Islam, yang melibatkan 41 negara dan menyatakan diri sebagai "front pan-Islam terpadu" untuk melawan ekstremisme kekerasan.

Aliansi tersebut pertama kali digalang tahun 2015 di bawah naungan Pangeran Mohammed bin Salman. Kelompok aliansi itu sebagian besar, meski tidak secara eksklusif, terdiri dari negara-negara yang mayoritas penduduknya penganut Islam Sunni.

Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman
Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin SalmanFoto: picture-alliance/AP Photo

Pertemuan puncak di Riyadh itu dilaksanakan di tengah eskalasi ketegangan antara Mesir dan Iran, negara Islam Syiah terkuat. Kedua kubu itu terutama terlibat dalam perang di Suriah dan Yaman dan konflik politik di Lebanon.

Arab Saudi menuduh Iran mendukung kelompok bersenjata di Timur Tengah, termasuk kelompok Hizbullah di Libanon dan pemberontak Huthi di Yaman.

"Pilar koalisi ini adalah partisipasi," kata Jenderal Saudi Abdulada al-Saleh, yang diangkat menjadi sekretaris jenderal aliansi.

"Musuh bersama kita adalah terorisme, bukan agama, sekte atau ras manapun," tegasnya.

Pertemuan di Riyadh antara lain diikuti oleh Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Afghanistan, Uganda, Somalia, Mauritania, Lebanon, Libya, Yaman dan Turki. Indonesia sejak awal menyatakan tidak ikut dalam aliansi, namun akan bekerjasama. Pensiunan Jenderal Pakistan Raheel Sharif ditunjuk sebagai panglima tertinggi aliansi.

41  negara muslim, yang mayoritasnya Islam Sunni, membentuk aliansi anti teror di Riyadh
41 negara muslim, yang mayoritasnya Islam Sunni, membentuk aliansi anti teror di RiyadhFoto: Reuters/F. Al Nasser

Aliansi ini bertujuan untuk "memobilisasi dan mengkoordinasikan penggunaan sumber daya, memfasilitasi pertukaran informasi dan membantu negara-negara anggota membangun kapasitas kontra-terorisme mereka sendiri," kata Sharif.

Secara resmi, aliansi anti teror itu mencakup Qatar, namun tidak ada pejabat Qatar hadir dalam pertemuan tersebut. Arab Saudi, UEA, Mesir dan Bahrain secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dan perdagangan dengan Qatar bulan Juni lalu dan menuduh Qatar terlalu dekat dengan Iran dan mendukung ekstremisme Islam. Doha membantah tuduhan tersebut.

Mesir mengirim seorang pejabat militer dalam pertemuan hari Minggu, setelah diguncang serangan teror terparah hari Jumat (24/11) di sebuah masjid yang menewaskan lebih dari 300 orang yang sedang melakukan sholat Jumat.

Pangeran Mohammed bin Salman mengatakan "peristiwa menyakitkan" hari Jumat itu merupakan peringatan besarnya ancaman "bahaya terorisme dan ekstremisme".

"Di luar pembunuhan orang-orang yang tidak bersalah dan penyebaran kebencian, terorisme dan ekstremisme merusak citra agama kita," katanya.

Sejak pengangkatannya sebagai putra mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman bergerak cepat untuk mengkonsolidasikan kekuasaan dan mengumumkan tindakan keras terhadap terorisme dan korupsi.

hp/vlz (afp, rtr)