1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS Bantah Terlibat Pembunuhan Ilmuwan Nuklir Iran

12 Januari 2012

Pemerintah Iran menuduh Israel dan AS berada di balik serangan pembunuhan terhadap ilmuwan atomnya. Teheran juga mengirim surat ke Dewan Keamanan PBB, menuntut kecaman keras atas aksi pembunuhan tsb.

https://p.dw.com/p/13i6c
Mobil ilmuwan nuklir Roshan yang hancur akibat serangan bom.Foto: AP

Pemerintah di Washington bereaksi langsung dengan membantah tudingan Teheran. Menteri luar negeri Hillary Clinton menegaskan kepada para wartawan dalam sebuah jumpa pers, bahwa AS sama sekali tidak terlibat dalam aksi kekerasan apapun di Iran. Pemerintah di Teheran sejak 2010 sudah menuduh AS dan Israel terlibat dalam serangan pembunuhan terhadap para ilmuwan nuklirnya.

Sejauh ini pemerintah Israel tetap bersikap menahan diri, dan tidak mengeluarkan pernyataan resmi. Namun jurubicara militer, brigadir jenderal Yoav Mordechai berkomentar lewat situs internet, siapapun pelaku pembunuhannya, ia tidak akan mencucurkan air mata bagi korban. Sebelumnya media Israel mengutip pernyataan kepala staf militer Israel, letnan jendral Benny Gantz, yang menyebutkan tahun 2012 akan menjadi tahun kritis bagi Iran. Sebagian, karena akan terjadi hal buruk yang tidak alami terhadap warga Iran.

Hindari eskalasi militer

Symbolbild Beziehungen China - Iran und Russland
Symbol hubungan Cina - Iran dan Rusia.

Sekretaris dewan keamanan nasional Rusia, Nikolai Patrushev dalam wawancara dengan harian Kommersant memperingatkan pecahnya eskalasi militer dengan Iran. Pasalnya Israel terus mendesak AS untuk mengarah ke sana. “Terdapat ancaman bahaya nyata sebuah serangan militer AS terhadap Iran,“ ujar Patrushev.

Juga Cina memperingatkan agar tidak melancarkan aksi kekerasan militer terhadap Iran. Sebuah perang dengan Iran, akan membebani ekonomi global, kata seorang petinggi kementrian luar negeri di Beijing.. Rusia dan Cina sejauh ini tetap menolak dijatuhkannya sanksi terhadap Iran.

Rangkain serangan pembunuhan

Serangan bom yang menewaskan wakil direktur instalasi pengayaaan Uranium Natanz, Mostafa Ahmadi Roshan (32) hari Rabu (11/1), merupakan serangan pembunuhan yang keempat kalinya terhadap ilmuwan nuklir Iran. Dua orang ilmuwan nuklir Iran, Majid Shariari dan Massoud Ali-Mohammadi tewas dalam serangan bom serupa tahun 2010. Sementara upaya serangan bom yang menyasar iluwan nuklir lainnya, Fareydoun Abbasi, gagal membunuhnya.

Wakil presiden Iran, Mohammad-Reza Rahimi dalam pernyataan menanggapi aksi terbaru serangan pembunuhan terhadap ilmuwan nuklirnya, menuding agen-agen imperialis terlibat dalam aksi pembunuhan itu. Seperti dikutip kantor berita IRNA, Rahimi menegaskan: “Lawan Iran harus mengetahui, lewat serangan terorisme seperti itu, mereka tidak akan dapat menghentikan program atom Iran“.

Media-media massa Iran juga bereaksi keras menanggapi aksi pembunuhan terhadap ilmuwan nuklir Roshan. Sejumlah harian mengecam negara-negara barat yang tidak bereaksi dan bungkam terkait serangan teror tsb.

Ketegangan meningkat

Straße von Hormus
Selat HormuzFoto: picture alliance/dpa/NASA

Ketegangan antara Iran dan AS pekan ini semakin memuncak, seiring vonis hukuman mati terhadap seorang warga AS keturunan Iran bekas serdadu angkatan laut AS, yang dituduh sebagai agen CIA. Sebelumnya, laporan badan energi atom internasional-IAEA, mengenai pengoperasian instalasi pengayaan Uranium di Fordo, serta manuver angkatan laut Iran di selat Hormuz, juga memicu ketegangan berikutnya dengan barat.

Tanpa terpengaruh berbagai tekanan dan ancaman, garda revolusi Iran menyatakan, akan melanjutkan manuver militernya di selat Hormuz dalam beberapa pekan mendatang.

Setiawan/afp/dpa/dw

Editor: Legowo