1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS Kecam Assad Tiran dan Pembunuh

11 Juli 2012

Amerika Serikat mempertajam kecamannya terhadap Presiden Suriah, Bashar al Assad. Utusan khusus PBB, Annan sampaikan laporan mengenai upaya mediasi kepada DK PBB.

https://p.dw.com/p/15VA5
White House Press Secretary Jay Carney speaks during his daily briefing, Monday, Jan. 23, 2012, in the Brady Briefing Room of the White House in Washington. (Foto:Haraz N. Ghanbari/AP/dapd)
Jurubicara Gedung Putih, Jay CarneyFoto: AP

Jurubicara presiden Amerika Serikat, Jay Carney mengatakan di Washington: "Nama Bashar al-Assad akan tercatat dalam sejarah sebagai tiran brutal yang membunuh rakyatnya sendiri." Bersamaan dengan itu Carney mendesak politisi dan militer di Damaskus untuk "berpaling dari Assad" dan "berpihak kepada rakyat".

Amerika Serikat meragukan bahwa Assad bersedia menyelesaikan konflik di Suriah secara damai. "Assad sudah sejak lama kehilangan kredibilitas," ujar Carney. Selanjutnya dikatakan, AS pesimis bahwa Assad akan memenuhi kewajiban yang tercantum dalam rancangan perdamaian yang diajukan utusan khusus PBB Kofi Annan.

epa03178164 Iranian foreign minister Ali-Akbar Salehi (R) and UN-Arab League envoy Kofi Annan (L) during a press conference in Tehran, Iran, 11 April 2012. Iran told visiting UN-Arab League envoy Kofi Annan on 11 April that Syrian President Bashar al-Assad should stay in power regardless of whatever decisions taken in the Syrian conflict. 'Iran supports the people's will in Syria for more freedom but also believes that any change should solely be done within talks between the people and the current government,' Salehi reportedly said. EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Kofi Annan (kiri) dengan Menlu Iran, Ali-Akbar SalehiFoto: picture-alliance/dpa

Annan harapkan solusi dengan libatkan Iran

Dalam upaya untuk mengakhiri kekerasan di Suriah, utusan khusus PBB untuk Suriah, yang juga mendapat mandat dari Liga Arab Kofi Annan, hari Selasa (10/7) mengunjungi Teheran dan Baghdad. Menurut Annan, Iran dapat berkontribusi dalam penyelesaian konflik Suriah. Tetapi AS dan Uni Eropa memandang upaya ini dengan pesimis.

Hari Rabu (11/7) Annan menyampaikan laporan kepada Dewan Keamanan PBB mengenai upaya mediasinya yang terakhir dalam konflik Suriah. Annan mengatakan, dalam pertemuan dengan DK juga akan dibicarakan mengenai kelanjutan misi pengamat. Selambatnya 20 Juli ini DK harus memutuskan masa depan misi.

Mandat misi pengamat di Suriah yang berjumlah 300 personel berakhir 20 Juli. Misi ini ditugaskan mengamati gencatan senjata antara pasukan pro-Assad dan gerakan oposisi. Gencatan senjata itu merupakan hasil mediasi bulan April lalu.

Tetapi para pengamat yang sebagian juga menjadi sasaran tembakan, tidak berhasil menghentikan aksi kekerasan. Sejak awal perlawanan terhadap Assad bulan Maret 2011, diperkirakan sekitar 15.000 orang tewas.

Christa Saloh-Foerster (dpa,afp)

Editor : Agus Setiawan