1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanGlobal

Banjir, Kekeringan dan Wabah: Krisis Air Menggejala di Dunia

22 Maret 2023

Miliaran manusia di seluruh dunia setiap hari menghadapi kelangkaan air, karena kontaminasi air minum, kekeringan atau bencana banjir. PBB mewanti-wanti krisis air global “sudah dekat."

https://p.dw.com/p/4P3T1
Kekeringan di India
Seorang warga mengangkut air bersih di Bangalore,India.Foto: Jagadeesh Nv/dpa/picture alliance

Besarnya risiko krisis air minum di dunia disimpulkan sebuah laporan PBB yang dirilis bersamaan dengan dimulainya KTT Air di New York, AS, Rabu (22/3). 

Menurut hasil riset, konsumsi air di seluruh dunia meningkat sekitar 1 persen per tahun selama empat dekade terakhir. Tingginya angka konsumsi global menyurutkan cadangan air bersih sebanyak 100-200 kubik kilomter per tahun. 

PBB juga mencatat sebanyak 10 persen penduduk Bumi hidup di wilayah rawan kekeringan. Di kawasan ini, besarnya perbedaan antara jumlah air yang dikonsumsi dan cadangan air mencapai level "kritis.”

Hal serupa dicatat dalam laporan Panel Iklim PBB yang dipublikasikan Senin (20/3) kemarin, di mana "hampir separuh populasi Bumi mengalami kelangkaan air, setidaknya untuk masa tertentu dalam setahun.”

Bank Dunia memperkirakan, krisis kelangkaan air yang diperparah perubahan iklim di setiap negara akan menciptakan kerugian setinggi hingga enam persen dari Produk Domestik Brutto pada 2050. Angka tersebut dihitung berdasarkan dampaknya terhadap sektor pertanian, kesehatan, pendapatan dan meningkatnya risiko migrasi paksa atau konflik air.

Kelangkaan air di dunia
Wilayah Bumi dengan tingkat kelangkaan air yang tinggi

Pertanian saat ini masih menyedot 70 persen kebutuhan air di dunia. Tapi ketika populasi kota terus bertambah, "alokasi air dari pertanian ke kawasan urban menjadi strategi umum yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan air,” tulis PBB.

Kendati demikian, jumlah masyarakat urban yang terancam kelangkaan air diprediksi meningkat dari 933 juta  orang pada 2016 menjadi 1,7 dan 2,4 miliar manusia pada 2050. PBB terutama mewaspadai situasi di India yang diprediksi akan terdampak paling parah.

Banjir dan Kekeringan

Ketika suhu Bumi menghangat, tingkat kelembapan di udara ikut meningkat sebanyak tujuh persen untuk setiap derajat Celcius. Akibatnya, fenomena hujan ekstrem yang muncul secara sporadis kian marak.

Antara 2000 dan 2019, bencana banjir di seluruh dunia ditaksir menciptakan kerugian senilai USD 650 miliar, 1,7 juta pengungsi dan lebih dari 100.000 kasus kematian, menurut laporan PBB.

Pemanasan global juga membuat bencana kekeringan menjadi lebih sering dengan tingkat intensitas yang tinggi. Pada kurun waktu yang sama, kekeringan berdampak terhadap 1,4 juta manusia dan menciptakan kerugian senilai USD 130 miliar.

Krisis Air di Jakarta

Banjir dan Kekeringan mewakili lebih dari sepertiga dari jumlah bencana alam yang menimpa manusia.

Investasi sejak dini

Setidaknya dua miliar manusia harus mengkonsumsi air yang sudah terkontaminasi tinja dan sebabnya berisiko terkena penyakit kolera, disentri atau polio.

Kekhawatiran juga diungkapkan terhadap pencemaran polutan kimia, obat-obatan, pestisida dan plastik. Polutan-polutan ini juga mencemari ekosistem air tawar, terutama dari limpahan limbah pertanian.

Meski sulit menaksir jumlah dana investasi yang dibutuhkan untuk mencapai Sasaran Pertumbuhan Berkelanjutan (SDG) dalam menjamin akses air bersih dan sanitasi bagi semua penduduk Bumi hingga 2030. 

PBB mengestimasikan, biaya pembangunan infrastruktur air bersih dan sanitasi di dunia akan mencapai hingga USD 1 triliun per tahun. Adapun untuk menjamin ketersediaan air bersih pada 2030, diperlukan dana investasi sebesar tiga kali lipat dari yang disediakan saat ini.

rzn/hp (afp,rtr)