1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kembali Belajar dan Bermain di Kampung Dongeng Indonesia

18 Februari 2022

Lewat dongeng dan permainan, Awam Prakoso bermimpi wujudkan lingkungan kampung yang ramah anak, di mana anak bisa terjaga, terlindungi, sambil mengasah bakat mereka.

https://p.dw.com/p/47Al8
Awam Prakoso dari Kampung Dongeng Indonesia
Awam Prakoso dari Kampung Dongeng IndonesiaFoto: Privat

Hal yang pertama kali dicari oleh bocah perempuan berumur 6 tahun itu ketika bangun tidur adalah telepon genggam. Bocah itu, sebut saja Sekar, bahkan sudah tahu cara mengunduh aplikasi dan games yang tersedia di play store.

Orang tua Sekar menceritakan anaknya kerap rewel dan marah jika tak diberikan handphone. Tak hanya Sekar, banyak anak lainnya juga mengalami hal serupa. Derasnya arus informasi dan kemajuan teknologi di masa kini membuat cerita lewat media tradisional seperti dongeng dan cerita rakyat juga kian tergusur.

Awam Prakoso, 49, yang berprofesi sebagai pendongeng mengakui perbedaan itu. Zaman dulu anak-anak kerap tertarik mendengar dongeng yang akan diingat sepanjang masa seperti Si Kancil, Itik Buruk Rupa, Kura-kura dan Kelinci, atau Bawang Merah dan Bawang Putih. Sementara zaman sekarang anak-anak lebih suka menonton Youtube, Tik-Tok, dan bermain games online.

Kak Awam, begitu ia disapa bercerita bahwa sejak tahun 1999 dirinya sering keliling daerah untuk mempromosikan cerita-cerita rakyat, baik dalam rangkaian kegiatan tertentu maupun untuk menghibur anak-anak korban bencana di pengungsian.

Hal itulah yang menjadi awal mula pria kelahiran Blora, Jawa Tengah, pada tahun 1973 ini mendirikan Kampung Dongeng Indonesia yang terletak di Jl Musyawarah, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan antara lain Pekan Ceria Di Hari Minggu. Setiap pekan ratusan anak bisa bermain dan mendengarkan dongeng gratis di saung yang berdiri di lahan seluas 350 meter persegi dan dikelilingi tumbuhan serta hiasan dinding warna-warni.

"Saya ingin mewujudkan lingkungan kampung yang ramah anak, bagaimana anak bisa terjaga, terlindungi, ada peningkatan karakter, insan yang mampu menghadapi kemajuan zaman, kreatif dan memiliki minat dan bakat," kata dia.

Luntur digerus teknologi

Kampung dongengku adalah rumah bacaku..

Kampung dongengku tempatku berkreasi..

Kampung dongengku panggung ceritaku…

Itu adalah lirik lagu pembuka yang mengawali tiap pertemuan di Kampung Dongeng. Setelah bernyanyi, anak-anak diajarkan membaca agar mereka memiliki minat baca mulai dari usia dini. Kampung Dongeng juga mengajarkan kreativitas dan permainan baik permainan tradisional maupun permainan kreasi relawan.

"Biasanya setelah capek, anak-anak akan diberikan hiburan pentas dongeng, mereka sangat menyukainya," katanya.

Awam Prakoso saat mendongeng di depan anak-anak
Kak Awam berharap suatu saat bisa mewujudkan 1.000 kampung dongeng di Indonesia agar menjadi negara yang ramah anak.Foto: Privat

Kak Awam mengakui, budaya mendongeng kini sudah mulai luntur di lingkungan rumah. "Belajar melalui dongeng sudah mulai tergerus teknologi dan ditinggalkan oleh sekolah dan orang tua. Sekolah lebih fokus untuk menyelesaikan kurikulum apalagi di masa pandemi. Sementara orang tua juga memiliki pola asuh yang berbeda dari masa lalu," kata dia.

Dahulu orang tua sering menceritakan kisah-kisah masa lalu kepada anaknya, atau cerita-cerita rakyat khas dari daerah masing-masing. Sementara saat ini, banyak orang tua yang sibuk bekerja sehingga tak sempat meluangkan waktu untuk bersama anak. 

"Mereka biasanya berkumpul, menonton Youtube, televisi, setelah itu mereka menirukan, mereka punya teman komunitas sefrekuensi yang kadang kala membuat mereka tumbuh secara liar apabila tidak ada pengendali yaitu orang tua dan sekolah."

Ditambah lagi, ujar dia, pandemi membuat sekolah anak-anak kerap kali dilakukan dari rumah dengan bantuan alat seperti telepon genggam dan laptop. Hal seperti ini menambah sulitnya mengontrol anak dalam menggunakan gawai.

"Mau tidak mau relawan yang harus hadir untuk mengisi kekosongan ini. Mereka diberikan pembekalan untuk menarik perhatian anak-anak agar meninggalkan gadget," ujar dia.

Didukung ribuan relawan pendongeng

Salah satu cara agar anak-anak mau meninggalkan gawai mereka adalah dengan menciptakan dongeng seperti dengan menirukan suara-suara binatang, misalnya seekor ayam.

"Kukuruyuuuk," tiru Awam. Lalu lanjut lagi suara bebek "Kwek kwek kwek!" Disusul "Moooooo," oleh sapi. Selanjutnya, dalam dongeng itu ayam, bebek dan sapi pun saling mengobrol.

Ayam: "Halo namaku ayam. Aku sedang mencari makan."
Bebek dan sapi: "Aku ikut, aku ikut!"

Begitu salah satu petikan fabel yang dia bawakan. Suara Kak Awam menirukan aneka binatang ini terdengar sangat mirip dengan suara aslinya. Saat ia bercerita perhatian anak-anak seketika tertuju kepadanya.

Hingga kini, Kampung Dongeng Indonesia memiliki lebih dari 1.600 relawan yang terdiri dari 250 pendongeng profesional dan ribuan penggiat di 200 titik di Indonesia. Relawan ini bergerak aktif mengumpulkan anak-anak untuk membaca dongeng bersama baik di tempat mereka, taman bermain, tempat wisata dan kelurahan. 

Awam Prakoso, pendongeng
Selain mendongeng secara langsung, Kak Awam dan sukarelawan di Kampung Dongeng Indonesia juga memanfaatkan media sosial seperti Youtube dan Instagram.Foto: Privat

Ia mengatakan pembekalan kepada para relawan sangat penting untuk membuat anak menjadi berminat mendengarkan dongeng. Salah satu caranya dengan mendidik relawan agar kreatif. "Selama ini kita mengandalkan tutur kata saja, kita butuh visual juga terutama visual illustrator untuk membuat konten untuk diposting di sosial media," kata dia.

Beragam manfaat dongeng

Salah satu pendongeng yang bernama Suci Yoskarina, 34, menilai kemajuan zaman membuat anak-anak dan orang tua tidak bisa lepas dari gawai. Menurutnya, mendidik anak juga harus menyesuaikan dengan kemajuan zaman.

"Pendongeng juga harus memanfaatkan media sosial yang ada seperti Youtube dan Instagram, minimal kita bisa memberikan pilihan tontonan yang mendidik untuk anak. Kami bikin festival daring, memanfaatkan media yang ada melalui Zoom," kata Suci Yoskarina yang di panggung biasa disapa Kak Bonchie.

Menurut Kak Bonchie, mendongeng punya manfaat sangat banyak terutama bagi anak-anak seperti membuat berbicara anak lebih lancar, kosakata anak lebih banyak, mengenal kata-kata baru untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan membuat anak berimajinasi. 

"Dongeng itu komunikasi dua arah seperti berdiskusi, ngobrol, sehingga membuat anak menjadi lebih kritis akhirnya komunikasi orang tua dan anak terjalin dengan baik," kata Kak Bonchie.

Selain itu, dongeng bisa bercerita tentang tema yang sangat dekat dengan keseharian seperti edukasi soal menabung, menyayangi, tidak boleh tamak, dan nilai budi pekerti lainnya yang kebanyakan tidak didapatkan dari hanya menonton tayangan Youtube.

"Jadi dongeng itu salah satu cara mendidik dengan tidak menyuruh. Anak-anak itu selain butuh bercerita juga butuh didengarkan dan butuh waktu untuk berkomunikasi dengan orang tua," ujar dia.

Ia berharap orang tua mau menciptakan kebersamaan dengan anak, apa pun yang ditonton yang penting kebersamaan. Nanti di situ bisa didiskusikan, atau bisa diselipkan nilai-nilai edukasi di dalamnya.

"Semoga di dalam satu keluarga ada satu pendongeng. Itu idealnya. Tidak harus pendongeng profesional, cukup satu orang dari keluarga yang bisa mendongeng," kata dia. (ae)

 

Kontributor DW, Tria Dianti
Tria Dianti Kontributor DW. Fokusnya pada hubungan internasional, human interest, dan berita headline Indonesia.