1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Beras Emas, Menyehatkan atau Akal-akalan?

Jennifer Fraczek5 Februari 2014

Beras hasil rekayasa genetika dibela kalangan pro sebagai penting bagi kesehatan. Sementara kritik menuding produk tersebut tak lebih dari upaya industri meraup untung dari negara berkembang.

https://p.dw.com/p/1B2Uw
Foto: picture-alliance/dpa/dpaweb

Ahli biologi Peter Beyer dan Ingo Potrykus sukses mengembangkan jenis beras baru yang dinamai Beras Emas sekitar 15 tahun lalu. Kedua ilmuwan memodifikasi beras secara genetis untuk memproduksi dan mengakumulasi provitamin A – atau beta karoten – yang oleh tubuh manusia kemudian diubah menjadi vitamin A.

Beyer, Potrykus dan pendukung lainnya berargumen bahwa bahan makanan pokok ini dapat menyelamatkan nyawa manusia – terutama nyawa anak-anak yang terancam buta karena kekurangan vitamin A atau meninggal akibat penyakit menular seperti campak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, sekitar 250 juta anak di bawah lima tahun di seluruh dunia, menderita kekurangan vitamin A. Setiap tahun hingga 500.000 anak menjadi buta karena malnutrisi tersebut, separuhnya meninggal dunia dalam waktu setahun setelah menderita kebutaan.

Anak-anak dari negara-negara miskin di Afrika dan Asia Tenggara terutama yang paling menderita defisiensi vitamin A.

Dihadang kelompok yang anti

Namun beras hasil rekayasa genetika itu belum bisa dilempar ke pasar karena belum mendapat izin edar. Selain itu Beras Emas sudah banyak menuai kritik. Musim panas 2013, para aktivis merusak lahan di Filipina yang menjadi lokasi uji coba para peneliti.

Pengkritik proyek ini mengatakan mereka sangat meragukan Beras Emas dapat memecahkan masalah kekurangan vitamin A. Mereka yakin bahwa Beras Emas hanyalah akal-akalan pemasaran industri bioteknologi yang ingin menancapkan kakinya di negara-negara berkembang dengan dalih beramal.

Institut Riset Beras Internasional di Filipina juga meneliti Beras Emas
Institut Riset Beras Internasional di Filipina juga meneliti Beras EmasFoto: Noel Celis/AFP/Getty Images

Teori konspirasi

Tudingan semacam itu kerap didengar oleh jurnalis Inggris, Mark Lynas, dalam setiap perdebatan terkait teknik rekayasa genetika. Lynas, yang dulunya penentang teknik ini, sekarang berbalik percaya akan keuntungan Beras Emas.

"Banyak teori konspirasi," katanya. "Pihak penentang selalu berusaha menunjukkan bahwa ada semacam plot jahat industri. Kenyataannya Beras Emas adalah milik publik dan didanai publik."

Namun proyek itu tidak akan jalan tanpa dukungan industri. Pada tahap awal, Beyer dan Potrykus menggandeng perusahaan spesialis benih dan agrokimia, Syngenta, yang juga memegang paten Beras Emas.

Menurut situs Dewan Kemanusiaan Beras Emas, Syngenta tidak lagi mempunyai kepentingan komersial. Bahkan perusahaan mengizinkan petani kecil menanam Beras Emas tanpa harus membayar lisensi.

Minum pil dan bukan makan nasi?

Namun para pengkritik juga mengatakan proyek ini gagal membuktikan bahwa tubuh manusia dapat benar-benar memanfaatkan provitamin A dari jenis beras tadi. Mereka pun mempertanyakan apakah beras masih akan mengandung vitamin setelah disimpan untuk waktu yang lama.

Beras menjadi bahan makanan pokok di sejumlah negara berkembang
Beras menjadi bahan makanan pokok di sejumlah negara berkembangFoto: Fotolia/Addi30

Thilo Bode, pendiri organisasi konsumen Jerman, Foodwatch, mempertanyakan bagaimana memastikan beras ini benar-benar mencapai orang-orang yang sangat membutuhkannya.

"Beras Emas akan diperdagangkan oleh perantara," ungkapnya. "Di Filipina, banyak varietas beras yang juga berwarna kuning. Bagaimana cara memastikan memang 'Beras Emas' yang dijual?"

Saat ini WHO memerangi kekurangan vitamin A dengan terutama mendistribusikan pil vitamin tersebut. Bode mengatakan, tindakan ini merupakan aksi yang tepat, karena secara langsung menjangkau mereka yang menderita kekurangan.

"Distribusinya diorganisir pusat-pusat kesehatan atau pekerja sosial dan tidak melalui makelar swasta," tukasnya.

Tapi Beyer di sisi lain tetap menyangkal, seraya mengatakan langkah WHO itu belum berhasil menyelesaikan masalah.