1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Blatter Bantah FIFA Alami Krisis

31 Mei 2011

Presiden FIFA Sepp Blatter akui tuduhan korupsi merusak citra organisasinya, namun menolak pernyataan bahwa FIFA tengah mengalami krisis terbesar dalam sejarahnya.

https://p.dw.com/p/11RGs
Joseph S. Blatter dalam konferensi pers di Zurich, Swiss, Senin (30/05)Foto: picture-alliance/dpa

Konferensi pers yang digelar Presiden FIFA Sepp Blatter, Senin (30/05) tidak akan mudah dilupakan begitu saja. Tidak seperti biasanya, Blatter tampil sendirian. Ia terkesan percaya diri dan tidak terpengaruh masalah yang tengah menghantam FIFA. Karena menurutnya, masalah tersebut mengada-ada.

"Krisis? Krisis apa? Jika di sini ada yang menjelaskan krisis itu apa, maka saya akan menjawabnya. Sepak bola tidak tengah mengalami krisis. Jika Anda menonton pertandingan final Liga Champions, maka Anda harus bertepuk tangan. Anda melihat pertandingan seperti apa yang berlangsung, apa arti fair play, apa arti kontrol yang baik. Kita tidak tengah mengalami krisis. Kita hanya sedang memiliki beberapa kesulitan dan akan kita temukan jalan keluarnya bersama keluarga FIFA," dikatakan Sepp Blatter.

Blatter dengan gaya elegan membantah tuduhan yang dianggap sebagai skandal terbesar dalam 107 tahun sejarah FIFA. Dari 24 anggota eksekutif FIFA, 10 diantaranya dituduh melakukan penipuan. Reformasi besar-besaran tidak akan terjadi, karena organisasi ini tidak mau kehilangan sedikit kepercayaan yang masih tersisa. Namun, sikap tenang Blatter mulai lenyap di akhir konferensi pers, saat ia dicecar oleh seorang wartawan Jerman tentang masalah komite etika FIFA.

"Saya tidak akan terlibat dalam diskusi dengan orang-orang yang membuat masalah. Saya hanya ingin mengatakan satu hal, yakni masalah sikap. Elegan juga sikap. Respek juga sikap. Ya, ada yang saya pelajari dari masa saya menjadi seorang jurnalis. Saat saya menghadiri konferensi pers yang sudah berakhir, maka saya akan bilang 'Terima kasih'," dikatakan Blatter sebelum meninggalkan kelompok wartawan yang mulai ricuh karena tidak puas akan jawaban yang dilontarkannya.

Para pengamat berpendapat, konferensi pers yang digelar Blatter bukan ditujukan kepada publik, melainkan bagi anggota FIFA yang berkepentingan untuk memberikan suara baginya dalam pemilihan presiden FIFA hari Rabu (01/06). Usai 'penampilan' Blatter, ungkapan tidak puas juga bermunculan dari berbagai organisasi internasional.

Ketua perhimpunan sepak bola Inggris, FA, David Bernstein, mengatakan, pihaknya menuntut agar pemilihan ditunda supaya kandidat reformasi alternatif lainnya memiliki kesempatan untuk bersaing dengan Blatter yang telah menjabat selama 13 tahun. Badan anti korupsi Transparency International telah mengungkapkan hal senada dan mengusulkan agar FIFA membatasi masa jabatan seorang pejabat eksekutif.

Pihak sponsor pun mulai bersuara. Coca-cola dan Adidas, dua perusahaan yang telah lama menjadi mitra FIFA, menyediakan dana, barang, dan layanan jasa untuk mendukung kegiatan FIFA di seluruh dunia. Juru bicara Coca-cola Petro Kacur mengakui, bahwa tuduhan terhadap FIFA mengkhawatirkan dan buruk bagi citra olahraga. Begitu juga juru bicara Adidas yang mengatakan, nada negatif perdebatan publik seputar FIFA tidak baik bagi sepak bola, FIFA dan mitra-mitranya.

Sementara itu dalam kasus FIFA dengan Perhimpunan Sepak Bola Indonesia PSSI, Indonesia diberi kesempatan oleh FIFA untuk kembali menggelar kongres PSSI selambat-lambatnya 30 Juni tahun ini. Kepada ketua komite normalisasi Agum Gumelar, FIFA juga mengatakan agar sengketa PSSI dengan Liga Primer Indonesia harus diselesaikan.

Vidi Legowo-Zipperer/rtr/afp

Editor: Hendra Pasuhuk