1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Blogger dan Aktivis HAM Iran Shiva Nazar Ahari

26 April 2011

Blogger dan aktivis HAM asal Iran, Shiva Nazar Ahari mendapat penghargaan Theodor Haecker untuk keberanian dan integritas di bidang politik, Senin (17/04). Ia terpaksa diwakili karena tidak diijinkan meninggalkan Iran.

https://p.dw.com/p/114Bf
Menschrechtsaktivistin und Bloggerin Shiva Nazar Ahari. Foto: Ramtin Jafari für die Iran-Redaktion
Shiva Nazar AhariFoto: DW

Jika kita tengok kembali orang-orang yang pernah memenangkan penghargaan Theodor Haecker, akan tampak jelas bahwa juri selalu secara cermat dan pintar memilih orang-orang, yang di Jerman mungkin tidak dikenal, tetapi di negara asalnya sangat dihargai dari segi keberanian dan perjuangan bagi hak asasi manusia. Misalnya Shiva Nazar Ahari yang berusia 26 tahun.

Ditangkap, Dihukum, Dipenjara

Aktivis dan penulis blog asal Iran itu sering ditangkap, dijatuhi hukuman dan dipenjara, karena upayanya untuk memperjuangkan hak asasi manusia di Republik Islam itu. Tetapi ia tidak pernah membiarkan dirinya dibungkam, walaupun itu diinginkan banyak musuhnya. Perempuan bertubuh kecil itu mengatakan, di penjara pun ia berusaha berjuang dan mengadakan perlawanan walaupun sulit.

Shiva Nazar Ahari Menschrechtsaktivistin und Bloggerin Shiva Nazar Ahari. Quelle: Wikimedia Commons http://de.wikipedia.org/w/index.php?title=Datei:ShivaNazarahari1.jpg&filetimestamp=20100911113910
Foto: Mehran Afshar Naderi

Ia bercerita, "Akibat catatan-catatan saya di dinding sel penjara, saya selalu ditegur, karena menulis atau menggambari dinding dilarang. Jika saya dipindahkan ke sel lain, saya harus menghapus tulisan saya di sel lama dengan sebuah lap basah. Tetapi ketika saya ditempatkan dalam sel untuk satu orang, saya menulis dengan pasta gigi sampai seluruh dinding sel penuh."

Aktif Lewat Internet

Sejak beberapa tahun lalu, Shiva Nazar Ahari berusaha menarik perhatian dunia internasional atas situasi di negerinya, lewat situs internet "Komite Reporter Hak Asasi" dan "Azad Zan", yang berarti perempuan bebas. Ia bukan hanya dituduh berkomplot, tetapi juga melancarkan propaganda anti pemerintah dan aktivitas politik ilegal. Ia juga dianggap anggota kelompok teror yang dilarang, Mujahidin Rakyat. Yang lebih gawat lagi, ia dituduh Mohareb atau musuh Allah, yang di Iran diancam hukuman mati.

Akhir September tahun lalu ia dapat bebas dari tahanan dengan membayar jaminan. Kemungkinan itu karena popularitasnya yang sangat besar, yang tidak hanya terbatas di Iran saja. Di penjara-penjara saja, katanya, Shiva Nazar Ahari juga disanjung karena keberaniannya. Ini membuat aktivis hak asasi itu senang, tetapi ia juga menyebut hal itu sebagai tanggungjawab besar.

Die 26-jährigen Menschrechtsaktivistin und Bloggerin Shiva Nazar Ahari arbeiet seit 5 Jahren unter anderem für die Straßenkinder und in den Armenviertel der Teheran. Foto: Ramtin Jafari für die Iran-Redaktion
Shiva Nazar Ahari dalam lima tahun terakhir antara lain bekerja demi kepentingan anak-anak jalanan dan di daerah-daerah miskin Teheran.Foto: DW

Ia menjelaskan, “Saya pikir, banyak orang perlu bantuan kita. Terutama tahanan politik, tetapi juga anak-anak. Atau di manapun kita berada, orang sangat membutuhkan kita. Orang-orang sering berkata, kami hanya punya Tuhan dan kalian. Mereka tidak punya siapapun kecuali kita. Saya yakin, perkiraan mereka terlalu tinggi tentang kita, dan mereka percaya, kita dapat melakukan banyak buat mereka."

Pencegahan Hukuman?

Hukuman yang terakhir dijatuhkan kepadanya adalah empat tahun penjara dan hukuman cambuk 74 kali. Kapan hukuman itu akan dilaksanakan saat ini belum jelas. Tetapi penghargaan internasional seperti di Esslingen mungkin dapat menunda pelaksanaan hukuman itu, atau bahkan mencegahnya. Karena popularitas Shiva Nazar Ahari menjadi senjata terkuat di Iran, yang menjadi negara dengan peringkat tertinggi dalam hal penjatuhan hukuman bagi wartawan dan blogger.

Shiva Nazar Ahari tidak dapat menerima penghargaan Theodor Haecker, karena ia dikenai larangan keluar dari Iran. Parisa Kakaee, psikolog dan aktivis hak asasi asal Iran yang tinggal di Berlin, akan mewakilinya menerima penghargaan itu di Esslingen.

Ulrich Pick / Marjory Linardy

Editor: Edith Koesoemawiria