1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Chip Bacakan Informasi Bagi Tuna Netra

Maximilian Grosser8 Maret 2013

Smartphone awalnya tidak berguna bagi tuna netra karena menggunakan layar sentuh. Kini, berkat software cerdas dan chip khusus, ponsel cerdas bisa membantu kaum tuna netra dalam kehidupan sehari-hari.

https://p.dw.com/p/17stc
Foto: DW/M. Grosser

Salah satu aplikasi yang membantu tuna netra adalah "Mindtags". Program ini berfungsi seperti "juru bisik". Mindtags memberi suara bagi chip eletronik yang ditempelkan pada barang seperti papan informasi, penunjuk jalan atau kardus kemasan. Erich Thurner yang mengembangkan "Mindtags" bersama koleganya, juga seorang tuna netra. Daya penglihatannya hanya tinggal satu persen.

Baju 'Berbicara' Berkat NFC

Setiap pagi, aplikasi smartpone tersebut, membantunya menemukan pakaian yang sesuai. Untuk itu ia menggerakkan smartphonenya ke dekat label pakaian. Di label tersebut ada chip dalam bentuk kancing kecil yang memiliki informasi yang dibutuhkan Thurner. Dari ponselnya akan terdengar suara perempuan yang dengan nada datar melaporakan: "Kaos, kuning, lengan pendek." Atau: "Celana jeans, biru." Pakaian Thurner bisa "beribicara" berkat kancing elektronik dan ponselnya.

Teknologi yang digunakan Thurner bernama Near Field Communication (NFC) yang sebenarnya berfungsi untuk bisa membayar lewat ponsel tanpa uang tunai. Tapi NFC tidak dibatasi penggunaanya dan pengembangannya tersedia gratis bagi para programer. Jika ponsel mengenali chip transponder, maka sinyal akan dikirimkan ke chip, dan chip mengirim informasi yang tersimpan kembali ke ponsel. Kalau ponsel tersambung dengan internet, maka informasi tambahan yang berada di server lain bisa diketahui.

Mindtags Smartphone Software für Blinde
Chip NFC bisa dipasang di gelang, gantungan kunci, kancing dan gambar tempelFoto: DW/M. Grosser

Berkat aplikasi "Mindtags", informasi teks atau audio bukan lagi masalah bagi kaum tuna netra. Keuntungan lain dari chip NFC bagi tuna netra adalah, sebagai gambar tempel, kancing atau kartu chip, benda ini mudah teraba. Chip ini bisa dipasang pada CD, buku atau kemasan obat. "Sangat berguna bagi lemari obat saya. Karena di kemasan hanya nama obat yang tertera dalam huruf braille. Tapi tidak ada keterangan produk, batas waktu pemakaian, atau dosis", ujar Thurner.

Proyek Masa Depan "Mindtags"

NFC tidak hanya menarik bagi individu. Museum pun mulai melirik teknologi ini. Harga satu NFC hanya 1 Euro atau sekitar 12.000 Rupiah. Jadi ini peluang murah untuk memperbaiki pelayanan bagi pengunjung museum. Ilmuwan Regina Franken-Wendelsdorf tengah menggarap proyek bagi Pergamonmuseum di Berlin. Ia ingin memungkinkan pengunjung museum yang tuna netra agar bisa turut menyimak film, wawancara dan tawaran khusus lainnya langsung di hadapan barang pameran lewat teknologi gelombang melalui ponsel atau tablet.

Tapi sebelum proyek museum dan penerapan lain terwujud, "Mindtags" masih harus mengatasi beberapa masalah. Jangkauan chip NFC baru maksimal dari jarak empat sentimeter. Data yang lebih rumit kebanyakan berasal dari internet smartphone. Namun, sambungan internet murah atau gratis tidak selalu ada. Tapi Thurner optimis. Menurutnya, masalah ini pasti bisa ditangani lebih mudah, dibandingkan rintangan yang harus dihadapi kaum tuna netra setiap harinya.