1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiCina

Cina Produksi Teknologi Hijau Secara Berlebihan?

11 April 2024

Cina hadapi menghadapi sentimen negara-negara Barat atas praktik subsidi besar dan ekspornya agresif. AS dan UE berupaya menjaga sektor energi ramah lingkungan mereka tidak tersapu oleh persaingan tidak sehat.

https://p.dw.com/p/4ee0N
Pabrik di Cina
Ekspor kendaraan listrik Cina ke Eropa melonjak karena harga lebih murahFoto: VCG/imago images

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen memperingatkan Cina akhir pekan lalu agar tidak memproduksi sektor energi bersih secara berlebihan, seperti produk panel surya, turbin angin, dan kendaraan listrik (EV), yang ditujukan untuk memperlambat perubahan iklim.

Dalam kunjungannya ke Cina, Yellen mengatakan bahwa praktik-praktik perdagangan yang tidak adil di negara itu, seperti membuang produk-produk murah secara artifisial ke pasar global, adalah ancaman bagi bisnis dan lapangan kerja di AS.

Washington sedang mempertimbangkan untuk memberlakukan tarif yang lebih tinggi dan menutup celah perdagangan, jika Beijing mempertahankan kebijakan yang berlaku saat ini.

Perusahaan-perusahaan Cina sering kali melemahkan pesaingnya di negara Barat karena berbagai alasan, termasuk tenaga kerja yang lebih murah dan skala ekonomi. Namun, perusahaan di Cina juga mendapatkan keuntungan dari insentif yang sangat besar, di mana hal itu membuat saingan-saingan asing menjadi tidak kompetitif. 

Subsidi Cina lebih besar dari angka bantuan negara Barat 

"Subsidi  Cina sangat besar," kata Rolf Langhammer, mantan wakil presiden Institut Kiel untuk Ekonomi Dunia (IfW-Kiel), kepada DW. "Subsidi ini mencakup hampir semua industri dan jauh lebih besar daripada subsidi Uni Eropa (UE) atau AS."

Subsidi industri di Beijing rata-rata tiga sampai empat kali lebih tinggi daripada negara anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), bahkan sampai sembilan kali lipat. Sebuah laporan yang diterbitkan pekan ini oleh IfW-Kiel memperkirakan bahwa subsidi industri di Cina mencapai €221 miliar (sekitar Rp3,8 kuadriliun) atau 1,73% dari produk domestik bruto (PDB) negara itu pada 2019. Studi lain menyebutkan bahwa subsidi tahunan Cina biasanya sekitar 5% dari PDB. 

Laporan IfW-Kiel mengungkapkan bagaimana subsidi Cina untuk perusahaan teknologi ramah lingkungan dalam negeri telah meningkat secara signifikan pada 2022. Produsen mobil listrik terbesar di dunia, BYD, bahkan menerima €2,1 miliar (sekitar Rp36 triliun), dibanding dua tahun sebelumnya yang hanya mendapat €220 juta (sekitarRp3,7 triliun). Dana dukungan untuk pembuat turbin angin Mingyang juga naik dari €20 juta (sekitar Rp343 miliar) menjadi €52 juta (sekitar Rp892 miliar). 

Selain dana bantuan subsidi yang begitu besar, penulis laporan tersebut juga mencatat bahwa produsen Cina mendapat keuntungan dari akses istimewa ke bahan baku penting, transfer teknologi yang dipaksakan, dan lebih sedikit birokrasi dalam negeri daripada pesaing asing mereka. 

REV.olution, mobil dari BYD
BYD menjadi produsen mobil listrik nomor satu di dunia, salah satunya berkat subsidi Cina yang cukup besarFoto: DW

Cina tingkatkan ekspor kendaraan listrik saat permintaan global menurun

"Kegelisahan AS dan Eropa muncul ketika permintaan kendaraan listrik [di Barat] sedikit goyah," kata Brad W. Setser, seorang rekan senior di Dewan Hubungan Luar Negeri, kepada DW. "Kini tampaknya Cina akan menjadi eksportir kendaraan listrik yang lebih besar lagi di masa depan." 

Tahun lalu, Cina berhasil menjual lebih dari 100.000 mobil ke luar negeri, yang sebagian besar merupakan mobil listrik atau hibrida plug-in. Ekspor mobil listrik negara itu meningkat 70% pada 2023 senilai $34,1 miliar (sekitar Rp544 miliar). Eropa adalah penerima terbesar mobil listrik Cina, di mana hampir 40% mobil listrik telah diekspor.

Pada Oktober lalu, Uni Eropa memulai penyelidikan mengenai apakah pihaknya perlu mengenakan tarif yang lebih tinggi pada mobil listrik buatan Cina untuk "mengimbangi subsidi negara dan menyamakan kedudukan."

Brussels saat ini memungut tarif 10% untuk kendaraan buatan Cina. Menurut laporan media, ada kemungkinan tarif 25% retroaktif akan diberlakukan pada awal Juli mendatang. Analis industri mengatakan bahwa langkah ini akan membuat sedan dan SUV Cina berukuran sedang menjadi lebih mahal daripada sedan dan SUV Eropa.

Sementara, Washington telah mengenakan tarif 27% untuk mobil listrik buatan Cina dan juga bersiap untuk menaikkan tarif itu demi mendukung industri otomotif dalam negeri. 

Terlepas dari kekhawatiran atas tarif dan akses masa depan ke pasar Barat, produsen Cina justru bertekad untuk meningkatkan produksinya. Produsen baterai terbesar di dunia, CATL, mengatakan akan terus melanjutkan rencana ekspansi agresifnya. BYD juga mengatakan kepada para investor baru-baru ini bahwa pihaknya telah menargetkan adanya peningkatan penjualan sebesar 20% tahun ini.

Subsidi Beijing mengalir deras

Langhammer mencatat bahwa Barat sebenarnya juga diuntungkan oleh subsidi dari Cina, karena konsumen dapat membeli mobil dengan harga lebih rendah, sementara perusahaan mengakses suku cadang asal Cina  yang juga lebih murah.

Terlepas dari adanya ancaman EV buatan Cina yang lebih murah, beberapa produsen mobil justru skeptis tentang penyelidikan Uni Eropa terhadap subsidi Beijing itu karena perusahaan seperti Volkswagen Jerman dan Tesla AS juga ikut menerima keuntungannya, kata Langhammer. 

"Mereka [produsen mobil Eropa] mengatakan bahwa pihaknya dapat bersaing dengan Cina. Produsen mobil Jerman memiliki seperempat dari investasi asing langsung mereka di Cina dan juga mendapat manfaat dari subsidi Cina dan mereka takut akan adanya pembalasan," kata Langhammer, mengacu pada kemungkinan tindakan balas-membalas yang mungkin dilakukan oleh Beijing, jika tarif Uni Eropa jadi lebih tinggi. 

Washington khawatir bahwa perusahaan-perusahaan Cina akan menggunakan celah dalam kesepakatan perdagangan AS dengan Meksiko dan Kanada, untuk menghindari tarif impor yang lebih tinggi dengan memproduksi mobil listrik bermerek Cina di dua negara tetangga tersebut. Undang-undang baru telah diajukan untuk mengatasi hal tersebut.

Krisis tenaga surya menjadi peringatan bagi sektor kendaraan listrik 

Sektor energi hijau Eropa telah terpukul oleh impor panel surya murah dari Cina, yang telah membunuh beberapa industri domestik dan mendorong penyelidikan antisubsidi Uni Eropa. Meski negara-negara UE menetapkan kapasitas tenaga surya yang mencapai rekor tahun lalu, di mana 40% lebih banyak daripada 2022, sebagian besar panel dan suku cadangnya justru berasal dari Cina, menurut data Badan Energi Internasional. 

Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru! 

"Sudah pasti ada kasus bahwa Cina membuang berlebih panel surya di pasar global," kata Setser. "Pabrik-pabrik di Cina memproduksi panel surya dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dari yang digunakan dunia saat ini," yang menurutnya menyebabkan "harga jual yang anjlok." 

Minggu ini, UE mengumumkan sebuah penyelidikan antisubsidi secara terpisah terhadap industri turbin angin asal Cina. Negara itu berupaya untuk mendominasi rantai pasokan global dan merupakan mitra di beberapa pembangkit listrik tenaga angin di Spanyol, Yunani, Perancis, Rumania dan Bulgaria.

Sementara itu, perusahaan kereta api milik negara Cina, CRRC, terpaksa menarik diri dari tawaran resmi di Bulgaria pada Februari, setelah Brussel mengumumkan penyelidikan atas subsidi yang diterimanya dari Beijing. 

Strategi usang Cina untuk mendominasi pasar 

Komisioner Persaingan Usaha Eropa, Margrethe Vestager, menjelaskan strategi Cina dalam mendominasi sektor energi hijau dalam pidatonya di Universitas Princeton pekan ini.

Melihat bagaimana Cina pertama kali menarik investasi asing melalui upaya bersamanya, dia mengatakan bahwa negara itu "tidak selalu berada di atas angin" untuk memperoleh pengetahuan teknologi hijaunya. Cina kemudian menutup pasarnya sendiri untuk perusahaan-perusahaan asing sebelum mengekspor kelebihan kapasitas ke seluruh dunia dengan harga yang lebih rendah dan disubsidi, katanya. 

Turbin angin di Cina
Produsen turbin angin asal Cina juga sedang diselidiki karena subsidi yang dirasa tidak adilFoto: Zhang Zhiwei/Zoonar/picture alliance

Beijing bahkan menuduh AS dan UE menggunakan proteksionisme untuk mencoba menghentikan kemajuan ekonomi Cina. Cina berada di jalur yang tepat untuk menyalip AS sebagai ekonomi terbesar di dunia di medio 2040-an mendatang, dan para pemimpin Cina telah meningkatkan investasi di industri teknologi tingginya.

Namun, para analis berpendapat bahwa Cina tidak akan berhasil tanpa pasar yang kuat dan stabilitas pada produk-produknya, yang seharusnya memberi para pemimpin AS dan UE keunggulan dalam negosiasi dengan Beijing. 

"Kita harus bersiap untuk bersaing keras dengan Cina," kata Langhammer kepada DW. "Untuk mobil listrik dan teknologi ramah lingkungan, AS dan UE adalah pasar luar negeri yang paling penting, dan Cina membutuhkan akses."

(kp/rs)

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.