1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Dien Syamsuddin Kembali Jadi Ketua PP Muhammadyah

7 Juli 2010

Untuk kedua kalinya Dien Syamsuddin, terpilih kembali sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, periode 2010-2015, setelah memperoleh suara mayoritas dalam Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta.

https://p.dw.com/p/OCbK
Muhammadiyah, sebagai oganisasi Islam memiliki massa yang besar di IndonesiaFoto: AP

Terpilihnya kembali Dien Syamsuddin disebut-sebut sebagai kemenangan kubu politik Muhammadiyah melawan kubu kultural, yang didukung antara lain oleh sesepuh Muhammadiyah, Syafii Maarif. Menurut intelektual muda Muhammadiyah, Zuly Qodir meski kemenangan mantan politisi Golkar itu tidak mengejutkan, namun diakui mengkhawatirkan:

“Popularitas Dien Syamsuddin di kalangan daerah dan wilayah luar biasa kuat. Dan artikulasi politik keislamannya mampu menyihir Muktamirin pada saat pembukaan atau di setiap sesi yang ada pidato nya pak Dien. Yang menjadi kekhawatiran banyak pihak adalah, apabila Pak Dien ini tidak terkontrol keinginan-keinginan politik praktisnya sehingga membawa Muhammadiyah pada jalur yang lebih politik praktis, ketimbang membawa pada arah yang lebih kultural; mengembangkan dinamika pembaharuan pemikiran keislaman pada Muhammadiyah yang ditunggu banyak orang.”

Isu politik praktis membayangi pelaksaan Muktamar yang bertepatan dengan satu abad berdirinya organisasi massa yang didirikan KH. Ahmad Dahlan ini. Pemicunya antara lain, dukungan Dien Syamsuddin terhadap salah satu kandidat dalam Pemilu Presiden lalu.

Sejumlah ketua terpilih, bahkan secara khusus digelar pula Tausiyah untuk mengingatkan Dien Syamsuddin agar tidak terlalu partisan dalam urusan politik.

Di pihak lain, pengamat politik Islam, Bahtiar Effendi, menganggap kekhawatiran itu sangat berlebihan. Ia mengingatkan, bahwa Muhammadiyah sesungguhnya telah berpolitik sejak dipimpin oleh Amien Rais, dengan mempelopori berdirinya Partai Amanat Nasional: “Jangan kemudian kita lupa sejarah. Jadi seolah-olah karena Dien Syamsuddin itu mendukung Jusuf Kalla daripada Susilo Bambang Yudhoyono dan kebetulan Jusuf Kalla kalah. Kemudian persoalannya di-blow up, out off proportion seolah olah Muhammadiyah itu hanya benar berpolitik kalau mendukung yang menang. Apa bedanya dengan partai politik kalau begitu. Kalkulasi-kalkulasinya adalah untung rugi, kekuasaan dan bukan prinsip.”

Meski dituding menyeret Muhammadiyah ke jalur politik praktis, namun selama 5 tahun memimpin Muhammadiyah, Dien Syamsuddin juga dianggap berhasil menampilkan wajah Muhammadiyah di dunia Internasional melalui serangkaian forum perdamaian dan dialog antar iman dunia yang digagasnya.

Lantas bagaimana Muhammadiyah dibawah Dien Syamsuddin 5 tahun mendatang? Intelektual muda Muhammadiyah, Zuly Qodir memaparkan : “Saya kira tidak akan banyak perubahan, kecuali misalnya ada orang orang baru dalam Majelis, terutama Majelis Tarjih dan Majelis Tabligh, sebuah Majelis yang sangat strategis dalam Muhammadiyah dipimpin oleh orang yang bukan hanya ulamah atau cendekiawan tetapi saya sebut dengan istilah ulamah atau cendekiawan yang memiliki kenakalan, artinya yang berani melakukan terobosan terobosan kreatif yang dulu tidak berani dilakukan sekarang dilakukan. Nah kalau itu tidak ada, maka tidak akan terjadi perubahan, tapi stagnasi. Dan saya duga kemungkinan kesitu jauh lebih besar daripada kemungkinan perubahan.”

Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta satu abad lalu. Ormas Islam terbesar kedua di Indonesia ini terutama bergerak di bidang sosial, dakwah dan pendidikan dengan mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan dari taman kanak-kanak hingga jejang perguruan tinggi.

Zaki Amrullah

Editor : Ayu Purwaningsih