1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Dokter Tanpa Batas Negara Tidak Kenal Lelah

20 Desember 2011

Organisasi bantuan medis, Dokter Tanpa Batas Negara merayakan hari jadi ke-40. Tugas mereka berlanjut dan salah satunya adalah di Zimbabwe.

https://p.dw.com/p/13WEf
Organisasi Dokter Tanpa Batas Negara di Afghanistan. (Foto: AP)
Organisasi Dokter Tanpa Batas Negara di Afghanistan.Foto: AP

Antrian panjang mengular di RS Murambinda Mission, 200 km dari ibukota Zimbabwe, Harare. Setiap harinya ada ratusan pasien yang datang ke RS itu. Bagi mereka, RS adalah satu-satunya pilihan mendapat layanan kesehatan. Organisasi Dokter Lintas Batas (MSF) baru-baru ini menyelesaikan proyek yang berkaitan dengan pengidap virus HIV/AIDS. Tadinya, tahun 2004, MSF berencana memulai proyek perbaikan gizi di daerah itu. Kemudian para dokter itu menemukan bahwa penyebab kekurangan gizi itu bukanlah kekurangan makanan. Tapi karena sebagian besar orang terinfeksi HIV dan penyakit lainnya, dan tidak menerima perawatan yang memadai. Steven van den Brouke, dokter Belgia yang bekerja untuk Dokter Lintas Batas atau MSF.

"MSF menilai, terdapat kesenjangan, banyak yang tidak menerima pengobatan antiretroviral melawan virus HIV. Tidak ada sistem kesehatan yang mengatur perawatan pasien-pasien ini. Lalu dimulailah proyek HIV/AIDS. Pasien pertama mendapat pengobatan antiretroviral," kata van den Brouke.

MSF memberikan bantuan kemanusiaan di Zimbabwe sejak tahun 2000. Saat itu, Zimbabwe terkena krisis ekonomi. Sistem kesehatan negara itu tidak mampu bertahan di tengah krisis, pemerintah tidak mampu mengalokasikan dana untuk kesehatan. Akibatnya mengerikan, usia harapan hidup di Zimbabwe melorot hingga kurang dari 53 tahun. Dokter Lintas Batas adalah salah satu organisasi yang mencoba membantu. Kini MSF memberikan perawatan bagi lebih dari 40 ribu orang pengidap HIV/AIDS. Tahun 2008, MSF adalah salah satu organisasi yang membantu Zimbabwe ketika wabah kolera melanda Zimbabwe. Wabah itu merenggut nyawa lebih dari 5000 orang dan menjangkiti ribuan orang, sementara itu pemerintah tidak mampu menyediakan air minum yang aman.

James Mutharia, dokter Kenya yang mengepalai proyek Murambinda HIV/AIDS, pernah berada di empat negara Afrika bersama MSF. Ia tahu, walau pun situasi politik tiap negara berbeda, masalah yang dihadapi sistem kesehatan semua negara itu seringkali mirip.

"Paling jamak adalah sebagian besar negara bermasalah dengan pendanaan system kesehatan, akses ke obat-obatan yang cocok dan memadai, hingga masalah kesehatan yang dihadapi tiap harinya," kata Mutharia.

Fasil Tezera, pemimpin organisasi Dokter Lintas Batas di Zimbabwe, senang karena organisasinya merayakan hari jadi ke-40. Pada saat yang sama, ia juga mengkhawatirkan proyek HIV/AIDS MSF kekurangan biaya. Katanya, "Di Zimbabwe, jika tahun depan kami tidak mendapatkan dana tambahan, lebih dari 5000 anak tidak mendapat perawatan. Ini seperti hukuman mati. Imbauan ini ditujukan ke seluruh dunia. Banyak yang berhasil mengatasi HIV/AIDS. Jika kami bisa terus merawat yang satu ini, maka mungkin kami bisa mengatasi endemik ini."

Columbus Mavhunga/Luky Setyarini

Editor: Yuniman Farid