1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Mengatasi Bully, Meraih Cita

1 Januari 2016

Terlahir dengan keterbatasan fisik dan sempat jadi korban bully di sekolah, Muhammad Zulfikar Rakhmat kini berhasil meraih cita-citanya, melakukan studi doktoral di universitas internasional.

https://p.dw.com/p/1HWmK
Muhammad Zulfikar Rakhmat
Foto: privat

Muhammad Zulfikar Rakhmat saat dilahirkan mengalami Ashpyxia Neonatal yakni kekurangan oksigen pada otak yang menyebabkan penderitanya tidak bisa bicara lancar dan kesulitan menggunakan tangannya untuk sejumlah aktivitas. Pemuda Indonesia kelahiran Pati, Jawa Tengah, 10 April 1992 ini menceritakan bagaimana kesulitan yang hadapi sedari kecil hingga bisa mengejar sejumlah cita-citanya, termasuk menjadi penulis di berbagai media, bahkan media internasional. Lulus master dengan nilai sangat baik di jurusan politik internasional di Manchester University Inggris, kini Zulfikar tengah melakukan penelitian doktoral di universitas yang sama, tentang dampak perkembangan negara Asia terhadap perkembangan politik di Timur Tengah.

DW: Kesulitan seperti apa yang Anda rasakan sebagai penderita Ashpyxia Neonatal?

Muhammad Zulfikar Rakhmat (MZR): Saya mengalami berbagai macam bullying, seperti ditertawakan, diejek, dikunci di kamar mandi, gerakan tangan saya yang 'aneh' diperagakan di depan kelas, dll. Yang terparah, ketika seseorang mempertanyakan kemampuan saya untuk mencapai mimpi yang saya miliki. Saat itu, memang saya sempat malas untuk sekolah, karena 'takut.' Tetapi ayah saya selalu berpesan bahwa jika saya tidak mau sekolah, berarti saya membiarkan keterbasan saya menang. Satu-satunya jalan waktu itu adalah membuktikan bahwa kita tidak seperti apa yang mereka katakan dan lebih berharga dari apa yang mereka tertawakan.

DW: Umur 15 Anda pindah ke Qatar, bagaimana perbedaan yang Anda rasakan?

MZR: Alhamdulillah mereka sangat suportif dalam pemberian bantuan untuk penderita keterbatasan seperti saya. Saya selalu diberi waktu tambahan dalam pengerjaan tugas. Terkadang jika penggunaan laptop tidak memungkinkan, saya disediakan seseorang yang akan menuliskannya untuk saya. Tapi yang lebih saya kagumi adalah kondisi pergaulan yang kondusif. Tidak ada 'bullying' seperti yang saya alami di Indonesia. Kami saling memberi dukungan, dan tidak ada 'rasa tidak percaya' terhadap mimpi yang dimiliki seseorang. Mereka percaya bahwa dalam kondisi apapun seseorang bisa menggapai mimpinya jika ada semangat dan kerja keras. Bagi saya fasilitas terbaik yang saya dapatkan adalah dukungan emosional dari teman-teman dan juga pembimbing yang selalu memberikan saya semangat bahwa saya bisa. Sayang sekali hal ini belum banyak terjadi di tanah air. Padahal hal inilah yang membuat kami kaum difabel percaya diri bahwa impian pasti tercapai dengan kondisi apapun.

DW: Dengan keterbatasan itu, bagaimana bisa mengikuti kuliah dan mengatasi kesulitan sehari-hari?

MZR: Karena saya tidak bisa menulis dengan tangan saya harus bawa laptop kemana-mana. Tapi saya tidak pernah menganggap ini sebagai beban, jalani saja - pasti ada jalan. Tuhan tidak pernah membebani hambanya melebihi kemampuan mereka. Mungkin terkadang gaya bicara saya yang gagap membuat orang yang baru saya temui agak kesulitan memahami, tetapi lagi-lagi selalu ada jalan untuk mengatasinya seperti mengulangnya atau menjelaskannya melalui email setelah pertemuan. Dan saya belajar bahwa semakin kita percaya diri dengan kondisi yang kita miliki semakin orang lain akan menerima dan paham dengan kondisi kita. Dan semakin kita malu dan bersikap tertutup, jangan harap orang lain akan peduli atau memahami kondisi yang kita miliki.

Muhammad Zulfikar Rakhmat
Muhammad Zulfikar Rakhmat terus kampanyekan kepedulian terhadap kaum difabel untuk bangkitkan potensi merekaFoto: privat

DW: Kini Tulisan Anda tersebar di berbagai media bahkan media internasional terkemuka. Bagaimana awalnya?

MZR: Saya tertarik pada dunia jurnalistik di tahun ketiga S1 di Universitas Qatar. Pada saat saya ke Indonesia, diajak seorang teman berkunjung ke seorang petani kaya di Jawa Tengah. Beliau tidak pernah sekolah dan tidak tahu apa-apa yang terjadi di dunia luar selain di desanya. Beliau meminta saya bercerita tentang Timur Tengah. Pada saat itu saya bercerita tentang kondisi orang-orang yang terbunuh dan terbuang akibat konflik berkelanjutan di negara-negara mereka. Tiba-tiba saat usai bercerita, beliau memberi saya uang yang jumlahnya cukup besar untuk diberikan ke mereka. Disitu saya tersentuh dan belajar tentang the power of spreading awareness di koran-koran. Setelah itu saya tertarik dengan dunia tulis-menulis. Saya mulai menulis akhir tahun 2013. Saya memutuskan untuk belajar otodidak cara menulis hingga artikel saya pertama kali dipublikasikan oleh sebuah media tentang Timur Tengah yang berbasis di Swedia. Sejak itu saya menulis rutin dan kini hampir 100 artikel sudah diterbitkan oleh beberapa media. Untuk Huffington Post, saya menjadi kontributor tetap sejak bulan November 2014. Konflik di Suriah yang semakin meluas membuat mereka mencari kontributor yang tahu Timur Tengah dan berbahasa Arab. Dan waktu itu dosen saya merekomendasikan saya, karena sudah pernah menerbitkan beberapa tulisan saya. Alhamdulillah, duniaa tulis-menulis juga telah membawa saya ke belahan dunia yang tak pernah saya sangka. Saya pernah dikirim ke Bahrain untuk membuat laporan tentang satu-satunya Sinagoga Yahudi yang ada di Timur Tengah.

DW: Apa cita-cita Anda yang masih ingin dikejar?

MZR: Cita-cita saya banyak, hehehe. Tapi berbicara tentang cita-cita, Bapak saya selalu berpesan bahwa 'siapapun saya nantinya, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain.' Saya ingin menjadi seorang pakar Timur Tengah asal Indonesia yang bisa mempererat tali hubungan keduanya. Saya juga ingin menjadi seorang pengajar - karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar dan mengajarkan ilmunya. Saya juga ingin terus membantu dan memperjuangkan teman-teman yang jg memiliki kebutuhan khusus di Indonesia - apa yang saya dapatkan sekarang adalah hasil dari proses perjalanan dan perjuangan panjang dan saya ingin mengajarkannya pada mereka. Dan dengan apa yang saya dapatkan sampai hari ini, saya merasa punya kewajiban untuk mengajak orang lain untuk mendapatkan hal yang sama atau lebih. Saya ingin mengubah presepsi masyarakat tentang kaum difabel yang selama ini sangatlah buruk. Karena jika presepsi sudah berhasil diubah, maka masyarakat dengan sendirinya sadar dalam penyediaan fasilitas bagi kaum difabel. Saya juga ingin terus bergelut di dunia jurnalistik, karena masih banyak orang-orang yang tidak tahu keadaan di dunia yang sebenarnya, apalagi saat-saat seperti ini dimana banyak media yang tidak mau mengabarkan apa yang tidak sesuai dengan kepentingan-kepentingan mereka. Yang terakhir, belakangan ini ada sekelompok programmer di Indonesia yang ingin membuat beberapa Apps untuk kaum difabel, saya ingin sekali bergabung, menggunakan dan mengasah kemampuan teknologi informatika (IT) saya yang pernah saya pelajari untuk menolong mereka.

DW: Bagaimana menggabungkan dunia sosial dan teknologi seperti yang Anda geluti ini?

MZR: Awalnya saya tidak pernah membayangkan akan belajar ilmu sosial. Sejak kecil, karena keterbatasan fisik, saya dibantu oleh komputer dalam hal tulis-menulis. Sehingga sejak kecil itu pula, saya berteman dengan komputer. Saya mulai belajar programming sejak kelas 4 SD. Saat SMP, juga pernah ikut beberapa komunitas programming dan web design di Indonesia. Bahkan saat SMA kelas 1, saya pernah sempat mengikuti kursus roboting di Carnegie Mellon University. Pada waktu yang sama, saya juga hobi membaca, terutama buku-buku sejarah dan biografi. Kata Ibu saya, meski waktu kecil tidak bisa menulis, kemampuan saya untuk membaca cukup cepat berkembang. Bahkan sebelum masuk TK, saya sudah bisa membaca. Hobi membaca ini membawa saya pada ketertarikan saya dalam dunia politik dan sejarah, dan lain-lain. Terutama sejak saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah menengah atas di Qatar, Saya menjadi seseorang sangat tertarik dengan dunia Timur Tengah. Tapi sampai hari ini, saya masih tertarik di dunia komputer dan ingin terus mengasah kemampuan IT saya, disela-sela waktu saya juga masih suka coding dan mengikuti perkembangan dunia IT.

(ap/as)