1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Erdogan Dekati Putin, Turki Ancam Amerika

9 Agustus 2016

Ketika Presiden Erdogan sedang beramah tamah dengan penguasa Rusia, Vladimir Putin, Ankara memperingatkan AS agar segera mengekstradisi Fethullah Gullen dan tidak "mengorbankan" hubungan kedua negara demi "teroris."

https://p.dw.com/p/1JeWu
Russland Recep Tayyip Erdogan und Wladimir Putin G-20 Türkei 2015
Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT G20 di Turki, 2015.Foto: picture-alliance/dpa/F. Aktas

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, hari Selasa (9/8) terbang ke St. Petersburg untuk menemui Presiden Rusia Vladimir Putin. Kunjungan tersebut diharapkan bisa mengakhiri ketegangan antara kedua negara sejak Turki menembak jatuh pesawat tempur Rusia di Suriah November silam.

Erdogan terutama berharap bisa memulihkan kembali hubungan dagang dengan Rusia. Turki saat ini sedang mengalami kelesuan ekonomi menyusul percobaan kudeta yang gagal. Sejak beberapa bulan lalu Moskow menjatuhkan embargo ekonomi kepada Turki yang berimbas pada neraca perdagangan dan sektor pariwisata.

"Ini akan menjadi kunjungan historis. Sebuah awal yang segar. Saya yakin bab baru akan dibuka selama proses negosiasi dengan sahabat saya Vladimir (Putin)," tutur Erdogan kepada kantor berita Tass.

Namun ketika Erdogan sedang membawa Turki mendekat ke Rusia, Ankara mengancam Amerika Serikat agar tidak "mengorbankan" hubungan baik kedua negara demi "seorang teroris," yakni Fethullah Gulen.

Türkei Erdoganunterstützer in Istanbul gegen Fethullah Gülen
Pendukung Erdogan berdemonstrasi di Ankara menuntut hukuman mati buat Fethullah GulenFoto: Getty Images/AFP/A. Messinis

Pemerintahan Erdogan menuding gerakan Gulen berada di balik upaya kudeta dan sejak itu memecat puluhan ribu pegawai pemerintah yang dianggap simpatisan tokoh kharismatik tersebut.

Kepada awak pers di Ankara Menteri Kehakiman Bekir Bozdag menuntut AS untuk mengekstradisi Gulen tanpa syarat. "Apa yang terjadi seandainya ada percobaan pembunuhan terhadap Obama dan yang bertangggjawab atas itu semua berada di Turki?"

Bozdag mengakui meningkatnya sentimen negatif terhadap Amerika Serikat di Turki sejak percobaan kudeta yang gagal. "Semuanya bergantung pada AS untuk mencegah sentimen anti AS di Turki berkembang menjadi kebencian," imbuhnya.

Hubungan Turki dan AS meregang sejak perang melawan kelompok teror Islamic State di Suriah. Turki yang sekutu AS di NATO berulangkali melancarkan serangan terhadap kelompok Kurdi yang disokong Washington untuk memerangi ISIS.

rzn/yf (dpa,afp)