1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Imunisasi Alzheimer

10 November 2011

Penyakit Alzheimer hingga kini belum eksis gambaran lengkapnya. Diduga penggumpalan substansi otak memainkan peranan utama pada penyakit kehilangan memori ingatan itu.

https://p.dw.com/p/137ak
Foto: picture-alliance / dpa

Dalam uji coba pertama vaksin Alzheimer 10 tahun lalu, beberapa orang responden justru mengembangkan radang selaput otak. Padahal proses perkembangan penyakitnya sudah diketahui. Pada awal penyakit Alzheimer, terbentuk molekul protein A-Beta di otak pasien. Penggumpalan molekulnya menjadi substansi mirip bubur kanji, merusak sel-sel saraf yang pada akhirnya menyebabkan pasien kehilangan memori ingatan.  

Deutschland Wissenschaft Forschung Medizin Forscher sehen Alzheimer als Hirnentwicklungsstörung
Citra jaringan otak yang mengalami gangguan pada penderita Alzheimer.Foto: picture alliance/dpa

Para peneliti Alzheimer ketika itu berharap, dengan memberikan imunisasi, sistem kekebalan tubuh pasien ibaratnya membersihkan sendiri penggumpalan tsb. Tapi ternyata dampak sampingan vaksin Alzheimer itu lebih besar dibanding manfaatnya. Publik memandang eksperimen pertama vaksin Alzheimer 10 tahun lalu itu, sebagai gagal.

Antibodi Berfungsi di Otak

Akan tetapi peneliti otak, Roger Nitsch dari Universitas Zürich, Swiss terus melakukan penelitian selama bertahun-tahun pada pasien Alzheimer. Diketahui, banyak pasien tidak menunjukkan reaksi terhadap imunisasi, karena sistem kekebalan tubuhnya terlalu lemah dan tua untuk dapat bereaksi. Karena itu, peneliti otak dari Swiss itu mengkonsentrasikan penelitiannya pada pasien yang sistem kekebalan tubuhnya masih berfungsi.

“Kami mula-mula mengamati, para pasien yang membentuk antibodi setelah diimunisasi, secara klinis kondisinya menjadi lebih stabil. Dalam arti, stadium lanjut penyakit nyaris tidak ada“, ujar Nitsch.

Nitsch juga dapat meneliti otak pada sejumlah pasien Alzheimer yang meninggal. Mereka yang mendapat imunisasi, terbukti berkurang penggumpalan protein di otaknya dan sel-sel saraf sebagian dapat pulih kembali serta membentuk jaringan baru. Nitsch menyimpulkan, proses itulah yang menjelaskan mengapa kehilangan memori ingatan pasien bersangkutan juga berhenti. 

Nitsch menegaskan :“Dari situ kita sebetulnya dapat mengatakan, mekanisme biologis dari terapi imunisasi berfungsi pada tatanan saraf di otak manusia.“

Imunisasi Pasif

Karena itulah, Nitsch memulai proyek penelitian baru imunisasi Alzheimer. Tapi metodenya bukan lagi imunisasi aktif, yang merangsang pembentukan antibodi pasien. Para peneliti kini menerapkan metode imunisasi pasif. Dalam arti, dipilih antibodi yang paling ampuh, yang selanjutnya diproduksi di laboratorium. Kemudian secara rutin antibodi ini disuntikkan ke tubuh pasien.  

16.12.2009 DW-TV FIT UND GESUND Impfung 1
Imunisasi pasif bagi para penderita Alzheimer.Foto: DW-TV

Roger Nitsch juga mengungkapkan pendekatan lainnya lainnya: “Kami menyoroti masalahnya dari sudut lain. Kita dapat bertanya, mengapa seseorang sakit? Tapi juga bisa bertanya secara berbeda, mengapa seseorang dengan risiko tinggi, dalam arti berusia lanjut, tetap sehat? Kami meneliti populasi semacam itu, yang walaupun berusia lanjut tidak terkena penyakit pikun.”

Meminjam Sistem Kekebalan

Pada darah manula yang sehat itu, para peneliti mencari antibodi terhadap penggumpalan protein di otak yang memicu Alzheimer. Hasilnya, nyaris pada setiap responden dapat ditemukan antibodi yang dicari. Ditarik kesimpulan sementara, bahwa sistem kekebalan orang-orang ini, ibaratnya mampu mencegah serangan penyakit Alzheimer.

Dewasa ini, Roger Nitsch berhasil mengisolasi antibodi yang amat ampuh memerangi Alzheimer itu, dan melakukan uji cobanya pada tikus di laboratorium. “Keunggulan utama dari antibodi manusia ini adalah, probabilitas keamanannya secara mendasar jauh lebih baik, dibanding prosedur yang lainnya. Tapi uji coba klinisnya kini yang akan membuktikan,” lanjut peneliti otak dari Swiss itu.

Jika semua berlangsung bagus dan lancar, para manula yang mengalami kemerosotan memori ingatan, dapat disebutkan bisa meminjam sistem perlindungan Alzheimer dari manula yang sehat. Antibodi manula yang sehat, jika diberikan pada waktu yang tepat, dapat menahan proses penyakit pasien, agar tetap berada pada stadium awal.  

Alzheimer-Patientinnen beim Gedächtnistraining
Para pasien Alzheimer melatih memori ingatan.Foto: dpa

Akan tetapi, yang hingga kini belum jelas, antibodi mana yang paling ampuh berdampak mencegah Alzheimer. Walaupun begitu, sebagian besar penelitian menunjukkan, bahwa eksperimen terapi imunisasi untuk mencegah Alzheimer tahap kedua itu, memiliki harapan cerah dan akan dapat meyakinkan para pejabat di lembaga pengawas serta pemberi izin peredaran obat-obatan baru.

Volkart Wildermuth /Agus Setiawan

Editor : Vidi Legowo-Zipperer