1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Industri Mesin Jerman Mantap di Tengah Krisis

19 Desember 2011

Tingkat permintaan terhadap mesin buatan Jerman tergolong tinggi. Tigaperempat total produksi mesin Jerman lari ke ekspor. Produsen baja ThyssenKrupp dan pembuat peralatan mesin Gildemeister sukses meraup laba tahun ini.

https://p.dw.com/p/13Vnx
Industri mesin Jerman
Industri mesin Jerman

Dengan tingginya level permintaan, para produsen mesin Jerman dapat menyongsong tahun baru dengan optimis. Meski pada kenyataannya laju pertumbuhan menurun. Ralph Wiechers, ekonom senior dari Asosiasi Manufaktur Mesin dan Pabrik Jerman (VDMA), menilai ini antara lain karena tingginya pertumbuhan tahun lalu.

"Di sini terlihat dampak pengereman sejumlah negara ambang industri. Sebagai contoh, Cina yang sudah memperketat kebijakan moneter, baru-baru ini mengendurkannya lagi. Ini berdampak ke ekspor Jerman. Kedua, permintaan bagi produk-produk investasi seperti mesin, peralatan dan pabrik. Kita juga tidak boleh lupa bahwa sejumlah negara dalam krisis ini tidak mampu bertahan seperti Jerman," jelas Wiechers.

Perlahan membaik

VDMA memprediksi tahun ini akan ditutup dengan peningkatan produksi sebanyak 14 persen menjadi 188 miliar Euro. Di tahun 2012, level produksi ditargetkan kembali meningkat.

Ralph Wiechers
Ralph WiechersFoto: VDMA

"Prediksi kami, tahun depan akan meningkat 4 persen. Ini cukup ambisius, karena saat ini masih banyak tertutupi dari pesanan-pesanan lampau. Tentunya masih banyak juga ketidakpastian yang harus dipertimbangkan," ujar Wiechers.

Belum lagi pertimbangan lainnya seperti laju pemulihan ekonomi yang begitu cepat. Setidaknya menurut Ulrich Reifenhäuser, yang mengepalai perusahaan produsen mesin plastik berkualitas tinggi untuk membungkus makanan. Menurutnya, peningkatan yang terjadi di tahun 2011 tidak mungkin terjadi tanpa adanya kemunduran ekonomi global di tahun 2009.

"Saat itu benar-benar terasa seperti gerhana matahari. Bisnis mati. Kemunduran yang luar biasa. Sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi. Tapi jadinya kemajuan seperti sekarang ini juga luar biasa."

Harus unik

Reifenhäuser yang bermarkas di Troisdorf tahun ini genap berdiri selama satu abad. Berawal dari bengkel pandai besi, kini sudah menjadi pemain global. Hebatnya lagi, di tengah zaman merger dan akuisisi, perusahaan mesin ini masih dikelola keluarga turun-temurun selama 3 generasi. Sebagai perusahaan skala menengah, Reifenhäuser yakin mampu bertahan di tingkat global meski ramai persaingan.

Mesin pertambangan produksi Jerman
Mesin pertambangan produksi JermanFoto: DW

"Kalau punya strategi yang jelas, target jelas, jika tahu mau kemana, menarget ceruk pasar yang jelas, maka tidak hanya bisa cukup sukses, tapi bisa berhasil sebagai pimpinan pasar. Kami menarget ceruk pasar, dan kami berhasil," pungkas Reifenhäuser.

Di tengah krisis utang dan pertumbuhan ekonomi yang lamban, industri mesin Jerman kelihatan tetap tenang. Kembali Ralph Wiechers, "Di sejumlah sektor sudah terlihat dampak perlambatan ekonomi. Seperti areal pergudangan, degradasinya begitu terlihat. Seperti di sektor baja atau industri lainnya, seperti industri mesin yang memproduksi suku cadang ataupun komponen, melihat ketidakpastian dari pelanggan, otomatis mengurangi persediaan di gudang. Baru nanti memesan suku cadang baru. Benar-benar terlihat di industri ini."

Kendala politik

Banyak pelanggan Reifenhäuser yang memberi aura ketidakpastian datangnya dari negara-negara zona Euro seperti Spanyol, Italia dan Yunani yang memang pasar penting bagi para produsen Jerman. Pesanan mereka menurun. Para investor harus memilih target yang dinilai lebih positif dan situasi ekonominya harus berfungsi.

Terkadang sulit dimengerti bagaimana pemerintahan di wilayah tersebut menangani keuangan publik dalam beberapa tahun terakhir, bahkan dalam beberapa dekade ke belakang. Ulrich Reifenhäuser, "Saya bisa bilang, kalau saya tidak akan bereaksi sebagai seorang pengusaha. Saya tidak akan masuk dalam situasi utang yang ekstrem seperti sekarang. Terlalu beresiko. Dan kalau bukan negara yang berutang, pasti sudah lama bangkrut."

Monika Lohmüller/Carissa Paramita

Editor: Christa Saloh-Foerster