1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Bawa Internet Dengan Sepeda

Anne Le Touzé18 Juni 2013

Di Bangladesh, Infoladies masuk ke pelosok desa membawa sarana komunikasi modern. Karena kegiatannya, mereka mendapat penghargaan Global Media Forum 2013.

https://p.dw.com/p/18otA
Infolady project wins Global Media Forum award
InfoladyFoto: D.net/Amirul Rajiv

Mahfuza Akter sebenarnya ingin melanjutkan studi ke universitas. Sayang, keluarganya di kawasan Gaibandha, Bangladesh, tidak punya cukup uang. Tapi dia beruntung, karena akhirnya bisa bekerja sebagai "Infolady“. Perempuan berusia 25 tahun itu sekarang bersepeda keluar masuk desa membawa berbagai peralatan teknologi canggih.

Bersepeda dari desa ke desa, Mahfuza menawarkan jasanya kepada mereka yang membutuhkan. Dia membawa sebuah laptop, sebuah kamera digital, modem internet dan seperangkat perlengkapan untuk pelayanan kesehatan.

Sambutan Hangat

Di sebuah desa, Mahfuza Akter sudah ditunggu-tunggu. Seorang wanita misalnya ingin menelpon keluarganya dengan menggunakan Skype. Setelah itu, Mahfuza memberi beberapa petunjuk kepada seorang pemuda yang ingin membuat foto untuk surat lamaran.

Mahfuza mengunjungi seorang kakek untuk mengukur kandungan gula di darahnya. Ia juga mendatangi seorang perempuan yang sedang hamil dan menimbang berat badannya. Kalau perlu, ia akan mendampingi calon ibu itu untuk berkunjung ke kantor pemerintah untuk mengajukan permohonan tunjangan anak. Mahfuza selalu punya waktu dan siap dengan berbagai perlengkapan modern.

Seorang Infolady sedang bekerja
Seorang Infolady sedang bekerjaFoto: D.net/Amirul Rajiv

Untuk jasanya, Mahfuza mendapat bayaran sesuai tarif. Tapi pelanggan sering membayar lebih banyak, Kadang-kadang dia juga mendapat buah-buahan atau diajak makan siang. Pelanggan senang bisa menggunakan fasilitas yang dibawa Mahfuza. Dia sendiri merasa bangga dengan pekerjaanya. „Banyak penduduk desa lebih menghargai seorang Infolady daripada dokter atau guru“, katanya.

Menggapai Kalangan Pinggiran

Di Bangladesh, hanya 5 persen penduduknya yang punya akses ke internet. Di daerah pedesaan, akses makin jarang. „Dengan Infoladies, kami bisa mencapai kalangan pinggiran yang juga butuh informasi, sama seperti orang-orang lain“, kata Hossain Mosharrof, wakil direktur Dnet.

Dnet adalah perusahaan Bangladesh yang fokus pada proyek-proyek sosial yang inovatif. Proyek Infolady dikembangkan tahun 2007. Sasarannya terutama perempuan, orang tua atau orang cacat di kawasan pedesaan. Infoladies bisa menjadi jembatan informasi antara individu dan komunitasnya.

Saat ini ada 70 Infoladies di Bangladesh. Jumlahnya terus bertambah. Perempuan punya akses lebih baik kepada perempuan lain. Hal ini penting di negara Islam konservatif seperti Bangladesh, kata Mosharrof. Jadi memang hanya perempuan yang bisa melakukan pekerjaan ini.

Perlu Ketrampilan

Tidak mudah bagi Mahfuza Akter untuk menjadi Infolady. Ada proses perekrutan yang ketat. Ada ujian kemampuan melakukan moderasi sekaligus memimpin. Seorang Infolady harus melakukan pertemuan berkala dengan para petani atau para calon ibu. Di sana dibahas berbagai hal penting. Misalnya bagaimana mengurus anak bayi, atau apa yang bisa dilakukan petani menghadapi hama tikus.

Kelompok kerja Infoladies
Kelompok kerja InfoladiesFoto: D.net/Amirul Rajiv

Setelah masa pelatihan selama 30 hari dan sepekan orientasi lapangan, Mahfuza bisa mulai bekerja. „Waktu saya memberi gaji pertama kepada ibu saya, dia langsung menangis“. Gaji Mahfuza sekarang sekitar 140 dollar sebulan dan dia bisa menabung.

Proyek Masa Depan

Panitia ajang The Bobs 2013 (http://thebobs.com) yang diselenggarakan Deutsche Welle menetapkan proyek Infolady sebagai pemenang penghargaan Global Media Forum. “Ini proyek yang sekaligus menjadi jembatan sosial, kultural dan digital“, kata anggota juri the Bobs Shahidul Alam.

Perusahaan Dnet punya sasaran ambisius untuk menambah jumlah Infoladies menjadi 12.000 perempuan sampai tahun 2017. Bank Sentral Bangladesh memberi kemudahan kredit kepada para Infoladies, karena menganggap proyek ini inovatif dan punya peluang bisnis. Ada pula rencana menerapkan model ini di negara lain seperti Sri Lanka, Kongo, Ruanda dan Burundi.