1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Inggris Ditantang Sentimen Anti Eropa

21 November 2014

Keunggulan partai anti Eropa Ingris UKIP dalam pemilu regional, menjadi sinyal tanda bahaya bagi partai konservatif yang berkuasa, menghadapi pemilihan nasional tahun depan. Komentar Grahame Lucas.

https://p.dw.com/p/1Dr79
UKIP Wahlplakat Anti EU
Foto: Reuters

Boleh jadi kemenangan partai anti Eropa dan anti imigran UKIP akan menjadi titik balik bagi sejarah Inggris dan Eropa, karena hal itu menggiring Inggris selangkah lebih jauh dari Uni Eropa.

Ada dua faktor yang membuat pemilih beralih ke partai ultra kanan yang anti Eropa dan anti warga asing itu. Pertama, seruan beracun mereka menentang arus imigran dari Eropa timur serta aturan Uni Eropa soal pergerakan bebas dalam pasar internal Eropa. Kedua, meningkatnya ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat serta partai-partai yang mapan di parlemen.

Boleh jadi, jika laju kemenangan UKIP berlanjut pada pemilu nasional bulan Mei tahun depan, mereka akan menolak kerjasama dengan kedua partai mayoritas di parlemen. Pasalnya, partai konservatif ibaratnya sudah menjadi sandera dari kekuatan anti Eropa dalam UKIP.

Sementara partai Buruh, yang posisinya terhadap Eropa selama beberapa dekade tetap mendua, juga harus menjalin koalisi dengan partai kecil lainnya. Partai nasional Skotlandia yang pro-Eropa sudah menegaskan, memfokuskan agenda pada referendum berikutnya kemerdekaan Skotlandia. Sementara partai Demokrat Liberal yang juga pro-Eropa, sudah jelas kalah telak oleh UKIP.

Kini ada dua skenario yang muncul. Inggris keluar dari Uni Eropa. Atau tersisa Inggris kecil, setelah Inggris raya bubar. Apapun yang akan terjadi, dari dua skenario itu, Eropa akan menjadi pecundang, baik secara politik maupun dari sudut ekonomi. Penting untuk dicatat, skenario terburuk itu sulit dihindarkan.

Kini juga terdapat kecenderungan besar, yang menyatakan bahwa Inggris hendaknya diizinkan keluar dari Uni Eropa. Hal itu bisa dimengerti, akan tetapi merupakan kesalahan besar.

Deutsche Welle DW Grahame Lucas
Grahame Lucas pimpinan redaksi South-East Asia DWFoto: DW/P. Henriksen

Pimpinan Eropa perlu mengajak pemerintahan Inggri mendatang, untuk terlibat aktif dalam pembahasan reformasi Eropa. Pasalnya sejumlah kritik warga Inggris memang tepat dan perlu dibahas. Lebih jauh lagi, parlemen Eropa baru-baru ini menunjukkan, ketidak puasan warga lebih berkaitan dengan persepsi kurangnya demokrasi di tatanan Eropa serta pengalihan kekuasaan ke Brussel.

Selain itu, Eropa perlu konsensus secepatnya serta ketegasan dalam sejumlah masalah politik, seperti imigrasi dan pengungsi ekonomi dari timur. Juga masalah sistem jaminan sosial menjadi beban berat. Kendala persaingan di pasar internal juga harus diatasi. Dan yang paling penting dari semua itu, adalah menemukan cara untuk menstimulasi ekonomi di Uni Eropa yang dewasa ini amat melempem.

Kemenangan partai anti Eropa di Inggris disebabkan makin banyak warga yang meyakini, Uni Eropa tidak bisa lagi direformasi. Pemulihan ekonomi Inggris setelah krisis 2008´, juga memberi rasa percaya diri pada warga, Inggris akan lebih baik jika mengurus dirinya sendiri. Ini Juga kesalahan besar.

Sekarang adalah waktu yang tepat bagi Uni Eropa untuk mengangkat dan memperdebatkan isu yang dilontarkan para pengritik Eropa, sekaligus menemukan jawaban yang meyakinkan semua warga Eropa, termasuk rakyat Inggris, bahwa sebuah Uni Eropa yang sukses merupakan kepentingan mereka juga.