1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

IS, ISIS atau ISIL?

7 Desember 2015

Kebrutalan "Islamic State" di Timut Tengah menimbulkan kengerian di seluruh dunia. Namun nama apa yang tepatnya digunakan untuk menyebut kelompok teroris ini?

https://p.dw.com/p/1HIpK
Symbolbild - Islamist
Foto: Colourbox/krbfss

Kelompok itu kerap disebut dengan akronim-akronim yang berdasar pada terjemahan istilah geografis tertentu. Di samping itu ada juga sebutan yang dipakai yang menunjukkan sejauh mana penggunanya ingin menghina kelompok itu.

Ada juga yang menggunakan sebutan lain. Kantor berita Associated Press (AP) dan BBC misalnya, menyebut kelompok teror itu itu sebagai "kelompok Islamic State", untuk membedakannya dari "State" dalam arti negara yang diakui secara internasional.

Islamic State of Iraq (ISI)

Kelompok teroris itu berakar pada kelompok teror Al Qaeda yang berada di Irak. Mereka mencetuskan nama Islamic State of Iraq atau ISI tahun 2006. Tetapi nama itu tidak pernah benar-benar berefek, karena kaum militan tidak berhasil menguasai wilayah tertentu. Tetapi situasi berubah, setelah mereka berhasil mencanangkan kekuasaan dan memperluas wilayahnya ke negara tetangga Suriah. Untuk mencapai itu mereka memanfaatkan situasi kacau-balau di Suriah yang diakibatkan oleh perang saudara.


Islamic State of Iraq and al Sham

Tahun 2013 pemimpin ISI, Abu Bakr al Baghdadi mengubah nama gerakan itu menjadi Islamic State of Iraq and al Sham. Dengan perubahan nama itu ia memberikan isyarat bahwa kelompok terornya sudah bersifat transnasional. Ini juga jadi awal ketidak jelasan tentang bagaimana menyebut mereka.

Al Sham adalah kata arkais yang sudah tidak lazim lagi dipakai. Kata itu kira-kira menggambarkan wilayah yang mencakup kawasan Suriah saat ini, juga Lebanon, Israel, wilayah Palestina dan Yordania. Kata Al Sham biasanya diterjemahkan sebagai "Suriah besar" yang sekarang tidak ada lagi, atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke dalam kata "Levant". Kata tersebut adalah yang paling dekat yang menggambarkan wilayah Al Sham.

Karena sebutan Al Sham atau Levant itu, kelompok teror tersebut dalam bahasa Inggris sering disebut Islamic State of Iraq and the Levant atau disingkat ISIL. Sebutan ini paling sering dipakai oleh pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah badan Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Daesh

Sebutan Daesh awalnya digunakan di kawasan Timur Tengah. Tetapi sekarang kata tersebut juga banyak digunakan di luar Timur Tengah. Kata Daesh tidak punya arti dalam bahasa Arab dan bersifat menghina kelompok tersebut, karena menihilkan upaya mereka untuk mendirikan kekalifatan Islam. Di Timur Tengah juga banyak digunakan kata "Dawaesh", yang merupakan bentuk jamak kata Daesh. Dalam bentuk jamaknya kata itu lebih tidak punya makna lagi. Sejumlah politisi tingkat tinggi, misalnya Presiden Perancis Francois Hollande dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry menggunakan kata Daesh.

Kelompok teror itu sendiri melarang penggunaan kata Daesh di wilayah yang mereka kuasai. Tetapi pengguna bahasa Arab punya cara lain untuk menyebut mereka. Setelah perpecahan dari Al Kaeda yang terjadi tahun 2013, pendukung Al Kaeda menyebut mereka "Kelompok Al Baghdadi". Sebutan itu menggambarkan pandangan mereka terhadap pemimpin IS, Abu Bakr al Baghdadi, yang dinilai pemberontak. Kini warga Suriah yang tinggal di daerah IS menyebut mereka "al-tanzeem". Kata bahasa Arab itu berarti "organisasi."

Islamic State

Ketika IS berhasil menguasai bagian utara dan barat Irak pertengahan tahun 2014, kelompok itu menyatakan berdirinya kekalifatan, dan menghilangkan kata Irak serta Al Sham dari nama mereka. Sekarang kelompok itu menyebut diri "Islamic State" atau hanya Kalifat. Mereka menyebut Libya, Mesir dan wilayah lainnya sebagai provinsi. Misalnya, cabang mereka di semenanjung Sinai, Mesir disebut Provinsi Sinai.

Symbolbild Islamischer Staat Propaganda Video Still
Salah satu foto yang digunakan untuk propaganda oleh kelompok teror Islamic StateFoto: picture-alliance/abaca
Symbolbild Islamischer Staat
Bendera kelompok teror Islamic State berkibar di desa Maryam Begg, Irak (29/09/2014)Foto: picture-alliance/AP Photo/H. Mizban

ml/as (ap, bbc)