1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

IS Ajak Al Qaida "Berjihad" Gempur Rusia

14 Oktober 2015

Islamic State ajak Al Qaida di Suriah lancarkan serangan bersama terhadap Rusia yang makin intensifkan gempuran udaranya. Saat ini Suriah didukung Iran dan Hisbullah dari Libanon siap lancarkan gempuran ke Aleppo.

https://p.dw.com/p/1GnZ1
Russland Syrien Militärhilfe
Foto: picture-alliance/dpa/ITAR-TASS

Islamic State (ISIS) yang kini merasa terancam akibat serangan udara intensif Rusia ke posisinya, mengajak Front al Nusra, sebuah cabang Al Qaida di Suriah yang selama ini jadi musuhnya, untuk bersama "berjihad" melawan Rusia. Disebut-sebut serangan roket ke kedutaan Rusia di Damaskus Selasa (13/10) adalah permulaan perang melawan Rusia. Moskow mengkonfirmasi bahwa kedutaannya di Damaskus diserang roket, tapi menegaskan tidak ada korban jiwa.

Senada dengan ancaman ISIS, afiliasi Al Qaida di Suriah, Front al Nusra juga mengancam Moskow terkait serangan udara yang mereka lancarkan terutama menarget kelompok pemberontak anti Al Assad di utara Suriah. Baik ISIS maupun Al Qaida punya target sama menumbangkan rezim Bashar al Assad, tapi juga terlibat persaingan maut memperebutkan dominasi sebagai "jihadis" sebutan mereka sendiri bagi kelompok ekstrimis di Suriah, di kawasan konflik.

Rusia melaporkan rangkaian serangan udaranya ke tposisi ekstrimis di Suriah dalam 24 jam terakhir berhasil menghancurkan 86 target milik teroris termasuk gudang senjata ISIS. Rusia terutama menggempur kawasan sekitar Hama, Latakia dan Idlib yang jadi kubu pemberontak anti Assad yang sebagian didukung aliansi barat. Juga dilaporkan pasukan darat Suriah didukung milisi Syiah Hisbullah dari Libanon mengkonsentrasikan kekuatan di posisi strategis Sahl al Ghab di persilangan tiga provinsi itu.

Syrien Russischer Luftangriff
Citra udara serangan Rusia ke posisi ekstrimis di Suriah.Foto: picture-alliance/dpa/Russian Defence Ministry Press

Amerika Serikat dan aliansinya mengritik gencarnya serangan udara Rusia ke posisi pemberontak anti Assad yang domotori al Qaida. Washington berkilah mereke adalah "ekstrimis moderat". Menepis hal itu, presiden Rusia Vladimir Putin kembali mengingatkan motto perang melawan terror yang dilansir mantan presiden George W.Bush setelah serangan 11 September 2001, bahwa di dunia ini tidak ada "teroris baik atau teroris jahat".

Menanggapi perkembangan situasi di Suriah yang makin sulit dikontrol itu, Amerika Serikat berusaha mengajak Rusia untuk berdialog membicarakan koordiniasi serangan udara. Sebelumnya Washington ngotot tak mau berdialog. Sebaliknya dari itu, AS menggelar progam pelatihan perang bagi kelompok "ekstrimis moderat" dengan dana 500 juta Dolar. Sebagian ekstrimis itu kemudian menyebrang dengan membawa senjata dan perlengkapan tempur lainnya ke pihak Al Qaida, yang dalam daftar teroris versi AS masih menempati posisi teratas.

Sementara itu memanfaatkan momentum serangan udara Rusia, pasukani Suriah pro-Assad didukung tentara Iran dan milisi Hisbullah dari Libanon siap lancarkan gempuran ke Aleppo yang jadi kubu pemberontak anti-Assad. Di kawasan itu kini berbagai kekuatan bercampur baur, mulai dari ekstrimis dan pemberontak anti Assad, kekuatan militar AS dan Turki serta pasukan yang setia kepada Al Assad didukung aliansinya dari Iran serta Libanon.

as/vlz (rtr,ap,afp,dpa)