1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

190811 Gewalt Nahost

19 Agustus 2011

Eskalasi baru kekerasan di Timur Tengah. Setelah serangan di selatan Israel dengan 8 korban tewas, militer Israel melakukan serangan dengan target Jalur Gaza. Yang tampaknya juga menyebabkan sejumlah korban tewas.

https://p.dw.com/p/12Juy
Konflik di Timur Tengah kembali timbulkan korban tewasFoto: picture alliance/Photoshot

Kamis (18/08) malam angkatan udara Israel melakukan rangkaian aksi serangan di atas Jalur Gaza. Aksi tersebut sudah diumumkan sebelumnya oleh Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak, ketika tiba di kawasan wisata pantai Eliat, yang menjadi sasaran serangan "Dan jika perlu kami akan memperluas aksi serangan balas dendam ini. Kami harus menegaskan, bahwa masih terjadi rencana aksi teror terhadap kami. Kami berada dalam situasi perang terus menerus.“

Menurut keterangan dokter Palestina Kamis malam enam orang tewas akibat aksi militer Israel di Jalur Gaza. Operasi itu ditujukan terhadap anggota kelompok radikal Komite Perlawanan Rakyat. Pimpinannya Kamal al-Nairab menjadi salah satu korbannya. Tadi malam setelah serangan Israel warga Palestina kembali melaporkan korban tewas berikutnya dan juga korban luka.

Penyebabnya adalah serangan Kamis siang terhadap bis turis dan sejumlah mobil di selatan Israel dekat kawasan pantai Eilat, Laut Merah. Banyak korban tewas dan luka-luka, juga akibat ledakan ranjau yang dilintasi kendaraan militer Israel. Hamas yang memerintah di Jalur Gaza membantah keterkaitan dalam rangkaian teror itu.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan siapa yang menyerang Israel akan membayar mahal untuk itu. Ditambahkan Netanyahu, siapapun yang memberi perintah untuk rangkaian serangan tersebut, tidak akan lagi dalam keadaan hidup. Seruan Sekjen PBB Ban Ki Moon untuk menarik pihak bertanggung jawab secepat mungkin ke muka pengadilan, datang terlambat.

Sesaat setelah rangkaian serangan pertama pemerintah Israel juga menyalahkan Mesir. Disampaikan Ehud Barak "Pengawasan Mesir terhadap Sinai semakin lemah sebagai dampak kejadian di Mesir. Sehingga pelaku-pelaku yang kemungkinan berasal dari Jalur Gaza, dapat sampai ke Eilat."

Masih saat Menteri Pertahanan Barak menyampaikan hal itu di depan mikrofon televisi, sirene peringatan kembali terdengar. Di belakang Barak tampak ambulans kembali bergerak untuk penugasan baru. Pelaku serangan berikutnya mengenai dua tentara sehingga luka berat. Insiden itu terjadi sekitar enam jam setelah serangan pertama.

Sementara ini militer Israel menyebut 15 sampai 20 pelaku dalam serangan teror tersebut. Tujuh di antaranya berhasil ditembak, lainnya dapat meloloskan diri. Berjam-jam tentara menyisir kawasan tersebut dalam mencara anggota jaringan teror lainnya.

Menurut Israel Mesir Menjadi Masalah Strategis

Bagi analis teror Ely Karmon, serangan di selatan Israel bukan hal mengejutkan. Serangan berulang kali terhadap pipa gas yang penting bagi Israel merupakan peringatan yang cukup untuk itu. Setelah tergulingnya rezim Mubarak di Mesir ada kekosongan kekuasaan. Ujar Karmon "Mesir menjadi masalah strategis. Dari pandangan Israel masalah perbatasan di selatan mungkin lebih besar dibanding masalah perbatasan di utara dengan Libanon. Menurut saya masalah itu bagi Israel jauh lebih besar di banding masalah dengan Iran."

Kamis (18/08) malam dari Jalur Gaza juga ditembakkan sejumlah roket ke kawasan Israel. Kebanyakan roket tersebut mendarat di Ashkelon di lapangan terbuka, salah satunya berhasil dilumpuhkan oleh sistem penangkal roket otomatis. Sistem itu kini juga akan ditempatkan di Beersheba, di tepi Gurun Negev.

Akhir pekan lalu di Beersheba ribuan warga Israel masih melakukan aksi protes menuntut keadilan sosial lebih besar. Kini seluruh rencana aksi protes untuk akhir pekan depan dibatalkan.

Christian Wagner/Dyan Kostermans

Editor: Pasuhuk