1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Joschka Fischer & 60 Tahun Sejarah Jerman

10 Juni 2011

Dari aktivis menjadi pejabat, Joschka Fischer adalah politikus Jerman yang paling kontroversial. Film karya Pepe Danquart menilik sejarah dari kacamata tokoh partai Hijau itu.

https://p.dw.com/p/11XZy
Foto: X Verleih

Menilik masa lalu bisa dilakukan dengan berbagai cara. Sutradara Pepe Danquart,melakukannya melalui film. Ia mengupasnya dengan menyoroti salah satu tokoh politik Jerman yang paling kontroversial.

Mantan aktivis Joshka Fischer adalah politisi Partai Hijau dari generasi pertama. 1985 ia diangkat sebagai Menteri Lingkungan Hidup. 13 tahun kemudian, ia menjabat Menteri Luar Negeri Jerman. Film Pepe Danquart bernama Joschka dan Herr Fischer. Pekan lalu saya menonton film itu, begini cuplikannya.

Joschka Fischer, sebagai anggota parlemen tahun 1984
Foto: picture alliance / dpa

"Orang tua saya selamanya memilih partai Kristen Demokrat. Mereka beragama Katolik, terusir dari tanah kelahirannya. Sayapun tidak tahu apakah ibu saya pernah memilih saya?“ Begitu cerita lelaki 60 tahun, agak gemuk, berambut putih yang mengenakan jas berwarna gelap. Ia berdiri di tengah gudang temaram yang digantungi beberapa layar kaca.

Layar-layar kaca itu disoroti gambar-gambar arsip sejarah pribadinya dan sejarah Jerman. Film Joschka und Herr Fischer sebenarnya adalah biografi. Namun dalam film 140 menit ini si tokoh yang disorot, justru menyoroti berbagai perkembangan sejarah Jerman.

Kelahiran tahun 1948 dari sebuah keluarga Jerman keturunan Hongaria, Joschka Fischer memperhatikan gambar-gambar yang silih berganti. Ia mengenali pastor di desa kelahiran yang kental atmosfir pasca perang dunia kedua. Ungkapnya, "Menjadi anak keluarga pengungsi betul-betul meninggalkan bekas. Ada perasaan, 'ah sebenarnya kamu bukan bagian komunitas ini!'. Untung saya bisa menerimanya. Kenyataan itu bahkan menjadi sebuah kebebasan tersendiri."

Kebebasan yang selalu diraihnya. Merasa terkungkung oleh pandangan tradisional, tuntutan dan kebiasaan orangtuanya, serta kehidupan masyarakat di desa kecil, Joschka Fischer memilih minggat. Tahun 1968, ia hijrah ke Frankfurt, belajar fotografi dan bergabung dengan aktivis muda yang memang sedang banyak berkeliaran.

Flash-Galerie Film Joschka und Herr Fischer
Foto: Nadja Klier

1968 adalah masa-masa gerakan mahasiswa di Jerman yang penuh gejolak perlawanan terhadap status-quo. Kocek Fischer saat itu memang tipis, tapi ia tak kurang akal. Menjadi supir taksi, membuka toko buku loakan, semua telah dilakukannya. Meski tak lulus SMA, Fischer banyak membaca dan tanpa mendaftar sebagai mahasiswa resmi, ia mengikuti kuliah yang diberikan Adorno dan berbagai guru besar lainnya di Universitas Frankfurt.

Sementara kesadaran politiknya tumbuh di jalanan dalam perdebatan dan demo-demo anti perang Vietnam. "Ketika mulai berdiskusi tentang Vietnam, kami hanya kelompok radikal yang kecil. Jawaban mayoritas orang standar, „gih, pergi aja sana“. Itu jawaban yang paling sopan. Lebih kasar, „kalian seharusnya dikirim ke kamp konsentrasi“. Sering juga terdengar jawaban „kalian seharusnya di-gas.“ Itu yang paling sinis dan kejam."

Pemikiran menolak perang, menyebabkan berkembangnya kesadaran muda-mudi Jerman juga untuk mempertanyakan keterlibatan orang tua mereka dalam tindak keji kaum Nazi di masa perang dunia kedua. Fischer membahas konflik yang berlangsung dari sudut pandangnya. Salah seorang karibnya adalah politisi Daniel Cohn-Bendit yang keturunan Perancis. Menurut Fischer, Cohn-Bendit yang juga seorang filsof adalah orang yang berhasil menjaga agar radikalisme generasinya tidak menjadi ideologis.

Joschka Fischer masuk partai Hijau juga atas desakan Cohn-Bendit, "Bila kita ingin menggerakkan sesuatu secara politis, maka kita seharusnya mengambil perspektif oposisi terhadap yang berkuasa, dan itulah partai Hijau."

Karir politik Fischer melejit. Pidato-pidato Fischer yang kritis dan sarat analisa tajam merupakan salah satu alasan ia terpilih menjadi anggota parlemen pada tahun 1983. Dua tahun kemudian ia keluar dari parlemen dan diangkat sebagai Menteri Lingkungan Hidup di negara bagian Hessen.

Dari aktivis menjadi pejabat, Fischer mengingat masa itu, "Semua yang saya lalukan salah. Semua. Saya tidak tahu, bagaimana cara memerintah dan tidak mengerti inti tema-tema ini. Saya tidak tahu apa-apa tentang administrasi, tidak mengerti ajang politik di tingkat negara bagian. Kebanyakan partai menentang saya. Lalu terjadi bencana Tschernobyl. Saya rasanya sudah hancur-hancuran. "

Film Joschka und Herr Fischer Pepe Danquart
Sutradara Pepe DanquartFoto: Nadja Klier

Menurut Fischer itu masa terburuk karirnya, tapi juga masa yang penuh pelajaran. Setelah itu, ia mengerti bagaimana merealisasi politik dalam kehidupan biasa. Apa artinya menjadi politisi partai Hijau dari kubu realo yang realis, yang harus berhadapan dengan rekan separtai yang menolak segala kompromi. Apalagi ketika ia bersama Kanselir Jerman saat itu Gerhard Schröder tahun 1998 memutuskan untuk mengakhiri perang Yugoslavia secara militer. Pilihan berat ini diambil semata guna menghindari pengusiran, penganiayaan dan pembunuhan massal yang tengah berlangsung.

Untuk lebih jauh menekankan makna berbagai peristiwa sejarah, sutradara Pepe Danquart menyisipkan sepuluh wawancara dengan berbagai tokoh terkenal. "Perang Vietnam, Budaya Pop, The Beatles, Bob Dylan, lalu Rock'n'Roll. Bahkan musik Punk! Semua itu berpengaruh pada pandangan politiknya. "

Digabungkan dalam satu film, Danquart dengan filmnya "Joschka und Herr Fischer" berhasil membuat penonton memikirkan sejarah tanpa rasa bosan. Meski dengan sedikit kesan bahwa Danquart sangat nge-fans pada Fischer.

Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk