1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kesempatan Terakhir G-7 Selamatkan Dunia

Henrik Böhme5 Juni 2015

KTT G7 di Istana Elmau Jerman harusnya memberikan lebih banyak hasil konkrit dan bukan sekedar hingar bingar media. Jerman harus jadi tuan rumah yang baik dengan mendorong penerapannya. Perspektif Henrik Böhme.

https://p.dw.com/p/1Fc2W
Foto: Getty Images/AFP/C. Stache

Kita harus menengok balik pada KTT G-8 di Genoa, Italia 20 Juli 2001. Bersamaan dengan datangnya tamu VIP, berbondong hadir puluhan ribu demonstran yang menuding bahwa klub 8 negara industri maju justru sumber segala kekacauan. G-8 adalah tempat dibesarkannya neo-liberalisme dan bertanggung jawab atas ketidak adilan di dunia.

Polisi Italia yang tidak sabar menembakan peluru tajam yang menewaskan seorang demonstran. KTT terus dilanjutkan, namun tema bahasan tidak lagi jadi agenda penting. Yang jadi pembicaraan utama: KTT G-8 berikutnya harus digelar di tempat tertutup yang aman. KTT Genoa ibaratnya adalah paku pertama yang ditancapkan pada peti mati G-8.

Beberapa tahun kemudian bank investasi Lehman bangkrut. Dunia menghadapi krisis monter besar. G-8 langsung menyadari, klub elite ini tak mampu menangani masalahnya sendirian. Barulah diingat bahwa masih ada Forum G-20 yang selama ini hanya menggelar pertemuan tingkat menteri keuangan. Sontak forum ini didapuk jadi pemadam kebakarannya krisis.

Deutsche Welle Henrik Böhme Chefredaktion GLOBAL Wirtschaft
Henrik Böhme redaktur ekonomi DWFoto: DW

Dalam perjalanan waktu, kelompok 8 negara industri maju G-8 makin kehilangan arti pentingnya. Tahun 2010 digagas KTT ganda di Kanada. G-8 bersama G-20. Tapi hal ini tidak mampu menolong G-8. G-8 muncul dengan profil baru dan memposisikan diri sebagai forum politik luar negeri. Ekonomi dunia di masa depan, nasibnya diserahkan kepada G-20. Tapi dalam klub ini nyaris tidak ada dinamika untuk mengatasi krisis keuangan global, karena kepentingan anggotanya berbeda amat jauh.

Namun G-8 kemudian memposisikan diri sebagai perhimpunan yang berjuang memerangi masalah ketidakadilan pembagian kemakmuran. Setiap KTT G-8 selalu diembel-embeli motto: memerangi kemiskinan, memerangi proteksionisme dan membebani pajak lebih tinggi kepada pemodal.

Hasilnya ibarat tetesan air di batu panas. Realitanya harta kekayaan 80 orang terkaya sedunia terus naik, dari seluruhnya 1,3 menjadi 1,9 Trilyun US Dollar. Berdasar perhitungan organisasi bantuan OXFAM, 80 orang terkaya itu memiliki harta benda setara kekayaan 3,5 milyar warga dunia digabungkan.

Kini situasinya kembali berubah. Rusia didepak dari klub dan hanya tinggal tujuh negara industri maju yang mengurusi nyaris seluruh topik ekonomi dan moneter dunia. Tapi resep ampuh untuk melawan mengguritanya kapitalisme moneter tetap tidak ada. Target yang dicanangkan menjelang KTT G-7 di Jerman juga tetap muluk, yakni memberikan kontribusi konkrit untuk memerangi kemiskinan ekstrim hingga 2030.

Tapi tetap muncul pertanyaan: apakah target ini juga akan diterapkan di klub G-7? Karena itu, KTT kali ini harus menegaskan, inilah kesempatan terakhir untuk memastikan, bahwa G-7 masih layak berstatus sebagai perhimpuan global. Status ini masih layak disandang, hanya jika ke-tujuh negara mampu menyepakati target tegas dalam perlindungan iklim, standar sosial dan kewajiban mereka terhadap perusahaan multinasional di negara masing-masing.

Pilihannya: semua itu bisa jadi prinsip utama bagi G-7 atau semua motto kosong akan diukir pada batu nisan kelompok tersebut.