1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

KTT Iklim Warsawa

Andrea Rönsberg12 November 2013

Tidak ada yang berharap banyak adanya terobosan dari konferensi iklim PBB di Warsawa tahun ini. Tapi tetap saja, konferensi ini adalah jalan menuju kesepakatan iklim global.

https://p.dw.com/p/1AFRc
Foto: Reuters

"Kerugian dan kerusakan", dengan ungkapan ini negosiator menunjukkan isu yang memainkan peran penting dalam konferensi iklim. Ungkapan ini mengacu pada kerusakan atau kerugian yang akan menimpa, akibat perubahan iklim yang tidak dapat dicegah.

“Kita tidak bisa menghindari bahwa kerusakan ini terjadi, cuaca ekstrim seperti kekeringan dan badai adalah akibat dari perubahan iklim," kata Thomas Hirsch, dari organisasi bantuan Brot für die Welt. Ditambahkannya, "Dan tidak dapat mengubah keadaan, bahwa atol atau pulau-pulau kecil akan binasa."

Sebagai contohnya, Hirsch menunjuk Kepulauan Carteret, yang merupakan bagian dari Papua Nugini dan terletak di Pasifik Selatan. "Pulau-pulau telah hilang dalam 25 tahun terakhir, sekitar 60 persen lahan menghilang, dan beberapa pulau-pulau di tengah terpecah-pecah," kata Hirsch dalam sebuah wawancara dengan DW.

UN Klimakonferenz in Warschau 2013
KTT iklim di WarsawaFoto: Reuters

Sekiitar 3.000 penduduk pulau-pulau itu - dalam beberapa tahun terakhir- menuntut pemerintah untuk menampung mereka. Papar Hirsch lebih lanjut, "Tapi tidak ada relokasi, karena pemerintah tidak tahu mau di kemanakan mereka dan juga bagaimanan membiayainya."

Siapa yang akan membayar?

Bagaimana caranya - atau siapa - yang akan membayar kerusakan semacam itu, menjadi jantung perdebatan tentang "kerugian dan kerusakan" akibat perubahan iklim dalam konferensi iklim di Polandia yang berlangsung tanggal 11-22 November tahun ini. Subjek itu sebenarnya juga ada dalam agenda konferensi iklim di Doha tahun lalu.

"Negosiasi soal kerusakan dan kerugian akibat perubahan iklim, kita lihat sebagai fokus untuk pertemuan di Warsawa," demikian ujar negosiator Jerman Nicole Wilke dari Kementerian Lingkungan Hidup Jerman. Tapi ini akan menjadi subjek negosiasi alot di Warsawa, terutama soal mekanismenya.

Negara-negara industri - khususnya Amerika Serikat - ingin menghindari sejauh mungkin untuk masuk ke dalam kewajiban internasional yang mengikat atas kerusakan yang tidak dapat dihitung saat ini.

Di lain pihak, perwakilan negara pulau-pulau kecil yang terancam, atau untuk negara-negara miskin dan berkembang, bagaimanapun membutuhkan komitmen konkrit. "Untuk negara-negara itu, sangat penting bagi mereka melakukan perjalanan ke Warsawa dengan motto yang jelas: mencapai kemajuan di bidang ini, atau gagalkan saja konferensi ini," kata Thomas Hirsch.

Marathon menuju titik sejarah baru?

Perjanjian iklim global yang mulai berlaku pada tahun 2020, akan menjadi masalah kunci lainnya di Warsawa. Pada konferensi di Durban tahun 2011, disepakati bahwa harus ada perjanjian tersebut - yang paling tidak - bisa ditandatangani dalam konferensi tahun 2015 di Paris.

UN Klimakonferenz in Warschau 2013
Delegasi ikut berpartisipasi di KTT Iklim 2013Foto: Reuters

Negosiator Jerman, Nicole Wilke, membandingkan jalan bagi kesepakatan iklim global dengan marathon, "Karena dalam marathon, ada jalur yang sangat panjang di depan saya dan saya perlu ide yang jelas tentang di mana sebenarnya tonggak perjalanan menuju ke tujuan itu, dan di mana –bagai lari maraton - saya bisa mendapatkan sesuatu untuk makan atau minum," katanya. Seperti itu pula yang diharapkan dalam pertemuan di Warsawa ini.

Prospek keberhasilan diragukan

Apakah paa konferensi iklim di Polandia akan berhasil diadopsi peta jalan yang konkrit untuk cara mencapai kesepakatan, itu masih diragukan. Meskipun Panel Internasional Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim IPCC pada akhir September lalu telah menerbitkan laporan iklim dan karena itu harus benar-benar diambil langkah secara serius.

Laporan IPCC (Panel Internasional Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim) telah menemukan bahwa perubahan iklim itu setidaknya 95 persennya adalah hasil perbuatan manusia. IPCC menyatakan bahwa masih mungkin untuk membatasi pemanasan global sampai dua derajat- dengan catatan harus ada langkah-langkah kebijakan drastis dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Namun demikian, patut dipertanyakan apakah peringatan dari para ilmuwan itu cukup untuk memajukan perundingan di Warsawa?

Uni Eropa harus memainkan peran sebagai pelopor," kata Christoph Bals dari organisasi Germanwatch. Namun, dikhawatirkan Uni Eropa tidak bisa memenuhi peran ini. Target Uni Eropa untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 20 persen hingga tahun 2020, sudah "terlalu lemah". Ini tak lepas dari dampak krisis ekonomi.

Kecemasan akan blokade

Negara-negara Uni Eropa, yang telah berulang kali menghindari tujuan yang lebih tinggi untuk pengurangan gas rumah kaca, adalah tuan rumah dalam perundingan tingkat tinggi kali ini, yakni Polandia.

Apa yang disampaikan Menteri Lingkungan Hidup Polandia Marcin Korolec bahwa ia ingin agar perundingan ini mencapai keberhasilan, dianggap oleh para pengamat dari organisasi non pemerintah sebagai bentuk lip service belaka.

Pernyataan itu kerap bertolak belakang dengan penolakan yang dilakukan Korolec dalam setiap pengetatan target iklim Uni Eropa.

Konferensi ini juga terancam oleh blokade dari Rusia, Belarus dan Ukraina, yang di tahap persiapan untuk konferensi di Warsawa dengan berbagai cara melakukan protes, sebagaimana dalam Konferensi Doha yang telah berakhir. Presiden Konferensi saat itu telah mengabaikan keberatan mereka. Sekarang konferensi di Warsawa, mereka akan harus berurusan dengan keberatan ini lagi - sebelum langkah ke depan bisa dilakukan, mereka bisa saja mementahkannya lagi.