1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kuntoro Mangkusubroto: Masyarakat Lokal Adalah Pakar dalam Perlindungan Hutan

15 Desember 2010

Maraknya penebangan hutan, menyebabkan Indonesia menjadi penyumbang emisi karbon nomor empat terbesar di dunia. Harus ada perubahan, tegas ketua satuan tugas program perlindungan hutan Indonesia, Kuntoro Mangkusubroto.

https://p.dw.com/p/QawW
Kuntoro MangkusobrotoFoto: DW/Helle Jeppesen

Dalam Konferensi Iklim yang berlangsung di Cancun, Meksiko pekan lalu, ia hadir untuk mempromosikan proyek ambisius presiden dalam program perlindungan hutan serta mendorong dukungan internasional untuk program pengurangan emisi karbon akibat degradasi dan deforestasi hutan atau REDD di Indonesia.

Kuntoro Mangkusubroto, pria setengah baya ini kerap dipanggil, apabila sebuah pekerjaan besar hampir tidak mungkin terselesaikan. Mantan menteri pertambangan di era reformasi ini, pernah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh & Nias pasca tsunami tahun 2005, sebuah proyek besar yang cukup berhasil. Kini, ia pun ditunjuk sebagai ketua satuan tugas untuk program pengurangan emisi karbon Degradasi dan Deforestasi Hutan atau REDD nasional: “Saya mengikuti konferensi iklim untuk program REDD dan saya melihat bahwa bukan hanya negara lain, namun perwakilan industri dan organisasi internasional juga sangat tertarik atas apa yang terjadi di Indonesia dan kemajuan apa yang sudah dilakukan.”

UN-Klimagipfel in Cancun
Kuntoro MangkusobrotoFoto: DW/Helle Jeppesen

Proyek Perlindungan Hutan

Program REDD nasional atau program pengurangan emisi karbon akibat degradasi dan deforestasi Hutan atau REDD merupakan program yang sangat ambisius. Mangkusubroto mengatakan, lewat program ini, Indonesia akan mengurangi emisi dalam jumlah signifikan hingga tahun 2020: “Kami ingin berkontribusi mengurangi emisi, kami bisa menguranginya hingga 26 persen. Namun dengan dukungan internasional, kami akan mampu mengurangi emisi hingga 41 persen. Ini merupakan sebuah kontribusi besar Indonesia untuk mengurangi emisi global.“´

Masyarakat Lokal Wajib Diikutsertakan

Dengan program REDD ini diupayakan, terutama, agar masyarakat yang hidup di sekitar hutan maupun menggantungkan hidupnya pada hutan, dapat tetap bertahan tanpa harus menebang hutan. Kuntoro Mangkusubroto menandaskan, bahwa masyarakat internasional tidak boleh lupa, bahwa Indonesia merupakan sebuah negara berkembang dan masyarakat adat, yang hidupnya bergantung pada hutan, memiliki hak atas pembangunan sosial dan jaminan keamanan. Untuk itu, dibutuhkan uang: „Bukan penduduk kota yang selama ini menjaga hutan, melainkan masyarakat adat yang hidup di sekitar hutan. Oleh sebab itu dibutuhkan program untuk meningkatkan standar hidup mereka. Bila kondisi mereka buruk, bagaimana mereka bisa menjaga hutan? Oleh karenanya, setiap program lingkungan dan program perlindungan hutan wajib memperhatikan kebutuhan penduduk setempat.“

Demonstranten, Treppe, nach Abschluss der Klimaverhandlungen cancun, Mexiko
Aktivis di KTT Iklim di CancunFoto: DW/Jeppesen

Penduduk lokal, merupakan pakar dalam perlindungan hutan, tandas Kuntoro. Mereka memiliki kepentingan langsung dalam melestarikan hutan, demi keberlangsungan anak cucu mereka nantinya: „Orang-orang ini bertahun-tahun dari generasi ke generasi hidup dengan hutan, mereka tahu persis apa yang mereka butuhkan. Pihak-pihak yang datang dari luar, dan mengeruk uang lewat jalan pintas dengan membabat hutan bertindak melawan kepentingan masyarakat adat. Warga lokal mengetahui betul bagaimana mengelola hutannya, kita harus mendengarkan pengalaman-pengalaman mereka dari generasi ke generasi dalam mengelola hutan,“

Ujar utusan khusus yang ditunjuk presiden untuk program REDD. Masyarakat adat harus dilibatkan dalam pengelolaan sumber daya lokal, karena merekalah yang akan terlebih dahulu terkena dampak perubahan iklim: „Petani-petani kami sudah merasakan dampak dari pemanasan global. Tahun lalu musim penghujan dan musim kemarau kacau balau. Hujan turun sepanjang tahun, sehari hujan, sehari kering. Petani sukar memutuskan kapan sebaiknya waktu menanam. Itu terjadi hingga kini. Perubahan iklim, memang banyak dibahas oleh para intelektual, namun orang-orang kecillah yang banyak mengalami dampak langsung perubahan iklim dalam keseharian mereka dan hidup mereka.“

Helle Jepessen/Ayu Purwaningsih

Editor : Hendra Pasuhuk