1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Lion Air Diminta Latih Pilot

15 Mei 2013

Komite Keselamatan Transpotasi Indonesia merekomendasikan agar Lion Air memberi perhatian pada isu keselamatan dalam pelatihan para pilot. Inilah hasil kesimpulan awal terkait kecelakaan April silam.

https://p.dw.com/p/18Xs7
Foto: Reuters

Laporan itu menunjukkan bahwa orang kedua yang bertanggungjawab, berusia 24 tahun dan memiliki pengalaman terbang 1.200 jam, adalah yang memegang kendali selama pesawat itu mendarat.

Co-Pilot itu mengaku tidak bisa melihat landas pacu saat berada 900 kaki di atas tanah, demikian isi laporan yang dikeluarkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT terkait peristiwa bablasnya pesawat Boeing 737-800 milik Lion Air ke laut saat mendarat di Bali.

Tak bisa lihat landas pacu

Laporan cuaca mengindikasikan bahwa pada saat kejadian tiba-tiba ada masalah kehilangan jarak pandang di wilayah sekitar.

Kapten kemudian mematikan sistem auto-pilot dan orang kedua mengambil alih kendali di ketinggian 150 kaki atau 1 menit 6 detik sebelum kecelakaan, setelah berulangkali mengatakan bahwa ia tidak bisa melihat landas pacu. Satu detik sebelum kecelakaan, pilot memerintahkan untuk melakukan sebuah “putaran” dan mencoba menggagalkan pendaratan namun itu terlambat.

Lion Air tidak bisa dihubungi untuk memberikan pernyataan terkait laporan KNKT. Komite penyelidik kecalakaan ini diharapkan bakal mengeluarkan laporan penuh dalam waktu 12 bulan. 


Perlu latih pilot soal keselamatan

KNKT merekomendasikan agar Lion Air perlu segera menekankan kepada para pilot tentang pentingnya menyesuaikan dengan kepantasan penurunan minimum pada instrumen pendekatan prosedur ketika pilot tidak bisa melihat landas pacu dari ketinggian minimum.

Mereka juga merekomendasikan agar maskapai itu meninjau ulang kebijakan dan prosedur bagi pengambilalihan dari pilot kepada co-pilot pada ketinggian yang dianggap kritis. 

Seluruh 108 penumpang dan kru pesawat selamat, saat pesawat baru Boeing 737-800 milik Lion Air terpeleset dan bablas dari landas pacu bandara Ngurah Rai Bali dan kemudian mendarat di laut dan lalu terbelah, pada 13 April silam.

Seorang sumber yang dekat dengan isu ini mengatakan bulan lalu bahwa pilot Lion Air menggambarkan bagaimana ia merasa pesawat penumpang canggih itu “diseret” ke bawah oleh angina ketika ia berjuang meraih kembali kontrol atas pesawat yang baru dibeli itu.

ab/hp (ap/dpa/rtr)