1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Memanen Bongkah Logam Bernilai Tinggi dari Dasar Laut

Lydia Meyer
5 Mei 2023

Ada harta karun di dasar laut berupa "polymetallic nodules". Bongkah-bongkah logam ini bisa jadi sumber bahan baku baterai, mobil listrik dan panel surya. Tapi memanen nodul ini bisa hancurkan eko sistem lautan.

https://p.dw.com/p/4QwXa
Niederlande Rotterdam | Bohrschiff Hidden Gem der The Metals Company für Tiefseebergbau
Foto: Jochen Tack/IMAGO

Kobalt, tembaga, nikel. Ini semua dikenal sebagai logam transisi. Semua unsur ini ada di sekitar kita, walau dianggap elemen langka. Kita butuh itu semua untuk baterai, ponsel pintar, laptop, mobil listrik, sistem fotovoltaik dan berbagai tipe penyimpanan energi lainnya.

Jumlah tembaga, kobalt dan nikel yang bisa ditambang memang sangat terbatas, dan dalam waktu dekat kemungkinan akan habis. Terutama kobalt. Diperkirakan, permintaaan global atas kobalt bisa meningkat dua kali lipat tahun 2026.

Cebakan kobalt terbesar di bumi diperkirakan ada di Kongo dan Australia. Masalahnya, kondisi pekerja tambang di sana kerap tidak diperhatikan sama sekali. Sedangkan "polymetallic nodules" dari dasar laut bisa jadi solusinya.

Diperkirakan, cadangan keseluruhannya mengandung, 270 juta ton nikel, 230 juta ton tembaga dan 50 juta ton kobalt. Bongkah-bongkah ini tersebar di area dasar laut yang sangat luas, di kedalaman antara 3.500 hingga 6.500 meter. Tepatnya di lingkungan laut dalam yang bisa dibilang tak tersentuh. "Polymetallic nodules" tumbuh sangat lambat dan perlu asupan oksigen terus menerus, demikian pula dengan arus konstan laut dalam Arktika.

Proses bagaimana sebuah bongkah berkembang sangat rumit. Tapi bisa dibilang, awalnya adalah partikel-partikel organik kecil seperti pecahan kulit kerang atau fragmen gigi hiu. Dalam waktu jutaan tahun, komponen metalik diurai oleh air laut di sekitar partikel-partikel itu dan berkembang sekitar satu sentimeter setiap satu juta tahun. Sehingga akhirnya menjadi sebesar kentang atau kembang kol.

Matthias Haeckel, adalah ilmuwan yang berkecimpung dalam proyek Mining Impact. Penemuan pertama "polymetallic nodules" terjadi saat ekspedisi Challenger tahun 1874. Jadi sudah lama sekali. Dan mereka hanya mengambil beberapa sampel sedimen dengan alat yang mereka miliki. Minat ekonomi sendiri baru muncul tahun 1970-an. Orang menemukan kandungani logam-logam langka itu di dalam bongkah. Itulah yang jadi penyulutnya, kemudian eksplorasi dimulai.

Bongkahan Polilogam di Dasar Laut Ibaratnya Buah Simalakama

Iilmuwan bukan satu-satunya yang yang tertarik dengan "polymetallic nodules." Banyak perusahaan juga ingin mengekstrasi dan mengeksploitasi.

Pendukung pertambangan laut dalam mengatakan, mengambil bongkah-bongkah ini dari dasar laut lebih berkelanjutan daripada pertambangan konvensional. Tidak ada hutan yang dihancurkan, dan tidak ada galeri tambang yang harus dibangun. Juga tidak ada buruh anak-anak yang dipekerjakan, demikian pula tidak ada asap beracun. Bongkah-bongkah logam itu bisa diambil dengan mudah. 

Begitu teorinya. Tapi salah satu masalah yang dihadapi para insinyur adalah tekanan tinggi di laut dalam. Sejauh ini, tidak ada mesin yang mampu mendulang bongkah-bongkah tersebut, tanpa perlu biaya besar. Mesin-mesin yang tampak seperti alat penyedot debu raksasa kini sedang diujicoba. Prototipe lain juga sedang dikembangkan. 

Dampak buruk bagi ekologi laut dalam

Kekhawatiran terbesar adalah dampak teknologi ini terhadap kehidupan di laut dalam. Karena saat mesin dioperasikan di dasar laut, mesin tidak hanya akan menyedot bongkah polymetalic.

Timbul pertanyaan juga, siapa yang menetapkan peraturan bagi eksploitasi dasar laut? Jawabannya: organisasi PBB yang disebut International Seabed Authority. Sejauh ini, badan itu telah mengeluarkan lisensi untuk melakukan riset tentang "polymetallic nodules", tapi bukan untuk menambangnya.

Sebuah proyek penelitian Jerman sudah menguji efek penambangan di laut dalam selama beberapa tahun. Pusat penelitian GEOMAR dan Institut Max Planck untuk Mikrobiologi Laut, ikut terlibat dalam proyek itu. Mereka mengungkap, bahwa bongkah mangan itu memainkan peran penting dalam kehidupan fauna dasar laut, yaitu dengan menyediakan habitat bagi banyak organisme laut.

Peneliti "polymetallic nodules" Tanja Stratmann mengungkap, ia dan peneliti lain melihat bahwa banyak dari bongkah yang mengandung mangan ini, bersimbiosis dengan fauna. Yang ditemukan contohnya "glass sponge" yang tampak hampir seperti bunga tulip. Mereka punya batang panjang, dan badannya berada di ujung bagian atas. "Mereka tumbuh melekat pada bongkah mangan, dan bisa jadi tempat tinggal banyak spesies lainnya,” demikian ungkap Stratmann.

Proyek penelitian itu sudah melakukan simulasi efek tambang laut dalam di area seluas beberapa kilometer persegi. Tetapi dimensi pertambangan komersial di laut dalam sangat jauh berbeda.

Pertambangan dasar laut tidak bersifat berkelanjutan

Matthias Haeckel, dari proyek "Mining Impact” mengatakan, yang kita bicarakan di sini adalah ribuan kilometer persegi yang akan dihancurkan setiap tahunnya. Dan efek utamanya adalah: zona aktif biologis, yaitu lapisan paling atas setebal 10 cm, akan sepenuhnya dimusnahkan, dan dihancurkan bersama semua fauna yang hidup di sana. Haeckel menekankan, pemulihan dan rekolonisasi sistem pada sedimen lunak itu akan perlu waktu ratusan bahkan ribuan tahun.

Banyak mikroorganisme laut dalam, juga hewan-hewan, akan terganggu dan dimusnahkan oleh mesin-mesin. Bahkan proyek penelitian yang sangat sederhana juga mengubah lingkungan hidup.

Tanja Stratmann mengemukakan, Kami menduga, lebih dari 25 tahun setelah sampel diambil dan dianalisa, sebagian besar parameter belum kembali pulih sepenuhnya. "Jadi bisa anda bayangkan, jika bongkah-bongkah hilang sepenuhnya, dan bagian yang mungkin akan kembali pulih akan perlu puluhan sampai ratusan tahun untuk pulih. Itupun, jika bisa pulih kembali", begitu ditekankan Stratmann.

Pertambangan bahkan bisa mengganggu rantai makanan yag sangat kompleks di dalam laut. Jadi apakah ada cara untuk membuat pertambangan dasar laut lebih berkelanjutan? Haeckel menjawab, pertambangan dasar laut tidak bersifat berkelanjutan, karena tidak bisa tumbuh kembali. "Jawabannya sesederhana itu," kata Haeckel dan menekankan, "saya rasa, sebagai masyarakat, kita bisa dengan mudah memutuskan apakah kita bersedia menerima dampak ini atau tidak."

Ini sebuah dilema: Jika bongkah "polymetallic nodules" tidak bisa ditambang, dari mana lagi kita bisa memperoleh logam-logam yang dibutuhkan untuk memproduksi energi bersih?

Solusinya:  kita bisa memanfaatkan kembali apa yang kita sudah miliki, yaitu dengan mengeksraksi dan mendaur ulang  logam-logam berharga dari baterai maupun alat elektronik lain yang sudah dibuang. Sejumlah perusahaan sudah mengoptimalkan proses daur ulangnya. Selain itu, kita bisa mengurangi konsumsi dan menggunakan peralatan yang tidak lagi mengandung logam berharga ini. (ml/as)