1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Membagi Daripada Membuang

Marcus Lütticke24 Januari 2013

Di Jerman bahan pangan layak konsumsi dalam jumlah besar dibuang setiap hari ke tempat sampah. Untuk memerangi dan mengubah mental gampangan membuang ini ditawarkan bursa barter di internet.

https://p.dw.com/p/17QFt
Ein Fleischberg, aufgenommen in Hamburg in einer Szene des Kinofilms «Taste the Waste» (undatierte Filmszene). Der Dokumentarfilm, der den Umgang mit Lebensmitteln thematisiert, kommt am Donnerstag (08.09.2011) in die deutschen Kinos. Foto: W-Film (zu dpa-Kinostarts vom 01.09.2011 - ACHTUNG: !!!!!!!!!!!!!!!Verwendung nur für redaktionelle Zwecke im Zusammenhang mit der Berichterstattung über den Film und bei Nennung der Quelle) !!!!!!!!!!!!!!!!! +++(c) dpa - Bildfunk+++
Film Taste the WasteFoto: W-Film

Di Jerman setiap tahunnya rata-rata 80 kilogram bahan pangan dibuang oleh setiap warga. Untuk mengatasi hal itu situs www.foodsharing.de aktif mengajak orang mengubah cara berpikirnya. Berbagi makanan dengan orang tak dikenal, demikian motto tren baru tersebut.

Disebutkan, manusia adalah mesin pembuang yang sesungguhnya. Kita memasak terlalu banyak, menyimpan bahan makanan terlalu banyak, berbelanja terlalu banyak dan tidak mengolah sisa makanan.

Tapi diajukan argumen lainnya : Siapa bilang kita egois. Manusia sudah menemukan kegemaran untuk berbagi. Menggunakan bersama mobil, sepeda, gambar, atau ruang kantor sedang tren. Ekonomi berbagi sesuatu sedang maju pesat sat ini.

Mengapa kini juga tidak mulai melakukan barter makanan. Demikian dasar pemikiran para pencetus gagasan itu. Dan beberapa bulan lalu mereka meluncurkan situs foodsharing.de

Der Journalist und Filmemacher Valentin Thurn - In seinem Film "Taste the Waste" dokumentiert der Journalist unsere Verschwendung von Nahrungsmitteln und geht ihren globalen Auswirkungen nach, aufgenommen am 18.09.2011 in Köln. Foto: Horst Galuschka August 2011).
Sutradara Valentin ThurnFoto: picture-alliance/dpa

Salah seorang pendirinya adalah sutradara film dokumenter kondang Jerman Valentin Thurn. Filmnya "Taste the Waste“ tahun 2011 merupakan kritik terhadap masyarakat yang hidup serba berlebihan dan tidak tahu lagi harga sebutir buah apel.

"Ketika film itu masuk ke bioskop, banyak pengusaha roti kecil yang menelefon kami dan menanyakan, apa yang kini bisa mereka lakukan dengan roti-roti yang banyak tersisa,“ kata Thurn. Dari situlah muncul gagasan foodsharing.de

Barter Lewat Jejaring

Setiap individu atau perusahaan, dapat mendaftar lewat online dan memesan keranjang makanannya, dimana ia bisa menuliskan barang-barang yang tidak ia butuhkan dan menawarkannya cuma-cuma kepada orang lain. Apa barangnya dan di kota mana keranjang itu siap diambil bisa ditemukan di situs internet dengan bantuan peta interaktif.

Lalu akan dilakukan pertukaran e-mail untuk menentukan titik pertemuan, dan barter secara elektronis disepakati. Siapa yang tidak ingin mengundang orang tidak dikenal datang ke rumahnya, dapat menitipkan barang-barang itu di Foodsharing-Hotspot. Kedengaran modern, tapi itu hanya sebuah lemari sederhana di tengah kota, dimana orang-orang dapat membawa bahan pangannya ke situ atau juga mengambilnya.

ARCHIV - Lebensmittel liegen in einer Mülltonne bei Frankfurt am Main (Illustration), aufgenommen am 04.06.2008). Bis zu 20 Millionen Tonnen Lebensmittel sollen in Deutschland jährlich im Müll landen. Oft ist das Mindesthaltbarkeitsdatum noch gar nicht erreicht. Foto: Frank May dpa +++(c) dpa - Bildfunk+++
Makanan yang dibuangFoto: picture-alliance/dpa

"Jika saya harus menyusuri seluruh kota untuk memperoleh satu kg kentang, manfaat ekologisnya hilang,” demikian pandangan Valentin Thurn. "Karena itu kami ingin punya anggota 10 kali lebih banyak. Dan itu akan berfungsi seperti tetangga.“ Sasaran itu dengan cepat tercapai. Paling tidak platform itu dalam empat pekan sudah memiliki 5.000 anggota.

Berpikir Sebelum Membeli dan Menikmati

"Saya punya Bubuk-Propolis, yang diproduksi dari lebah dan dikenal sebagai obat alami, yang suatu hari pernah saya beli. Tapi tak lama kemudian saya menyadari bahwa saya alergi terhadap itu,“ jelas Ute Kost, seorang pegawai jasa pelayanan publik.

"Karena harga bubuk itu sangat mahal, maka saya memutuskan untuk menawarkannya di foodsharing.de. Karena terlalu sayang untuk membuangnya. (Harga 1 kg Bubuk Propolis 110 Euro atau sekitar Rp 1,3 juta – red.) Untuk pertama kalinya ia menawarkan lewt plattform, yang idenya meyakinkan perempuan berusia 40-an itu.

"Saya tidak akan sampai pada ide menawarkan kue tar di situ. Tapi saya tentu akan tetap memanfaatkan jasa online tersebut dan mungkin pergi mengambil sesuatu yang ditawarkan orang lain.“

Sutradara Valentin Thurn juga menawarkan keranjang makanan di platform tersebut. Mula-mula buah apel yang amat enak, tapi tidak tahan lama disimpan. "Saya selalu sadar lingkungan, tapi sebelum saya lebih intensif membahas tema ini, saya menganggap remeh dampak lingkungan dari bahan makanan,“ kata Thurn.

Dia menyadari bahwa ongkos energi yang diperlukan dalam produksi bahan makanan itu amat tinggi. „Produksi bahan pangan kita menyebabkan 30 persen seluruh emisi cemaran lingkungan. Kita tentu saja harus hidup, tapi kita tidak perlu membuang 50 persen bahan makanan itu.“

Ohne Titel, # 17.165, aus: LEBENSMITTE,C-Print, 54,1 x 81,6 cm Veranstalter Berliner Festspiele. Eine Ausstellung des Museum Morsbroich. Ermöglicht durch den Sparkassen-Kulturfonds des Deutschen Sparkassen- und Giroverbandes. Gefördert durch die Kulturstiftung des Bundes. Kurator Markus Heinzelmann Bild geliefert von der Martin-Gropius-Bau Pressestelle für DW/Helen Whittle.
Kemasan makanan sering lebih penting dari isinyaFoto: Michael Schmidt

Kembali ke Alam

Belajar lagi menghargai makanan, mengetahui seberapa besar pekerjaan, tenaga dan usaha untuk memproduksinya, itu semua dapat dipertahankan dalam "runtuhnya budaya makan,“ gagasan Thurn. Tapi masalah utamanya adalah jarak antara kita sebagai konsumen dengan produsen.

"Kita begitu lama terpisah dari kehidupan petani, dari pedesaan, dimana kita lupa apa yang bagus dan apa yang buruk. Siapa yang hidup di pedesaan, mereka mengandalkan panca inderanya dan bisa menilai kapan susu harus dibuang".

Konsumen modern sebaliknya tidak lagi percaya diri untuk hal-hal semacam itu. Jadi mereka mengandalkan tanggal kadaluwarsa, yang tidak ada hubungannya dengan kualitas, melainkan dengan sifat-sifat optis.Demikian pengamatan Thurn. Ia mengkritik "desakan tampilan kosmetis“ yang tidak ada hubungannya dengan rasa, melainkan lebih banyak mengutamakan penampilan dan harga.

Tak Tahu Apa yang Dilakukan

"Sebetulnya tidak ada yang senang membuang sesuatu. Itu seperti sifat alami manusia, yang merasa tidak enak membuang-buang bahan makanan. Itu selalu menjadi dasar kehidupan kita,” kata sutradara film dokumenter Valentin Thurn.

Meski demikian kita melakukannya. "Ya kita membuang makanan, jika sudah melewati tanggal kadaluwarsa. Itu salah, saya tahu itu,“ kata Anna Lumpe, seorang bintang film dari Köln. "Bagi saya jelas, bahwa tanggal itu hanya untuk membela diri saya sendiri, untuk membuang sesuatu yang sebetulnya terlalu banyak saya beli.“

ARCHIV - Eine noch fast volle Packung Toasbrot und ein Schale Kartoffelsalat liegen in einer Mülltonne in Bochum (Foto vom 13.05.2011). Was ist zu tun, damit im wohlhabenden Deutschland nicht so viele Lebensmittel im Müll landen? Eine Untersuchung soll zunächst einmal mehr Klarheit schaffen, wie groß und kompliziert das Problem ist. Bundesverbraucherministerin Ilse Aigner (CSU) legt am Dienstag (13.03.2012) eine Studie zur Lebensmittelverschwendung in Deutschland vor. Foto: Marius Becker dpa (zu dpa 0120 am 13.03.2012) +++(c) dpa - Bildfunk+++
Bahan makanan di tempat sampahFoto: picture-alliance/dpa

Dan Anna Lumpe gembira karena ia menemukan foodsharing.de. Itu sebuah gagasan yang bagus, yang menawarkan alternatif ketimbang membuang makanan.

"Orang tidak perlu bersusah payah. Hal yang mudah: kita memasang sesuatu di situs untuk mengeluarkan sesuatu. Jika kita harus melakukan aktivitas tambahan, misalnya orang harus pergi ke sebuah toko untuk memberikan barang di sana, maka itu akan lebih terasa berat bagi banyak orang,“ tutur perempuan berusia 29 tahun tersebut.

Sebagai rencana berikutnya Thurn dan timnya merancang aplikasi untuk Smartphones. Pengguna dalam perjalanan dari tempat kerja ke rumah dapat cepat melihat apakah seseorang di kawasan tetangga menawarkan keranjang makanan. Jadi masih banyak yang harus dilakukan perusahaan muda itu. “Saya sebetulnya ingin tetap menjadi sutradara, tapi sementara ini foodsharing.de menguras banyak perhatian saya,” ujar Thurn sambil tertawa.