1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialJerman

Jadi Dokter Ahli Bedah Jantung Anak di Jerman: Kerja Keras

Marjory Linardy
31 Desember 2022

Menjadi dokter ahli bedah memang sudah jadi cita-citanya sejak kecil. Tapi Ariawan Purbojo mengakui, jadi dokter ahli bedah jantung anak sangat berat. Meskipun begitu, ia tetap lihat keuntungannya dibanding di Indonesia.

https://p.dw.com/p/4LapM
Ariawan Purbojo
Ariawan PurbojoFoto: privat

Ariawan Purbojo lahir di Pekan Baru, Riau. Dia bercerita, keinginan untuk menjadi dokter ahli bedah muncul karena ayahnya juga seorang dokter ahli bedah. Kuliah S1 di bidang kedokteran ia tempuh di Universitas Airlangga, Surabaya.  

Setelah lulus, dokter Ariawan Purbojo, yang panggilannya Ari, magang di poliklinik kecil di Surabaya. Ketika itu, dokter-dokter yang baru lulus kuliah kedokteran harus kerja di daerah pelosok selama dua atau tiga tahun. Setelah itu, baru boleh mendaftar untuk mengambil spesialisasi. Tapi sebelum dia tamat kuliah, keluar program baru, di mana mahasiswa yang lulus dengan prestasi bagus, bisa langsung mendaftar untuk ikut ujian, untuk mengambil spesialisasi. Jadi setelah setahun kerja, dia mencoba ikut program itu, tapi tidak lulus. 

Karena tidak lulus, salah seorang profesornya menyarankan dia untuk pergi ke Jerman, ke bagian bedah jantung di sebuah rumah sakit di kota Erlangen, negara bagian Bayern. Jadi tahun 1999 dia bertolak ke Jerman untuk mengikuti program spesialisasi. Ia menyelesaikan program itu tahun 2006.  

Dia menjadi apa yang disebut Gastarzt atau dokter tamu. Orang yang berstatus Gastarzt boleh datang dan bekerja di Jerman, tetapi tidak digaji. Saat itu, dia juga pernah mendapat beasiswa dari gereja. Tapi hanya setahun, dan pas-pasan. Untungnya dia kerap berkomunikasi dengan rekan-rekannya, dan menceritakan masalah yang ia hadapi. Rupanya mereka menceritakan itu kepada profesornya. "Setelah setahun, profesor saya mengatakan 'Kamu kerjanya bagus. Udahlah kamu saya jadikan Assistenzarzt [asisten dokter] saja'." Jika berstatus asisten dokter, orang bekerja dan mendapat gaji. 

Sayangnya, waktu dia resmi menjadi asisten dokter, anggarannya sebetulnya belum ada. Sehingga dia hanya mendapat sepertiga dari gaji yang selayaknya ia peroleh. Sebetulnya, karena hanya dibayar sepertiga, dia hanya diharuskan masuk sepertiga dari jam kerja penuh seorang asisten dokter, yaitu 40 jam seminggu. "Tapi karena saya ingin cepat lulus, walaupun cuma digaji sepertiga, saya tetep kerja seperti orang lain," katanya.  

Ketika itu, dia juga lebih banyak melakukan Nachtdienst atau kerja malam. Karena kalau melakukan kerja malam, ada tambahan uang, sehingga akhirnya pemasukannya lumayan mencukupi.  

Dia bercerita juga, kalau di Jerman, jika orang sedang dalam Facharztausbildung, atau pendidikan untuk jadi dokter spesialis, orang juga bisa sekaligus menulis disertasi untuk dapat gelar Doktor. Itulah yang ia lakukan, sehingga masa-masa awal dia bermukim di Jerman adalah masa yang berat.

Bekerja di bagian yang tidak disukai orang lain

Menurut Ari, bagian bedah jantung adalah bagian yang paling tidak disukai oleh orang Jerman. Hanya sedikit yang mau mengambil spesialisasi di bidang ini. "Jadi kalau lihat rumah sakit di sini, yang ada bagian bedah jantungnya, kebanyakan yang kerja orang-orang asing." Penyebabnya adalah, pekerjaannya repot sekali kata Ari. Banyak lemburnya, dan dokter ahli bedah jantung tidak hanya mengoperasi orang saja, melainkan juga harus mengurus pasien di stasiun tempat dia dirawat, di unit perawatan intensif (ICU) dan di bagian intermediate care atau bagian perawatan di antara ICU dan stasiun biasa. 

Selain itu, pekerjaannya memang banyak. Lembur sudah jadi hal biasa. "Walaupun di atas kertas, kita kerja sampai jam 5 sore, ga pernah bisa pulang jam 5. Biasanya sampai jam 7 atau jam 8 malam," begitu dijelaskan Ari. Dia menambahkan, operasi pada jantung tentu tidak mudah. "Biasanya operasi paling tidak tiga sampai empat jam. Kalau kasusnya susah, bisa sampai enam atau delapan jam." Ia mengungkap, kalau harus berjam-jam operasi seperti itu, makan siang juga jadi kurang teratur. Hanya makan sedikit, terus masuk ruang operasi lagi. 

Sore, setelah selesai operasi, para dokter ahli bedah masih harus bekerja di stasiun perawatan pasien. Misalnya mengambil darah pasien, melakukan kunjungan dan sebagainya. Walaupun bekerja sampai delapan jam termasuk normal, dia menambahkan pula, sekarang ada peraturan baru, jam kerja maksimal hanya 12 jam. Setelah itu, harus berhenti bekerja minimal 10 jam. Dulu orang bisa saja bekerja sampai 12 jam, sampai semua selesai. 

Memang bekerja sampai 12 jam ada risikonya, karena orang sudah lelah. "Tapi kalau tidak dikerjakan, nanti urusan pasiennya berantakan semua. Kalau kita tunda, hari berikutnya malah lebih parah lagi pekerjaannya," begitu kata Ari, seraya menambahkan, "dan tentu kasihan pasiennya." 

Beralih ke bedah jantung anak

Dari 1999 sampai 2008, Ari menekuni bidang bedah jantung orang dewasa. Ia berhenti di bagian itu, karena 2008 dibuka bagian bedah jantung anak, dan dia beralih ke bidang itu.

Dia mengungkap, bedah jantung anak juga bidang yang berat dari segi teknis, karena organ tubuh anak-anak berukuran lebih kecil daripada orang dewasa. “Lebih jelimet [rumit],“ kata Ari. Karena semua faktor itu, operasi biasanya berlangsung lama, dan kadang tidak selesai, sehingga harus dilanjutkan lagi. Organ yang akan diperasi juga harus dipreparasikan lagi, karena sudah tidak dalam bentuk aslinya lagi.

Tahun 2021 dia sempat diberitakan koran Jerman, karena melakukan operasi atas seorang anak perempuan bernama Fatima yang berasal dari Suriah. Dia bercerita, Fatima didatangkan oleh koleganya, Dr. Omar Mahmoud yang juga orang Suriah tetapi sudah lama tinggal di Jerman. Ari mengungkap, dokter Mahmoud adalah yang dulu menjabat Oberartz, atau dokter kepala, dan memberikan sokongan bagi dia, ketika baru mulai mengambil spesialisasi di Jerman.

Fatima menderita sakit jantung bawaan yang disebut Tetralogy of Fallot (TOF), yaitu kombinasi empat kelainan jantung. “Misalnya klep atau katup bocor, penyempitan bagian klep, dan lubang antara jantung kanan dan kiri.“ Di Jerman, penyakit itu biasanya sudah terdeteksi di dalam janin. Jadi sudah dipersiapkan, kapan akan dioperasi, dan apa penanggulangan berikutnya.

Fatima bisa dibilang kasus istimewa, karena jarang sekali anak-anak yang punya kelainan jantung seperti itu bisa hidup lama. Kebetulan di Erlangen ada organisasi bantuan bernama Erlangen Hilft atau Erlangen memberikan bantuan, bagi anak-anak dan remaja dari negara-negara yang dilanda krisis, dan tidak dapat mendapat pertolongan di negara mereka. Fatima bisa datang ke Jerman untuk dioperasi dengan bantuan dari organisasi ini.

Birokrasi rumit di Jerman jadi tantangan

Ketika ditanya apa tantangan yang paling besar yang ia hadapi di Jerman, dia awalnya tertawa lirih, kemudian mengatakan, “Birokrasinya sangat rumit di sini. Waktu saya baru dateng ke sini, dapat izinnya susah sekali. Pertama izin dokter, kemudian izin kerja.“ Dia mengemukakan, itu jugalah yang membuat kurangnya tenaga medis di Jerman. Pengakuan ijazah yang sudah diperoleh orang di luar negeri sangat sulit, terutama di bidang medis.

Namun belakangan ini ia dengar situasinya sudah agak membaik, tetapi hanya untuk orang-orang yang berasal dari Eropa, atau kalau kemahirannya memang sesuai dengan apa yang dicari di Jerman.

Menanggapi situasi di Jerman di mana terjadi kekuarangan perawat dan dokter yang parah, ia mengatakan, "Jerman juga salah sendiri, sih, kalau saya bilang." Dia menambahkan, sebetulnya masalah kekurangan dokter dan perawat sudah diketahui sejak dulu. Tapi karena orang Jerman terlalu birokratis, akhirnya perekrutan berjalan sangat lambat.

Dia mengambil contoh perekrutan perawat. Di kota Erlangen tempat dia bekerja, dia sudah melihat banyak perawat dari negara Eropa selatan seperti Spanyol dan Portugal, yang bekerja di sana hanya satu atau dua tahun. "Setelah melihat pekerjaannya terlalu berat, dan gajinya kurang, mereka pergi lagi." 

Di samping perawat yang berasal dari Eropa Selatan, di Jerman juga banyak perawat yang berasal dari Eropa Timur seperti Polandia. "Tapi mereka kurang pengalaman dan pengetahuan dari segi medis," kata Arie. Jadi mereka kebanyakan bekerja sebagai perawat di rumah jompo, atau juga di Pflegeheim, yaitu rumah khusus untuk perawatan orang sakit.  

Ketika ditanya, bagaimana dengan orang Jerman sendiri? Dia menjawab sambil tertawa, "Orang Jerman sendiri udah kapok. Karena melihat jumlah mereka makin sedikit, pekerjaan tambah banyak, harus kerja malam, dan segala macem." Kadang karena jumlah perawat sudah berkurang, yang ada juga diminta untuk bersiaga, walaupun tidak bekerja. Jika diperlukan mereka akan dikontak dan diminta bekerja. Selama hanya "menjaga telepon" mereka tidak mendapat bayaran. 

Tentu saja, akibat dua tahun pandemi Covid-19, situasi perawat lebih kacau-balau lagi. "Akhirnya yang menetap, kalau di sini, perawat yang didatangkan dari Filipina, dari Thailand. Mereka banyakan tetap di sini." Dia mengemukakan, mungkin karena mereka orang Asia, seperti orang Indonesia, mereka merasa solider, karena rekan-rekannya yang sakit tetap harus bekerja.  

Ariawan Purbojo
Ariawan PurbojoFoto: privat

Dia bercerita tentang seorang perawat dari Filipina yang bekerja di Erlangen dengan ditemani putrinya, sementara suaminya tetap berada di Filipina. "Dia pekerjaannya berat, dan masih harus mengirimkan uang ke keluarganya di Filipina. Jadi anaknya kita bantu, misalnya kita kasi sepeda." Apalagi di Jerman memang banyak orang dan anak sekolah, yang menggunakan sepeda untuk kebutuhan transportasi sehari-hari. 

"Yah, begitulah orang Asia," kata Ari lagi sambil tersenyum dan menambahkan, "karena kesempatannya lebih besar juga, ya, untuk orang Asia di sini. Dan orang Asia kerjanya lebih ngotot." Ketika ditanya, bagaimana dengan perawat orang Indonesia, dia mengatakan, di Erlangen dia belum pernah bertemu perawat dari Indonesia. Hanya ada satu dulu yang sudah senior, kemudian pensiun.

Di Jerman dokter tidak perlu mencari pasien

Menurut dia, bedanya bekerja sebagai dokter di Jerman dan di Indonesia adalah: di Jerman seorang dokter hanya bekerja, tidak perlu mencari pasien. Pasienlah yang mencari dokter karena membutuhkan bantuannya. Jadi dokter-dokter di Jerman tidak perlu bersaing untuk mendapat pasien. “Mereka punya pekerjaan tetap, dan kalau itu dilakukan dengan baik, ya jalan terus,“ begitu dikemukakan Ari.

Selain itu, tentu di Jerman orang punya asuransi kesehatan. Sehingga pasien yang mencari bantuan dokter tidak perlu lagi memikirkan berapa ongkos yang harus ia bayar ke dokter nantinya. Sebaliknya, dokter juga memberikan obat dan perawatan tanpa harus memikirkan, apakah pasien itu nanti akan mampu membayar.

Karena dia melewatkan sebagian besar waktunya di rumah sakit, keluarganya jarang bisa melihat dia. Ini tentu juga tantangan. Di sisi lain, ia juga merasa beruntung sudah pindah ke bagian bedah jantung anak, karena di bagian itu tidak ada kerja malam. Namun demikian, dokter tetap harus melakukan Bereitschaft [berada dalam kesiapan], dan “menjaga telepon”.

Setiap hari perlu dua orang yang siap. Ia mengatakan, itu sama sulitnya bagi keluarga. “Karena kalau weekend [akhir pekan] saya harus jaga telepon, kami ga bisa ke mana-mana. Karena kalau saya dipanggil, dalam waktu setengah jam sudah harus ada di klinik.“ Untuk seorang dokter, dalam sebulan, Bereitschaft di akhir pekan biasanya dua kali.

Ari menjelaskan, sehari mereka biasanya mengoperasi sampai dua pasien, dan dalam sekali operasi dibutuhkan tiga orang. Per tahun rumah sakitnya mengurus kira-kira 350 pasien. Dilihat dari statistik, tahun lalu, ada 250 kasus operasi bedah jantung anak, yang memakai mesin Cardiopulmonary bypass  atau mesin pintas jantung paru-paru.

Kalau orang Indonesia lainnya harus belajar untuk menghargai waktu dan tepat waktu di Jerman, Ari mengatakan, “Kalau kami istilahnya, 10 Minuten für einen Chirurg ist anders als für anderen Arzt [10 menit untuk seorang ahli bedah berbeda dengan 10 menit bagi dokter lain],“ kata Ari sambil tertawa. Kalau dokter ahli bedah datang terlambat, memang sudah lumrah, karena pekerjaannya memang repot dan banyak. (ml/yp)