1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Olah Raga untuk Atasi Stress

DK/HP (dpa, dw, afp)31 Desember 2012

Stress sudah menjadi istilah dan seolah menjadi bagian hidup sehari-hari. Dikejar batas waktu menyelesaikan pekerjaan atau kegiatan rumah tangga atau tuntutan prestasi dalam olah raga atau sekolah, menyebabkan stress.

https://p.dw.com/p/17Bcg
Angestrengt sitzt ein Student während der Vorbereitungen zu seinem Examen in einer Bibliothek über seinen Unterlagen und Fachbüchern. (Aufnahme von 2000).
Stress menjelang ujianFoto: picture-alliance/dpa

Stress dapat menyebabkan tidak bersemangat, sulit berkonsentrasi, perut merasa mulas dan perasaan tidak nyaman. Istilah stress dulunya berasal dari istilah penelitian materi dan menggambarkan sikap materi-materi saat mengalami tekanan. Kini istilah stress kita mengerti sebagai rasa terbebani dalam sebuah situasi, jika orang yang bersangkutan memandang adanya masalah, tapi merasa terbatasnya atau kurangnya peluang untuk mengatasi hal itu kurang. Stress adalah tantangan psikis ataupun fisik yang pada saat tertentu kapasitasnya melebihi kemampuan kita untuk mengatasinya.

Tapi stress tidak selalu bersifat negatif. Untuk dapat berfungsi dengan baik, kita memerlukan fase pengaktifan raga dan jiwa. Stress yang bersifat positif atau yang disebut Eustress akan merangsang indra kita tetap aktif, mendorong kemampuan berprestasi dan kreatifitas. Stress semacam ini biasanya tidak dirasakan sebagai beban. Jika misalnya seseorang dalam batas waktu tertentu harus menyelesaikan sesuatu dan ini dilakukannya dengan penuh semangat dan rasa gembira, tekanan semacam ini tidak dirasakan sebagai stress. Meskipun demikian ini juga bentuk stress yang disebut eustress.

Stressed young woman using four laptops Stressing day at the office © Franck Boston #42132794
Simbol gambar beban pekerjaan yang berlebihanFoto: Fotolia/ Franck Boston

Distress dikenal sebagai stress bersifat negatif dengan semua dampak negatif bagi raga, pikiran dan jiwa orang yang bersangkutan. Distress terutama disebabkan faktor dari luar, tapi juga akibat tuntutan prestasi dan tekanan waktu yang diciptakan sendiri oleh penderitanya. Untuk jangka waktu lama distress bisa menjadi burnout. Tapi tidak hanya distress, eustress untuk waktu lama juga tidak sehat.

Kind, Stress, Familie, Impulsivität, Verzweiflung, Ärger Copyright: Fotolia/Nicole Effinger Quelle: fotolia.com #9144941
anak-anak juga bisa terkena stressFoto: Fotolia/Nicole Effinger

Banyak cara yang manjur untuk mengatasi stress sebetulnya demikian pula dalam mencegah pengaruhnya yang buruk. Yakni kesadaran untuk mengubah pikiran dalam tindakan sendiri, menyadari arti kesehatan bagi diri sendiri, meluangkan waktu lebih banyak untuk kebahagiaan jiwa dan berileks diri, bergerak secara teratur, cukup tidur. Namun cara yang mudah dan sudah dikenal ini sulit dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh sebab itu para pakar meminta konsep baru misalnya untuk menu makanan di kantin kantor atau sekolah tapi juga untuk olah raga. Karena tidak setiap orang dapat pergi ke studio fitnes atau tempat-tempat olah raga. Yang lebih optimal adalah tawaran jasa layanan sehari-hari, sedapat mungkin sejak anak-anak. Pakar kesehatan Prof. Ingo Froböse mengatakan

“Ada contoh bagus dari London misalnya. Di sana ada yang disebut walking busses. Yakni bis sekolah bagi anak-anak, tapi tiga halte bis sebelum tujuan anak-anak turun dan bersama-sama berjalan kaki sampai sekolah. Ini suatu kebiasaan yang sungguh berbeda.”

Kebiasaan yang kita lakukan membuat organisme tubuh kita pun terlatih. Organisme tubuh yang telatih, bekerja lebih ekonomis dan efisien dibanding yang tidak terlatih. Berbagai studi menunjukkan olah raga memiliki pengaruh besar terhadap semangat seseorang. Sehingga bagi penderita depresi diberi terapi bergerak karena bergerak secara teratur meningkatkan stabilitas emosional dan sangat berguna untuk jalinan sel-sel otak.

Ini menunjukkan bahwa bagian-bagian sistem manusia saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Bergerak adalah keharusan bagi setiap orang. Yang paling baik adalah berolah raga tiga kali seminggu. Tapi Anda harus memilih olah raga yang benar-benar Anda sukai dan olah raga yang melatih daya tahan tubuh. Misalnya jalan cepat, jogging, berenang, naik sepeda, inline skating atau juga menari. Dan yang harus diperhatikan, jangan sampai pada waktu menjalankan latihan Anda merasa berada di bawah tekanan. Dengan kata lain jangan sampai kegiatan olah raga itu justru membuat Anda menjadi stress!