Olympiade Tokyo 2020 Dituding Percepat Deforestasi di Indonesia | dunia | DW | 10.04.2018

Dunia

Olympiade Tokyo 2020 Dituding Percepat Deforestasi di Indonesia

Meski banyak digembar-gemborkan sebagai perhelatan olahraga paling ramah lingkungan dalam sejarah, Olympiade Tokyo 2020 dituduh menggunakan kayu tak bersertifikat dari hutan adat di Indonesia dan Malaysia.

Stadion Nasional Jepang yang dibangun dengan kayu dari Indonesia dan Malaysia

Stadion Nasional Jepang yang dibangun dengan kayu dari Indonesia dan Malaysia

Sejak awal Shin kokuritsu kyōgijō alias stadion nasional teranyar milik Jepang sudah berpeluh drama. Stadion yang sejatinya akan menjadi episentrum perhelatan akbar Olympiade Tokyo 2020 itu awalnya didesain oleh arsitek ternama Zaha Hadid.

Namun berkat gugatan dua arsitek lokal, Dewan Olahraga Jepang akhirnya memecat arsitek perempuan asal Irak itu dan menyerahkan pengerjaan desain pada Kengo Kuma, yang ikut memrotes desain "tempurung beton" ala Hadid dan berjanji memolesnya menjadi lebih ramah lingkungan dengan menempatkan kayu lapis sebagai elemen utama desain.

Arsitek Kengo Kuma

Arsitek Kengo Kuma

Jepang yang sejak awal berambisi menjadikan Olympiade Tokyo sebagai perhelatan olahraga paling ramah lingkungan pun tergiur oleh gagasan sang arsitek. Namun belakangan ketahuan, pembangunan Shin kokuritsu kyōgijō tidak menggunakan kayu lokal seperti yang dijanjikan Kuma, melainkan kayu tropis asal Malaysia dan Indonesia.

Beberapa pekan silam Rainforest Action Network (RAN) merilis laporan bagaimana 87% kayu lapis yang digunakan Jepang berasal dari berbagai kawasan di Kalimantan yang didominasi hutan adat. "Kebanyakan kayu yang digunakan tidak bersertifikat dan berasal dari kawasan yang meranggas akibat laju deforestasi paling cepat di dunia," kata Hana Heineken dari RAN kepada Climatchangenews.

Pada 2017 silam sekelompok masyarakat adat dari suku Penan di Serawak mendesak Komite Olympiade Tokyo untuk menghentikan pembelian kayu dari Shin Yan, perusahaan Malaysia yang sering dituding melakukan deforestasi dan alih fungsi lahan secara ilegal. "Tokyo menjanjikan turnamen hijau dengan slogan 'Fair Play for Earth'. Komitmen ini harus juga dijaga ketika membangun stadion nasional," tulis penggugat dalam sebuah surat terbuka.

Baca:Greenpeace Tinggalkan FSC Gara-gara Skandal di Indonesia

Buat melindungi hutan adat seluas 163.000 hektar, anggota suku Penan harus melawan pemerintah Malaysia dan perusahaan raksasa yang membidik kawasan hijau tersebut. Lusinan gugatan dan pengadilan sejauh ini urung membuahkan hasil. Sebab itu mereka mencari cara lain dengan berkampanye di luar negeri.

Komite Olympiade Internasional mengklaim Jepang menanggapi isu ini "secara serius" dan "berkomitmen menciptakan transparansi di masa depan," ihwal asal muasal kayu yang digunakan. Namun kepada The South China Morning Post, Heineken, mengatakan "mereka berdalih ongkos pembangunan akan sangat mahal. Alasan ini yang mereka berikan sejak awal."

Namun menurutnya, harga kayu tropis asal Indonesia dan Malaysia menjadi murah karena "dirampas begitu saja" dari masyarakat adat.

rzn/yf (scmh, ap, climatechangenews, ran, globalwitness, archdaily)

 

Laporan Pilihan

Albanian Shqip

Amharic አማርኛ

Arabic العربية

Bengali বাংলা

Bosnian B/H/S

Bulgarian Български

Chinese (Simplified) 简

Chinese (Traditional) 繁

Croatian Hrvatski

Dari دری

English English

French Français

German Deutsch

Greek Ελληνικά

Hausa Hausa

Hindi हिन्दी

Indonesian Bahasa Indonesia

Kiswahili Kiswahili

Macedonian Македонски

Pashto پښتو

Persian فارسی

Polish Polski

Portuguese Português para África

Portuguese Português do Brasil

Romanian Română

Russian Русский

Serbian Српски/Srpski

Spanish Español

Turkish Türkçe

Ukrainian Українська

Urdu اردو