1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pasangan Singapura Dipenjara Karena Telantarkan Pembantu

28 Maret 2017

Pasangan Singapura membiarkan pembantu Filipina mereka kelaparan sampai berat badannyanya turun menjadi 29 kilogram. Keduanya dihukum denda dan penjara beberapa minggu.

https://p.dw.com/p/2a5WO
Singapur Skyline
Foto: picture alliance/dpa/Robertharding

Lim Choon Hong, 48 tahun, dijatuhi hukuman tiga minggu penjara dan didenda Sg $ 10.000  (7.200 Dollar AS), sedangkan istrinya Chong Sui Foon, juga berusia 48 tahun, kena sanksi penjara selama tiga bulan.

Keduanya tahun lalu dituduh melanggar undang-undang ketenagakerjaan dengan tidak memberikan makanan yang cukup kepada pembantu mereka, Thelma Oyasan Gawidan, selama periode 15-bulan, yaitu pada 2013 dan 2014 di kondominium mereka di daerah mewah Orchard Road. Jaksa penuntut menggambarkan kelaparan sistematis yang diderita Thelma "benar-benar mengejutkan, baik adalam ekestremitas dan keparahannya".

Gawidan, yang berusia 40-an, juga kehilangan rambutnya karena dia mendapat tidak cukup gizi, kata seorang saksi ahli di pengadilan. "Sederhananya, dia benar-benar ditelantarkan," kata jaksa dalam proses pengadilan haru Senin (27/3). "Ini memuakkan, bahwa korban dipaksa untuk bertahan dengan perlakuan tidak manusiawi, dengan kekejaman, untuk waktu yang lama", katanya.

Gawidan kehilangan hampir 20 kg selama bekerja untuk pasangan itu, yang hanya mengijinkan dia makan dua kali sehari - biasanya beberapa iris roti putih dan porsi kecil mie instan yang disiapkan oleh Chong. Di pengadilan, ahli gizi bersaksi bahwa asupan kalori harian Gawidan hanya sekitar 900 kalori, jauh lebih sedikit dari 1.700 kalori yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan normal.

Indonesien Arbeiterin Hausarbeit
Banyak keluarga di Singapura mempekerjakan pembantu rumah tangga dari Filipina dan IndonesiaFoto: picture alliance/ANN/The Jakarta Post

Gawidan juga tidak memiliki akses ke telepon genggamnya dan tidak diizinkan pergi keluar sendiri untuk membeli makanan. Dia hanya diizinkan mandi seminggu sekali atau dua kali, dan hanya bisa menggunakan toilet umum yang ada di kondominium."Selain itu, dia mendapat perlakukan yang merendahkan..., yaitu (istri) ikut masuk ke toilet untuk memantau sementara pembantunya mandi," kata jaksa.

Bulan April 2014 Gawidan lari dari rumah majikannya dan minta bantuan rekan senegaranya, -- sebuah keputusan yang menurut jaksa telah menyelamatkan hidupnya. Dia dibawa ke lembaga penampungan pekerja migran yang membantunya mengajukan gugatan ke departemen tenaga kerja.

Banyak rumah tangga di Singapura bergantung pada bantuan pembantu rumah tangga asing. Pada tahun 2016, tercatat ada 239.700 pembantu asing yang bekerja di Singapura, sebagian besar dari Indonesia dan Filipina.

hp/ap (afp)