1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pemberontak Libya Berjuang Rebutkan Sawiyah

14 Agustus 2011

Pemberontak Libya tampaknya membuat kemajuan dan berhasil menguasai sebagian besar kota Al-Sawiyah yang secara strategis penting. Pemerintah di Tripoli menyangkal laporan keberhasilan itu.

https://p.dw.com/p/12GM5
Libyan rebels are seen in the back of a pick-up truck headed for the frontline near Zawiya in western Libya, Saturday, Aug. 13, 2011. Libyan rebels fought their way into the strategic city of Zawiya west of Tripoli on Saturday in their most significant advance in months, battling snipers on rooftops and heavy shelling from Moammar Gadhafi's forces holding the city. (Foto:Giulio Petrocco/AP/dapd)
Pemberontak Libya, 13. 08. 2011Foto: dapd

Serangan pemberontak tampaknya dipersiapkan dan direncanakan dengan sangat baik. Pemberontak berhasil memasuki kota Zabrata, Surman dan Al-Sawiyah yang terletak pada jalan pesisir yang panjangnya 200 kilometer antara penyebarangan perbatasan ke Tunisia, Ras Jedir dan ibukota Tripoli. Pertempuran hebat terjadi dengan pasukan Libya di beberapa lokasi. Di Al-Sawiyah yang terletak sekitar 40 kilometer dari Tripoli, penduduk berpindah memihak pemberontak. Pria bersenjata dan kaum muda membantu pemberontak untuk menguasai kota secara meluas.

Sabtu malam (13.8.) jurubicara pemerintah Libya, Mussa Ibrahim mengatakan kepada wartawan internasional bahwa Al-Sawiyah tidak dikuasai pemberontak: „Sama sekali tidak. Saya belum pernah berdusta kepada anda terkait isu militer. Sawiyah sepenuhnya kami kuasai. Yang terjadi adalah sebagai berikut. Sekelompok kecil pemberontak berusaha bergerak ke selatan, kurang dari seratus orang. Mereka dihentikan pasukan kami. Itu hanya sekelompok kecil yang tinggal di Sawiyah dan menunggu untuk bergabung dengan pihak lain yang memasuki kota."

Libya's government spokesman Moussa Ibrahim speaks to the press at a hotel in Tripoli, Libya, Saturday, Aug. 13, 2011. Ibrahim disputed the Western mountain rebel claims and media reports that rebels had reached the town of Zawiya, which is located around 30 miles (50 kilometers) west of the Libyan capital. Zawiya is a strategic city because it lies along the main supply line for Libyan leader Moammar Gadhafi's stronghold of Tripoli. (Foto:Dario Lopez-Mills/AP/dapd)
Jurubicara pemerintah Libya, Moussa Ibrahim 13. 08. 2011Foto: dapd

Rezim Gaddafi tetap kobarkan semangat bertempur

Menurut laporan, para pemberontak kini berada di kota, melakukan penyisiran dan memburu anggota pasukan Gaddafi. Seperti yang dilaporkan pemancar televisi Al-Jazeera, pemberontak berhasil menangkap tentara bayaran yang bertempur untuk Gaddafi. Mereka kemudian diangkut dengan mobil bak terbuka. Tidak diketahui bagaimana nasib mereka saat ini. Di sebelah barat Al-Sawiyah dan sejumlah daerah strategis sepanjang jalan pesisir terjadi pertempuran sengit.

Saksi mata yang mengungsi ke Tunisia sebelum pertempuran berkobar mengatakan kepada jurnalis bahwa pasukan yang setia kepada Gaddafi berusaha mempertahankan wilayah pos perbatasan Ras Jedir. Tampaknya mereka berupaya membela pos perbatasan itu dengan peralatan perang berat. Jurubicara pemerintah Mussa Ibrahim: „Kami sangat kuat. Ada puluhan ribu relawan yang saat ini bersenjata. Tidak ada pengaruhnya apakah NATO membuat kemajuan atau tidak , apakah pemberontak bergerak maju atau tidak. Mereka selalu siap berjuang, juga dalam satu, dua atau tiga tahun."

epa02845878 Supporters of Libyan leader Muammar Gaddafi gather for a pro-regime rally in the area of Abu Slim in Tripoli, Libya, 28 July 2011. Reports state that on 28 July 2011 that Libyan rebel military chief Abdel Fattah Younes is killed after being called for questioning over alleged Gaddafi links, rebel leaders announce. EPA/STR
Pertemuan pendukung GaddafiFoto: picture alliance/dpa

Peluang bagi pemberontak

Namun yang jelas bahwa bila pemberontak berhasil mempertahankan posisinya pada jalan pantai sepanjang 200 kilometer antara Tripoli dan perbatasan Tunisia, mereka akan punya peluang untuk menggulingkan Gaddafi dan pemerintahannya. Ini hanya soal waktu saja, Karena jalan pantai ini merupakan jalan satu-satunya bagi rezim Gaddafi, pasukannya dan masyarakat untuk memasok kebutuhan pangan dan bensin. Tampaknya Gaddafi semakin terdesak.

PBB kembali mengimbau semua pihak untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, Sekjen PBB Ban Ki Moon mengkritik situasi saat ini. Melalui pembicaraan telpon dengan Perdana Menteri Libya Al-Baghdadi Al-Mahmudi hari Jumat lalu, Ban mendesak semua pihak untuk mencapai penyelesaian politik. Ia menyakatan khawatir atas banyaknya korban sipil yang jatuh dan perusakan infrastruktur di Libya.

Peter Steffe/Christa Saloh-Foerster

Editor: Luky Setyarini