1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Erdogan Lebih Buruk Dari Rejim Militer

18 Maret 2014

Tokoh Islam Turki Fethullah Gulen melayangkan kritik keras kepada Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan. Ia menilai pemerintahan Erdogan "sepuluh kali lebih buruk" dari rejim militer.

https://p.dw.com/p/1BRVV
Foto: picture-alliance/AP

Adu kekuatan dua kubu Islam menjelang pemilihan komunal di Turki terus berlangsung. Selama kampanye, Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan menuduh Gerakan Gulen membangun pengaruh kuat di kepolisan dan kejaksaan lalu merekayasa tuduhan korupsi terhadapnya.

Erdogan kemudian membalas tuduhan itu dengan menangkap dan memecat ribuan polisi dan jaksa yang dituduh dekat dengan Gerakan Gulen, sebuah kelompok Islam yang punya pengaruh besar di Turki.

Pempimpin gerakan itu, Fethullah Gulen yang sekarang tinggal di Amerika Serikat mengecam Erdogan yang disebutnya telah melakukan penindasan yang lebih parah daripada masa diktatur militer.

Lebih buruk dari militer

"Setelah kudeta militer September 1980, rejim memberlakukan saya layaknya seorang kriminal selama bertahun-tahun. Kami diserang, kawan-kawan kami dikejar. Kami jadi terbiasa hidup di bawah pengintaian permanen", kata Gulen kepada harian Turki, Zaman.

"Apa yang terjadi saat ini, sepuluh kali lebih buruk daripada masa kudeta militer", tutur Gulen selanjutnya.

Ini adalah tuduhan berat terhadap pemerintahan Erdogan dari partai AKP. Organisasi hak asasi menyebutkan, selama kudeta militer tahun 1960 dan 1980, tentara Turki melakukan penyiksaan dan pembunuhan secara luas.

Pemilu komunal di Turki akan dilangsungkan 30 Maret mendatang. Pemilu ini dilihat sebagai tes atas popularitas Erdogan yang makin turun sejak aksi protes meluas pertengahan tahun lalu.

Menurut jajak pendapat, partai AKP memang masih punya dukungan luas setelah berhasil menggenjot pertumbuhan ekonomi Turki selama beberapa tahun terakhir. Tapi belakangan, muncul berbagai tuduhan korupsi yang melibatkan tokoh-tokoh pemerintahan dan keluarga Erdogan.

Pertarungan lama

Gerakan Gulen dulu membantu kebangkitan AKP dan Erdogan. Pengaruhnya yang kuat di kejaksaan dan kepolisian membantu pemerintahan Erdogan membungkam militer yang secara tradisional punya pengaruh kuat di bidang politik. Tapi Gulen dan Erdogan kemudian terlibat adu kekuasaan yang membuat mereka menjadi musuh politik.

"Sekarang, kami menghadapi ancaman yang sama seperti dulu. Bedanya, kami sekarang berhadapan dengan pemerintahan sipil, yang tadinya menjadi mitra kepercayaan kami." kata Gulen kepada harian Zaman. "Ini membuat kepedihan yang lebih mendalam. Apa yang bisa kami lakukan sekarang adalah tetap tabah."

Erdogan bermaksud mencalonkan diri dalam pemilihan presiden di Turki bulan Agustus mendatang. Ia menggambarkan tuduhan korupsi yang saat ini bermunculan sebagai rekayasa untuk mengulingkan pemerintahannya. Ia mengecam keras rekaman percakapan telepon yang tersebar di internet.

"Bagaimana mungkin seorang Perdana Menteri bisa disadap? Tidak mungkin itu dilakukan dengan ijin dari pengadilan. Anda tidak bisa melakukan itu…, tidak terhadap presiden, tidak terhadap pemimpin pemerintahan", kata Erdogan.

hp/rn (rtr, afp)