1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Penderitaan Warga Sipil Suriah

9 Agustus 2012

Perang di Suriah juga merupakan bencana kemanusiaan. Organisasi-organisasi bantuan memperingatkan adanya situasi gawat.

https://p.dw.com/p/15mBq
epa03311362 Syrian refugees are seen crossing the Lebanese border post at Al Masnaa area upon their arrival from Syria, in Al Masnaa, Lebanon, 19 July 2012. Unrest in Syria has triggered the departure of thousands of people who fled the violence, some 150,000 went to Jordan while tens of thousands others headed to Turkey and Lebanon. EPA/LUCIE PARSEGHIAN +++(c) dpa - Bildfunk+++
Pengungsi SuriahFoto: picture-alliance/dpa

Ratusan ribu orang melarikan diri dari perang di Suriah. Seperti halnya sebuah keluarga Suriah yang berhari-hari berjalan mengungsi menuju perbatasan Suriah-Libanon. Dengan dilindungi pekatnya malam hari mereka memberanikan diri menyeberangi perbatasan. Namun ketika sampai di negara tetangga, mereka baru sadar bahwa dua anak mereka hilang di kawasan perbukitan Libanon yang sulit dilewati. Berjam-jam mereka mencari kedua anaknya, tetapi sia-sia. Mereka melanjutkan perjalanan mengungsi. Dengan suhu udara yang dingin membeku pada bulan Maret itu, mereka tahu bahwa mereka hanya dapat bertahan beberapa jam saja. Perang tidak hanya merampas semua apa yang mereka miliki tetapi juga menghancurkan keluarganya.

Anak-anak yang menjadi korban

Marc André Hensel, koordinator bantuan bagi Suriah dari "World Vision Deutschland e.V." kenal kisah-kisah sedih yang diceritakan di kamp-kamp pengungsi Suriah di Libanon. Ketika Hensel Maret lalu mulai bekerja di kamp tersebut, ia untuk pertama kalinya menyaksikan dampak perang terhadap keluarga-keluarga Suriah. Orang tua yang harus menderita melihat anaknya terluka, tetapi tidak mendapatkan perawatan medis. Anak yang meninggal di depan mata atau anak yang disalahgunakan. Anak-anak adalah korban perang yang sangat menderita. Mereka juga merupakan korban yang paling sulit untuk dapat mengatasi pengalaman perang. Banyak yang menderita trauma. Demikian dipaparkan Hensel kepada Deutsche Welle. Ada anak yang merasa terus diburu, terbangun ketakutan di tengah malam dan hanya ingin kabur serta lari. Mereka juga menjadi tertutup, membisu dan shock. Tetapi ada juga anak yang bercerita semuanya, tambah Hensel.

epa02775903 Syrian refugees attend a funeral of an anti-regime protester on the Syria-Turkey border, near the Turkish village of Guvecci, in Hatay, Turkey 11 June 2011. The number of Syrians who took refuge in Turkey from a violent crackdown of anti-government protests in Syria has reached 4,300. Turkish Prime Minister Recep Tayyip Erdogan has said Turkey was concerned over incidents in Syria as the Assad government escalates violence against civilians in a crackdown of anti-government protests which had seen the death of scores. EPA/AYKUT UNLUPINAR/ANATOLIAN AGENCY TURKEY OUT +++(c) dpa - Bildfunk+++
Pengungsi Suriah di Hatay, TurkiFoto: picture-alliance/dpa

Di kamp pengungsian tersebar kabar burung bahwa pasukan pemerintah Suriah menangkap anak-anak sebagai sandera supaya orang tuanya taat kepada pemerintah. Metode ini terutama dilakukan terhadap kelompok oposisi. "Ada yang menceritakan, anak-anak diikat di panser untuk dijadikan perisai supaya tak seorang pun melemparkan bom molotov ke arah panser atau menembakinya." Hensel menganggap cerita-cerita ini dapat dipercaya.

Pengungsian berminggu-minggu

Perang yang sangat menakutkan. Demikian dilaporkan Donatella Rovera dari "Amnesty Internatinonal" yang secara diam-diam berminggu-minggu berada di Aleppo. Saat itu ia bertemu keluarga-keluarga yang dalam waktu singkat terpaksa berpindah tempat empat atau lima kali. "Setiap saat, bila mereka tiba di zona yang dianggap aman, mereka tiba-tiba diserang lagi. Jadi mereka terpaksa kabur lagi, dan demikian seterusnya." PBB memperkirakan sekitar satu juta warga Suriah yang meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di dalam negeri seperti keluarga tersebut.

Di antara pengungsi ada korban yang luka tetapi tidak mendapat perawatan karena sulit mendapatkan seorang dokter. Rovera mengatakan kepada DW, para korban takut pergi ke rumah sakit. Karena ada kabar bahwa pasukan pemerintah menyerang korban terluka dan memeriksa identitas mereka. Bila dipastikan bahwa korban adalah seorang anggota perlawanan yang menentang rezim Presiden Bashar al-Assad, korban itu ditangkap. "Dan orang tahu, jika ditangkap mereka juga dengan mudah dibunuh." Karena itu, korban terluka mencari dokter yang secara diam-diam membantu perlawanan. Tetapi menurut Rovera, hal ini sangat berbahaya bagi dokter bersangkutan. Jadi korban luka berusaha melarikan diri ke negara tetangga.

Sangat kekurangan obat-obatan

Namun situasi juga menjadi lebih sulit bagi warga yang bukan termasuk dalam gerakan oposisi. Banyak rumah sakit dan klinik yang hancur. Demikian dilaporkan Tarik Jarasevic, jurubicara Organisasi Kesehatan Dunia WHO. Ada juga RS yang harus ditutup karena tidak ada pasokan medis. Akibat pertempuran, banyak dokter dan perawat yang tidak bisa datang bekerja, tambah Jarasevic.

Dr. Abu Jawad mit Patienten / Dr Abu Jawad consults with patients in a hospital in Tripoli, Lebanon. Fotograf: Don Duncan. Wann und wo: Juli 2012, Tripolis, Libanon. Man lying in hospital bed: Amar Idriss in Hospital in Tripoli. Syrian refugees in lebanon. Name of the photographer/or scource: Don Duncan. When was the pic taken? (July 2012). Where was the pic taken (Tripoli Lebanon). Zugeliefert am 1.8.2012 durch Sarah Steffen. Copyright: Don Duncan
Pengungsi Suriah di LibanonFoto: Don Duncan

Tetapi, seandainya dokter ada, mereka sering tidak dapat merawat pasien, karena tidak ada obat-obatan yang diperlukan. Sekitar 90 persen kebutuhan obat diproduksi di Suriah, lapor Jarasevic. "Bila produksi ini terhenti, orang Suriah harus mencarinya di pasar internasional. Tetapi harga di pasar internasional bagi mereka saat ini tidak terjangkau." Jadi tidak hanya korban pertempuran yang terkena, tetapi juga pasien kronis, misalnya penderita penyakit jantung, diabetik dan kanker yang tidak mendapat perawatan dan obat seperti sebelumnya.

Bantuan pangan

Situasi kemanusiaan di Suriah saat ini sangat mengenaskan. Seorang jurubicara program pangan PBB menjelaskan, di Aleppo saja ada sekitar 460.000 orang yang bergantung pada bantuan pangan. Secara keseluruhan, pada bulan Juli program pangan PBB telah memberikan bantuan kepada lebih dari setengah juta orang. Sebenarnya masih lebih banyak orang yang memerlukan bantuan, namun situasi keamanan tidak memungkinkan untuk menyalurkan bantuan. Perang di Suriah membuat organisasi-organisasi bantuan internasional lumpuh.

Kersten Knipp/Christa Saloh-Foerster

Editor: Andy Budiman