1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perompakan di Tanduk Afrika Meningkat

17 Oktober 2011

Puluhan kapal perang internasional mengamankan perairan Tanduk Afrika dari aksi bajak laut. Ironisnya jumlah perompakan terus meningkat.

https://p.dw.com/p/12tGc
Pasukan marinir Jerman yang tergabung dalam misi anti bajak lau Uni Eropa - AtalantaFoto: picture-alliance/ dpa

Misi Uni Eropa untuk memerangi bajak laut di perairan tanduk Afrika-“Atalanta“, yang kini dipimpin angkatan laut Jerman, tidak berhasil menurunkan jumlah perompakan. Bahkan sebaliknya. Di paruh pertama tahun 2011 ini saja, sedikitnya 160 kapal dagang diserang bajak laut. Serangan bajak laut kebanyakan dilancarkan di perairan yang jauh dari kawasan pantai yang dikategorikan aman.

Busten Howes, komandan di markas besar misi Atalanta menjelaskan : “Risiko bahaya bajak laut semakin meningkat, karena mereka semakin profesional. Mereka menginvestasikan lagi uang tebusan yang dibayarkan dalam jumlah besar, untuk memperbaiki perlengkapannya.“

Tebusan Ratusan Juta Dollar

Pakar maritim memperkirakan, bajak laut di perairan Tanduk Afrika, pada tahun lalu saja meraup uang tebusan senilai 240 juta Dollar. Para perompak dari Somalia kini menggunakan kapal motor cepat yang dilengkapi sistem GPS dan senapan mesin paling modern. Gembong bajak laut tidak takut tindakan hukum di Somalia, negara Afrika yang kacau balau dilanda peperangan. Kelompok radikal Islam, yang menguasai sebagian besar Somalia, diduga mendapat bagian dari uang tebusan aksi pembajakan, atau bahkan ikut serta dalam aksi penculikan.

Beluga Fortune Bremen Schiff Somalia Kenia Piraten
Kapal dagang Beluga Fortune yang dibajak perompak Somalia untuk memeras uang tebusanFoto: picture alliance/dpa

Alan Cole dari program anti bajak laut PBB mengamati perkembangan negatif itu dengan khawatir. “Kami mencermati, bajak laut semakin agresif. Banyak penyebabnya. Tapi yang terpenting adalah, semakin jarang bajak laut yang dulunya nelayan dan semakin banyak bekas milisi bersenjata dari pedalaman Somalia,” ujar Cole.

Tingkatkan Pengamanan Kapal

Perusahaan pelayaran terus berusaha melindungi diri. Semakin banyak kapal dagang yang memiliki ruangan khusus, dimana seluruh awaknya dapat bersembunyi dan sekaligus melumpuhkan ruang kemudi kapal. Beberapa kali perompak meninggalkan lagi kapal bajakannya, karena kapalnya tidak dapat dikendalikan. Selain itu sejumlah perusahaan pelayaran mengikutsertakan satuan pengaman bersenjata di atas kapal. Di Inggris saja, saat ini terdapat 100 perusahaan pengamanan yang khusus melindungi kapal dari serangan bajak laut.

Mungkin inilah salah satu alasan, mengapa para bandit dari Somalia kini mencari sumber pendapatan baru. Belakangan ini mereka menyasar kawasan wisata di negara tetangga Kenya. Terakhir, dua orang wisatawan perempuan, seorang dari Inggris dan seorang lagi dari Perancis, diculik dari Kenya ke Somalia.

Menteri Pariwisata Kenya, Najib Balala mencemaskan, dalam waktu dekat tidak akan ada lagi wisatawan yang datang ke negaranya. “Bagi kami amat penting mengamankan perbatasan Kenya. Penculikan dapat merusak ekonomi kami. Mereka mengancam perdamaian dan stabilitas kami dan mengancam jiwa manusia,“ tegasnya.

Somalia, sebuah negara tanpa hukum, menjadi sebuah ladang persemaian subur bagi bajak laut dan penculik. Untuk memeras uang tebusan, mereka dapat terus menemukan strategi baru, baik di lautan maupun di daratan.

Antje Diekhans/Agus Setiawan Editor: Vidi Legowo-Zipperer