1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Persidangan Mubarak Dilanjutkan Tertutup

5 September 2011

Sidang pengadilan ketiga terhadap bekas penguasa Mesir Hosny Mubarak dilanjutkan di Kairo tanpa kehadiran media.

https://p.dw.com/p/12TIV
Kuwaiti lawyers Faisal al-Uteibi (C), Head of the Kuwaiti Lawyers delegation Ayed Mohamed Al-Sabei (L) and Mohamed Nagi Al-Agami (R), arrive to their press conference in Cairo, Egypt, 04 September 2011.
Tim pengacara asal Kuwait mendampingi Hosni MubarakFoto: picture alliance/dpa

Dua sidang pengadilan sebelumnya masih disiarkan secara langsung oleh televisi Mesir. Namun Ketua Majelis Hakim, Ahmed Refaat memutuskan untuk melanjutkan persidangan dalam pengadilan tertutup.

Keputusan hakim disambut oleh kalangan pengacara Mesir. Namun banyak warga Mesir yang merasa tidak senang dan menyatakan pesimis terhadap transparansi kasus ini. Pengadilan terhadap Mubarak dinilai sebagai salah satu proses pengadilan bersejarah di dunia Arab.

Mubarak tiba hari Senin (05/09) dengan helikopter di Akademi Kepolisian di luar kota Kairo. Di lokasi inilah digelar pengadilan khusus terhadap bekas orang nomor satu di Mesir itu. Hosni Mubarak mengundurkan diri 11 Februari lalu. Sejak sidang pengadilan digelar tanggal 3 Agustus, ia dirawat di sebuah rumah sakit di Kairo. Sebelumnya Mubarak dirawat di kawasan pariwisata Sharm el Sheikh setelah mengalami gangguan jantung. Sejak mundur dari kursi kekuasaan, ia dan keluarganya tinggal di Sharm el Sheikh.

Mubarak dan kedua anaknya, Alaa dan Gamal, didakwa memerintahkan pembunuhan para pemrotes selama gelombang revolusi. Selain mereka, masih ada enam mantan menteri dan pejabat tinggi yang diadili. Sedikitnya 850 orang tewas dan lebih dari 6000 luka-luka selama aksi protes bulan Januari dan Februari lalu.

Hari Senin (05/09) ini, para pemrotes kembali bentrok dengan aparat keamanan. Para demonstran dan aparat keamanan diberitakan terlibat saling lempar batu. Sedikitnya 12 orang ditahan. Polisi juga berusaha memisahkan kubu pro dan kontra Mubarak yang menggelar aksi di lokasi yang sama. Para pemrotes marah karena tidak bisa mengikuti jalannya sidang pengadilan lewat layar besar seperti dalam persidangan sebelumnya.

Selain dakwaan memerintah kan pembunuhan, Mubarak dan kedua anaknya juga menghadapi dakwaan melakukan korupsi dan menghamburkan dana publik.

Hendra Pasuhuk/dpa/rtr
Editor: Yuniman Farid