1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pilot Bersalah

Andy Budiman18 Desember 2012

Tim penyelidik menyimpulkan kesalahan pilot sebagai penyebab kecelakaan maut pesawat Sukhoi Superjet 100 di Indonesia Mei lalu. Kecelakaan terjadi dalam demonstrasi penerbangan untuk menarik calon pembeli Sukhoi.

https://p.dw.com/p/174hZ
Foto: AP

Laporan akhir hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang diumumkan Selasa (18/12) menyebut pilot Sukhoi mengabaikan peringatan dari Terrain Awareness and Warning System (TAWS).

Selain itu, KNKT juga menyebut bahwa di menit- menit menjelang kecelakaan, pilot sedang berbincang dengan salah seorang calon pembeli.

Kesalahan Pilot

Menit-menit menjelang kecelakaan, Menara Jakarta meminta pilot Sukhoi melakukan putaran. “Jakarta Control: izinkan bikin orbit” kata Kepala penyelidik KNKT Mardjono Siswosuwarno menirukan rekaman percakapan. Tapi pesawat Sukhoi tidak meneruskan orbitnya dan malah bergerak bablas ke arah selatan (Gunug Salak-red).

“Kopilot bertanya kepada pilot: kita akan pulang atau bikin orbit?” dijawab oleh Pilot “”Pulang”. Tapi karena diskusi (dengan tamu atau penumpang-red) mengarah tidak sengaja (ke Gunung Salak-red) bablas, kata Mardjono.

Rekaman suara mengungkapkan bahwa saat itu, seorang calon pembeli Sukhoi ada di dalam kokpit selama 38 menit untuk mendiskusikan soal konsumsi bahan bakar jet, dan itu menyebabkan “pengalihan perhatian”, demikian kesimpulan KNKT.

Kemudian Terrain Awareness and Warning System TAWS memberikan peringatan “Peringatan terrain ahead sekali. Tak lama setelah itu ada enam kali peringatan dari TAWS. Kemudian warning-nya dimatikan oleh pilot“.

“Pilot mematikan TAWS karena dia berasumsi ada masalah dengan sistem database,” kata Ketua KNKT Tatang Kurniadi.

Hasil penyelidikan yang dilakukan tim Rusia sesaat setelah peristiwa itu Mei lalu juga menemukan bahwa ada indikasi bahwa pelanggaran atas standar keselamatan dalam demonstrasi penerbangan tersebut.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Yurievich Galuzin menyambut hasil temuan itu dan mengatakan bahwa pihak Rusia telah ikut bekerjasama dalam penyelidikan yang dia sebut bersifat “obyektif dan seimbang“.

Pelanggaran Aturan

”Ada larangan keras untuk membiarkan penumpang masuk ke dalam kokpit selama penerbangan” kata Mantan Ketua KNKT sekaligus pakar kecelakaan penerbangan Indonesia Profesor Oetardjo Diran kepada Deutsche Welle.

“Tidak boleh ada penumpang di kokpit selama penerbangan. Tapi kadang-kadang karena urusan marketing, mereka tutup mata.”

Penerbangan nahas itu dalam rangka promosi untuk menjual pesawat jet penumpang komersil pertama yang dibuat Sukhoi yang selama ini dikenal sebagi produsen pesawat tempur Rusia. Saat kecelakaan pesawat itu membawa rombongan wartawan, serta para pengusaha Indonesia calon pembeli Sukhoi. Total 45 orang tewas dalam tragedi 9 Mei 2012 itu.

“Ketidakrutinan menjadi faktor penyebab kecelakaan. Ini adalah penerbangan khusus, dengan rute khusus yang tidak pernah dilalui pesawat komersil” kata Oetardjo.

Terlalu Percaya Diri?

Sebelumnya, banyak orang skeptis bahwa kesalahan pilot adalah penyebab kecelakaan, mengingat jet itu dikemudikan pilot veteran Rusia Alexander Yablontsev.

“Kalau melihat statistik (kecelakaan penerbangan-red), pilot berpengalaman kadang punya kepercayaan diri yang terlalu besar” kata Profesor Oetardjo Diran yang sepuluh tahun memimpin KNKT dan mengungkap banyak kasus kecelakaan penerbangan di Indonesia.

“Dalam tabrakan antara KLM dengan Pan America, itu terjadi” kata Oetardjo Diran merujuk tabrakan maut tahun 1977 di Tenerife, Spanyol. Saat itu pesawat KLM lepas landas tanpa ijin dari menara pengawas dan pada saat bersamaan, pesawat Pan Am masih berada di landas pacu.

“Meski ada peringatan, tapi pilot KLM terbang terus. Padahal dia adalah Direktur Operasi KLM, dan instruktur para pilot di maskapai itu. Hal-hal seperti itu dialami para pilot terbaik.“

Bisnis Berlanjut

Bulan November lalu, Superjet 100 secara telah lolos uji teknis setelah sebelumnya juga telah mendapat sertifikat layak terbang di Eropa.

Keputusan itu membuka jalan bagi pengiriman 42 pesawat Sukhoi Superjet 100 kepada dua maskapai penerbangan lokal Indonesia yakni Kartika Airlines dan Sky Aviation, yang membeli pesawat itu seharga sekitar Rp. 300 milyar, per-pesawat.