1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS dalam Pertikaian Laut Cina Selatan

Interview: Gabriel Dominguez5 Agustus 2015

Di tengah meruncingnya ketegangan di Laut Cina Selatan, Menteri Pertahanan AS Ashton Carter nyatakan beberapa waktu lalu, AS akan terus pegang peranan penting di Asia. DW berbicara dengan Ernest Bower tentang peranan AS.

https://p.dw.com/p/1GAMV
US Militärpräsenz im Südchinesischem Meer
Pesawat AS di Laut Cina SelatanFoto: Getty Images/AFP/M. Abbugao

Dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN Rabu (05/08), pemerintah Cina menyatakan telah menghentikan pembangunan di Laut Cina Selatan. Washington sebelumnya beberapa kali menyerukan kepada Beijing dan pihak-pihak lain untuk menghentikan proyek-proyek dalam rangka mengklaim wilayah di perairan tersebut. Hingga Selasa Beijing menolak permintaan tersebut.

Dalam wawancara dengan DW, Ernest Bower dari Center for Strategic and International Studies dengan fokus Asia Tenggara menjelaskan kepentingan AS di kawasan tersebut, sikapnya dalam pertikaian yang sedang berlangsung, juga mengapa AS menolak area baru yang didominasi Cina di Asia.

DW: Menteri Pertahanan AS Ashton Carter pernah mengatakan, AS akan terus memainkan peran menentukan di Asia di masa depan. Apa yang dimaksud Carter?

Ernest Z. Bower: Carter memberikan sinyal, bahwa AS secara politik, keuangan dan strategis punya komitmen dan mampu melanjutkan perannya sebagai negara Asia Pasifik. Lebih jauh, Carter sudah pernah menegaskan bahwa ekonomi punya peran penting bagi perdamaian yang langgeng di Asia.

Ia mengatakan bulan Mei, bahwa TPP (Trans Pacific Partnership) lebih penting baginya dibanding sebuah kapal induk baru. Maksud Carter, lebih penting bagi AS, fokus pada perkembangan ekonomi dan keamanan yang dinamis.

Carter juga dikutip ketika mengatakan: "Tidak akan ada yang bisa menghentikan operasi militer AS. Kami akan terbang, kami akan berlayar, kami akan beroperasi di sini, di Pasifik, seperti sejak dulu." Apa yang mau dilakukan AS untuk menegaskan perannya di Laut Cina Selatan, jika Cina tidak berubah sikap?

Carter berusaha memberikan isyarat, bahwa AS bertekad tidak akan membiarkan Cina meneruskan ancaman atas kedaulatan negara-negara tetangganya dengan menggunakan kekerasan dan aksi yang tidak sesuai hukum internasional.

Ernest Bower
Ernest Z. Bower adalah penasehat senior pada Sumitro chair for Southeast Asia Studies, CSISFoto: CSIS

Cina menyadari kelemahan dalam kebijakan geopolitis Washington, dan Washington berpikir masih punya 20 bulan, sebelum administrasi pemerintahan di bawah Presiden Obama selesai, sehingga masih adakesempatan mengubah beberapa fakta di lautan, sebelum pemerintahan baru mengontrol AS tahun 2017.

Carter mengatakan, "tunggu dulu, Anda salah menilai tekad AS." Jadi baik Beijing maupun Washington berusaha mengambil langkah diplomasi dan memperkuat ikatan, tapi di saat bersamaan kedua belah pihak menguji kemampuan masing-masing untuk menolerir risiko. Ini masa yang berbahaya.

Mengapa AS ikut campur dalam pertikaian antara Cina dan negara-negara tetangganya di Asia Tenggara?

AS tidak punya klaim teritorial atau maritim di Laut Cina Selatan. Yang terlibat enam negara Asia Tenggara: Brunei, Cina, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam.

AS tertarik ikut campur karena sekutu dan mitranya meminta bantuan dalam meyakinkan Cina, agar tidak menggunakan kekuatan ekonomi dan militernya untuk memaksakan kehendak atas tetangga-tetangganya, dan sebaliknya mengambil tindakan yang sesuai hukum internasional.

AS juga ingin agar lalulintas perdagangan dan jalur komunikasi, yang jadi prinsip kebebasan pelayaran, terjamin di wilayah laut yang penting ini, mengingat hampir dua pertiga perdagangan dunia serta penyaluran energi melewati kawasan ini.

AS juga ingin meyakinkan Cina bahwa di awal keterlibatannya di panggung dunia, baik juga bagi Cina jika mematuhi hukum internasional dalam upaya mencapai ambisinya. Washington percaya, jika Cina diijinkan mengintimidasi negara-negara tetangganya, dan menetapkan sebuah area dominasi geopolitis baru, itu akan membuat situasi Asia dan dunia jadi labil.

Ernest Z. Bower adalah penasehat senior pada Sumitro chair for Southeast Asia Studies, dalam Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, AS.