1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

161111 Hightech-Prothesen

23 November 2011

Dalam kejuaraan dunia atletik di Daegu Korsel Agustus lalu Oscar Pistorius menunjukkan, dengan betis dan kaki palsu mampu menyaingi olahragawan yang tidak menderita cacat. Dengan bantuan protese berteknologi tinggi.

https://p.dw.com/p/13F27
South Africa's Oscar Pistorius positions himself on the starting blocks ahead of a Men's 400m final at the World Athletics Championships in Daegu, South Korea, Monday, Aug. 29, 2011. (Foto:Anja Niedringhaus/AP/dapd)
Oscar Pistorius saat kejuaraan dunia atletik Daegu diFoto: dapd

Banyak orang menarik manfaat dari protese berteknologi tinggi, termasuk Oscar Pistorius, olahragawan cabang atletik ringan dari Afrika Selatan. Oscar Pistorius dilahirkan dengan gangguan genetika. Ia tidak memiliki fibula atau tulang betis dan sudah sejak bayi kedua betisnya diamputasi. Meskipun demikian Pistorius berkembang menjadi atlit olahraga prestasi, karena dengan perkembangan teknologi, kaki buatan dari kayu kini sudah menjadi masa lalu.

Pria berusia 25 tahun itu berlari dengan protese bawah lutut berpegas karbon, yang dibuat meniru cara kerja paha dari macan tutul. Protese bawah lutut itu merupakan pesanan khusus. Tapi orang yang pahanya diamputasi walaupun tidak ingin menjadi atlit olah raga prestasi juga dapat menarik keuntungan dari perkembangan itu. Demikian disampaikan Profesor Bernhard Greitemann dari Institut untuk Penelitian Rehabilitasi pada Rumah Sakit Bad Rothenfelde di kawasan Münster: "Olahragawan sifatnya mirip seperti mobil balap formula satu dalam pengembangan otomotif. Artinya dapat ditarik pengalaman dari beban amat berat, sehingga itu juga bermanfaat bagi pasien biasa. Saya pikit itu sesuatu yang ideal."

Protese Modern Beri Peluang Baru

Meskipun seorang pensiunan mungkin tidak perlu protese kaki macan tutul, ia dapat menarik manfaat dari protese yang dikendalikan chip mikro prosesor. Kaki buatan modern menyesuaikan diri dengan kecepatan berjalan dan ritme langkah seseorang, kaki terangkat secara otomatis pada fase diayun, sehingga mencegah seseorang tersandung. Semua teknik ini mula-mula dikembangkan untuk olimpiade penyandang cacat paralimpic.

Pasien muda yang mengalami amputasi justru mengharapkan bahwa mereka dengan protese modern dapat berjalan hampir seperti sebelum diamputasi, dapat bermain ski atau berenang. Dan jika operasi, rehabilitasi dan teknik terpadu selaras, hal itu sering berhasil. Tapi menurut Prof. Greitemann teknologi tinggi bukan segalanya. "Bagian terbagus pun tidak akan berguna jika sambungannya tidak tepat. Itu dapat membuat protesenya lepas."

Dalam pembentukan sambungan protese secara individual masih tetap diperlukan ketrampilan tangan dan pengalaman pakar teknik ortopedi. Mereka tidak hanya mengenal teknik pembuatan kaki palsu, melainkan juga misalnya stocking atau kaus kaki ortopedi. Karena tekanan stocking ortopedi pada kulit dapat merangsang otot-otot melalui reseptor. Oleh karena itu kaus kaki ortopedi juga dipakai oleh pemain sepakbola. Para atlit triatlon bahkan mengandalkan baju ortopedi sebadan. Dan di sini pasien biasa juga menarik manfaat: "Teknik rajutan semakin ditingkatkan. Seorang atlit tidak akan mau jika saat ia berlari ada sesuatu yang menjepit. Artinya hal itu secara otomatis mendorong kemajuan di bidang inovasi."

Moderne myoelektrische Armprothese mit Adaptivhand. Quelle: Otto Bock HealthCare GmbH
Prothesen FLASH GalerieFoto: Otto Bock HealthCare GmbH

Inovasi Juga Di Bidang Disain Protese

Disain baru juga berkembang, ditekankan Behnhard Greitemann. Bahkan disainer mode Wolfgang Joop misalnya sudah membuat rancangan untuk stocking atau kaus kaki protese. Juga secara umum disain kaki buatan terus berubah: "Saya punyak banyak pasien yang dikatakan hampir secara agresif menunjukkan cacat tubuhnya. Artinya, kaki buatan tidak lagi dibuat sesuai dengan warna daging, melainkan dengan disain seperti Harley Davidson. Ada juga pasien yang menunjukkan pergelangan kaki buatannya."

Mungkin gambar-gambar dari paralimpic dan Oscar Pistorius dengan betis palsu macan tutulnya memiliki makna lebih dari sekedar olah raga prestasi, melainkan juga membantu cara baru menyikapi cacat tubuh serta untuk menimbulkan keberanian.

Volkart Wildermuth/Dyan Kostermans

Editor: Agus Setiawan