1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

121011 Afghanistan König der Frauen

17 Oktober 2011

Bibi Hakmeena adalah seorang perempuan yang hidup di Afghanistan seperti seorang pria. Anggota dewan pemerintah provinsi Khost ini disebut sebagai 'raja kaum perempuan' dan dihormati oleh kaum pria.

https://p.dw.com/p/12tQb
Bibi HakmeenaFoto: DW

Jika bepergian ke Khost di timur Afghanistan, tidak mungkin melewatkan sosok Bibi Hakmeena. Nama anggota dewan pemerintah provinsi dikenal semua orang disana. Tidak hanya karena pekerjaan politiknya, tetapi juga karena penampilannya yang tidak biasa. Ia mengenakan jubah tradisional yang biasa dipakai kaum pria Afghanistan, celana bahan longgar dan kemeja panjang. Di kepalanya ia mengenakan turban. Bibi mengaku, "Saya merasa seperti seorang pria, karena kebiasaan saya maskulin. Saya tidak pernah merasa seperti seorang perempuan."

Sejak masa kanak-kanaknya, perempuan berusia 42 tahun ini berpakaian seperti seorang pria. Di pundaknya ia memanggul senjata. Tanpa senapan kalashnikovnya, ia tidak akan keluar dari rumah. "Saya membawa senjata bagi diri saya, bagi kehormatan dan reputasi saya. Suku Pashtu punya peribahasa : Senjata adalah beban, tapi suatu saat akan berguna bagimu. Senjata itu ada untuk melindungi nyawa manusia."

Saat masih kecil pun, Bibi harus belajar cara melindungi dirinya sendiri dan keluarganya. Kakak laki-lakinya kuliah di ibukota, sehingga ia harus mengambil posisi anak laki-laki di keluarganya. Tugasnya adalah melindungi ibu dan adik perempuannya. Ia juga mendampingi ayahnya ke urusan kemasyarakatan yang biasanya ditangani kaum pria. "Ayah saya seorang tetua desa. Saya ikut dengannya kalau ia harus mendatangi pertemuan dan saya banyak belajar darinya. Karena posisi ayah, kelompok suku sudah selalu menghormati saya."

Bibi Hakmeena tidak pernah menikah dan tidak punya anak. Tetapi ia telah berperang bersama Mujahidin melawan Soviet. Ia seorang pengintai dan bertugas untuk mendistribusi bahan pangan, obat dan senjata. Belum lama ini ia terpilih sebagai anggota dewan pemerintahan provinisi Khost. Banyak orang yang datang kepadanya untuk meminta nasihat. Kaum pria juga menghormatinya dan tidak memandangnya sebagai seorang perempuan.

Seperti Abdul Qadir, seorang penduduk Khost, "Walaupun ia perempuan, Bibi Hakmeena melakukan banyak hal untuk kampung halamannya. Ia berani seperti kaum pria. Lagipula ia membela hak perempuan. Ini pekerjaan yang inovatif. Karena di daerah ini hanya sedikit yang memperhatikan nasib perempuan."

Bibi Hakmeena ingin menjadi politisi yang baik. Masalah gender tidak menjadi fokus utamanya. Ia ingin membantu kaum miskin. Dan di Afghanistan, sebagian besar warga yang miskin adalah kaum perempuan. "Saya kasihan dengan perempuan, karena mereka tidak mendapat perlakuan adil di masyarakat Pashtu. Anak perempuan misalnya, dipaksa menikah untuk menyelesaikan konflik antara dua keluarga. Lagipula, banyak yang tidak dibolehkan sekolah."

Ia juga tidak pernah bersekolah. Seperti anak laki-laki, ia harus bekerja di ladang. Bibi lebih tahu menjadi pekerja keras, dibandingkan memasak di rumah. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai 'raja kaum perempuan'. Ia tidak bermasalah dengan kaum pria di Khost.

Bahkan dari kaum Taliban pun ia tidak mudah ditakut-takuti. "Mereka dua kali memperingatkan saya dan mengatakan, 'Kamu kan sudah naik haji. Kalau kamu percaya Tuhan, seharusnya kamu berpihak kepada kami'. Itu kata anggota Taliban. Saya kemudian bilang ke mereka, 'Ayo kita duduk bersama dan membicarakannya'."

Bibi Hakmeena penganut Islam yang taat. Tetapi ia juga percaya akan hukum dan hak-hak demokratis. Dialog antara partai yang berseteru baginya adalah solusi terbaik. Ia menaruh harapan akan perdamaian bagi negaranya yang terus didera perang.

Bibi juga menginginkan emansipasi yang lebih kuat dari kaum perempuan. Karena setelah jatuhnya Taliban 2001 lalu, belum terjadi persamaan hak bagi pria dan perempuan di Afghanistan. Untuk mendapat hak yang sama seperti laki-laki, seorang perempuan harus menjadi pria terlebih dahulu.

Waslat Hasrat-Nazimi/Vidi Legowo-Zipperer

Editor : Hendra Pasuhuk