1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rusia dan Cina Berambisi Perangi Neoliberalisme

10 Juli 2015

Rusia dan Cina tampilkan diri sebagai kekuatan baru pengimbang konsep neoliberal globalisasi barat. Dalam KTT BRICS di Rusia, lima negara industri baru berusaha angkat status sebagai kekuatan pengimbang kelompok G-7.

https://p.dw.com/p/1FwAO
Russland 7. Gipfel der Brics-Staaten in Ufa
Foto: picture-alliance/dpa/S. Krasilnikov

Barat dengan neoliberalisme globalisasinya yang dituding sebagai konsep baru untuk kuasai dunia, jadi bulan-bulanan kritik dalam dokumen penutup konferensi puncak lima negara industri baru, Brazil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan yang bergabung dalam BRICS yang digelar di kota Ufa, Rusia.

Disebutkan dalam dokumen tersebut, neoliberalisasi semacam itu justru memusnahkan lapangan kerja sekaligus merusak lingkungan global. BRICS juga mengkritik politik ekonomi Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam memerangi krisis keuangan yang bisa berdampak global seperti yang terjadi di Yunani.

Dalam pidato penutupan KTT, tuan rumah presiden Rusia Vladimir Putin melontarkan kekhawatirannya, melihat ketidakstabilan pasar dan harga energi serta komoditi yang makin mahal. "Ketidak seimbangan ini mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi negara BRICS", ujar Putin.

Rusia dan Cina secara mencolok terlihat hendak memposisikan diri sebagai dua negara pengimbang kekuatan negara industri Barat yang bergabung dalam G-7. Agenda utama dari pertemuan puncak di Ufa adalah menggalang kerjasama ekonomi lebih erat, untuk memantapkan alternatif tatanan dua tanpa klaim kekuasaan Amerika Serikat dan dominasi Dolar. Selain itu juga dicanangkan program memerangi krisis global.

Aliansi ekonomi tandingan

Seusai KTT BRICS pimpinan 5 negara industri baru itu melanjutkan dengan pertemuan Shanghai Cooperation Organisation-SCO, yang juga dihadiri oleh 4 kepala negara ex Uni Sovyet di Asia Tengah, Tajikistan, Uzbekitsa, Kazakstan dan Kirgiztan. Juga hadir para presiden dari Mongolia, Armenia, Belorusia, Iran dan Afghanistan.

Tuan rumah, Presiden Rusia Vladimir Putin dan presiden Cina Xi Jinping menjadikan dirinya figur sentral dalam KTT ganda yang hendak jadi pengimbang kekuatan dunia yang didominasi barat. Putin dan Xi Jinping terutama memanfaatkan pertemuan puncak itu untuk mendorong pembentukan aliansi ekonomi Asia dengan kawasan pasca bubarnya Uni Soyet.

Rusia dengan jelas terlihat bergerak kse Asia, akibat memburuknya hubungan Moskow dengan barat gara-gara konflik Ukraina. Juga dengan jelas terlihat, bagi Putin agenda politik dan ekonomi yang terlalu beragam dalam kedua KTT itu tidak terlalu penting. Yang terutama adalah, presiden Rusia ini bisa kembali memoles citra politiknya di panggung politik dunia.

as/ml(rtr,afp,dpa)