1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Selamat Ulang Tahun Dalai Lama!

Matthias von Hein, ap, vlz6 Juli 2015

Tanggal 6 Juli, Dalai Lama menginjak usia 80 tahun. Ia merayakannya di berbagai penjuru dunia, namun tidak di Tibet, kampung halamannya.

https://p.dw.com/p/1FsCg
Foto: picture-alliance/dpa/F. von Erichsen

Dalai Lama sudah mulai merayakan ulang tahunnya sejak akhir April lalu. Bersama teman-teman dan sesama peraih penghargaan Nobel Perdamaian Desmond Tutu, ia berpesta di asrama kaum eksil Tibet. 21 Juni, hari kelahirannya berdasarkan kalender bulan Tibet, digelar upacara di lokasi eksilnya di India Utara. Seminggu setelahnya, ia muncul sebagai tamu kejutan pada festival musik Glastonburry di Inggris yang dihadiri lebih dari 100.000 pengunjung. Anak-anak muda tersbeut menyanyikan lagu "Happy Birthday" bagi sang Dalai Lama, sebelum ia berbicara tentang cinta, pengampunan dan toleransi. Pada tanggal 6 Juli, pimpinan spiritual Tibet ini akan berada di Irvine, Kalifornia dalam rangka Global Compassion Summit - konferensi tingkat tinggi tentang tenggang rasa global.

Nasib Buruk

Sejak berumur dua tahun hidupnya telah diatur sepenuhnya sesuai keinginan Buddha. Tenzin Gyatso, begitu nama asli Dalai Lama, mendapat tanggung jawab besar, yaitu memimpin dan mewakili seluruh rakyat Tibet. Itu terjadi tahun 1937. Dua tahun setelahnya, ia menaiki tahta di ibukota Lhasa dengan upacara megah. Sejak saat itu ia menyandang telar kehormatan Dalai Lama, yang dalam Bahasa Mongolia berarti: guru yang sama dengan samudra.

Kemudian terjadilah Perang Dunia II. Selama beberapa waktu wilayah Tibet menjadi daerah yang terlupakan di peta dunia. Sampai negara itu diduduki tentara pembebasan Cina tahun 1950. Dalai Lama mejalankan kewajiban yang dipikulnya. Ia beberapa kali mengadakan pertemuan dengan pemimpin komunis Cina, Mao Zedong, di Beijing, untuk mencari jalan keluar dari konflik Tibet. Tetapi perundingan tidak mendatangkan hasil.

Der Dalai Lama und Patti Smith beim Glastonbury 2015
Dalai Lama dan Patti Smith di Glastonburry 2015Foto: picture alliance/Photoshot

1959 adalah tahun yang menentukan nasib Dalai lama yang masih sangat muda. Rakyatnya berdemonstrasi di ibukota Lhasa untuk kebebasan negara dari kekuasaan Cina. Protes itu ditindak dengan kekerasan oleh militer Cina. Dengan berat hati Dalai Lama meninggalkan negaranya menuju pengasingan di India. Namun demikian ia selalu yakin, bahwa satu waktu nanti rakyatnya akan hidup dalam kebebasan.

Dinilai Separatis

Dalai Lama mengatakan, bukan hanya warga Tibet di luar negeri, melainkan juga yang di dalam negeri harus tegas memperjuangkan hak-hak dasar mereka, jadi seluruh rakyat, terutama generasi muda. Pada dasarnya Tibet bukan ingin memisahkan diri, melainkan ingin menjadi daerah otonomi. Demikian Dalai Lama.

Di Beijing, Dalai Lama dikutuk dan dinilai separatis. Bahkan memasang fotonya di dinding juga dilarang di Tibet. Sedangkan di luar negeri ia disanjung dan dipuji-puji sebagai duta perdamaian. Dengan tak kunjung henti ia menunjukkan kepada dunia nasib buruk rakyat Tibet. Dan 1989 lalu, untuk perannya bagi perdamaian, Dalai Lama mendapat hadiah Nobel.