1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Protes Anti-Pemerintah Turki

ek/cp/yf (rtr, dpa, ap)4 Juni 2013

Serikat Buruh utama Turki, Selasa (04/06/13), bergabung dengan kelompok anti pemerintah, setelah bentrokan berlanjut sepanjang malam antara polisi dan pengunjuk rasa di Istanbul dan Ankara.

https://p.dw.com/p/18isL
Foto: Reuters

Konfederasi Serikat Buruh Publik di Turki, KESK menyerukan dua hari mogok sebagai protes terhadap kekerasan polisi terhadap demonstran. Di situsnya, KESK menulis, "Tindak teror negara terhadap demonstrasi yang damai semakin mengancam keamanan masyarakat“. Hingga kini sudah dua orang yang tewas dalam bentrokan yang terjadi.

Korban Tewas dan Penangkapan

Serikat Dokter dan Pekerja Medis melaporkan, hari Minggu seorang lelaki terbunuh akibat mobil yang menyeruduk demonstran di Istanbul. Televisi Turki menyiarkan gambar pemadam kebakaran dikerahkan, Senin (03/06/13) dini hari, untuk memadamkan api yang disulut para pengunjuk rasa di kantor-kantor Partai AK (Partai Keadilan dan Pembangunan) di kota pelabuhan Izmir.

Hari Selasa (04/06/13) pagi, televisi NTV melaporkan seorang lelaki berusia 22 tahun tewas ditembak mati di propinsi Hatay, Turki Selatan.

Hingga kini sudah sedikitnya 2000 orang yang ditangkap dalam sekitar 60 bentrokan yang terjadi di berbagai tempat. Meski ketegangan dalam negeri belum berakhir, Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan, Senin (03/06/13), sesuai rencana meninggalkan Turki untuk berkunjung ke Maroko, Tunisia dan Aljazair.

Fokus demonstrasi kini beralih menarget kantor-kantor Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan di Istanbul dan Ankara. "Diktator, mundur! Kami akan melawan hingga kami menang," teriak kerumunan pengunjuk rasa

'Menyulut ketidakpuasan'

Kelompok-kelompok hak asasi seperti Amnesty International telah mengkritik respon pemerintah Turki terhadap pengunjuk rasa yang dinilai terlalu keras. Organisasi itu terutama kritis mengenai penggunaan gas air mata oleh polisi, yang disebut Amnesty sebagai berlebihan.

Dalam sebuah pernyataan melalui situs, Amnesty mengungkap adanya laporan bahwa "polisi terlihat sengaja menarget individu dengan gas air mata. Sejumlah pengunjuk rasa dilaporkan kehilangan penglihatan akibat penggunaan gas air mata dari jarak dekat."

Türkei Demos in Ankara 03.06.2013
Foto: Reuters

Periset senior Turki dari Human Rights Watch, Emma Sinclair-Webb, menyatakan "kegagalan pemerintah Turki untuk menghormati hak untuk protes dan berpendapat menyulut ketidakpuasan di antara warga Turki."

Erdogan menampik kritik

Dalam sebuah siaran televisi hari Minggu (02/06/13), Erdogan merespon kerusuhan di Turki dengan menyalahkan lawan politiknya.

"Partai oposisi utama yang menyerukan perlawanan di jalan adalah yang memprovokasi semua protes ini," ujar Erdogan, seraya menambahkan lawan politiknya memanipulasi protes damai karena mereka "tidak mampu mengalahkan pemerintah di kotak suara."

Demonstrasi peduli lingkungan di Istanbul menentang rencana pemerintah menghilangkan ruang hijau di kota cepat berubah menjadi unjuk rasa anti-pemerintah hari Jumat (31/05/13) dan Sabtu (01/06/13).

Erdogan, yang telah menjabat perdana menteri sejak tahun 2003, menampik gambaran pemerintahannya sebagai otoriter. "Kalau mereka menyebut seseorang yang telah melayani warga sebagai 'diktator,' saya tidak bisa berkomentar," Erdogan mengatakan, "Satu-satunya perhatian saya hanyalah untuk melayani negara saya."

Pengkritik menuding Partai AK yang dipimpin Erdogan menjauh dari tradisi sekularis menuju kebijakan otoriter yang berakar pada Islam.

ek/cp/yf (rtr, dpa, ap)