1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sri Lanka Fokus ke Energi Terbarukan

17 Februari 2012

Sri Lanka berusaha barengi pertumbuhan ekonomi dengan pemenuhan kebutuhan energi yang terus bertambah. Energi terbarukan menjadi pilihan.

https://p.dw.com/p/1451d
PLTA kecil di Sri Lanka
PLTA kecil di Sri LankaFoto: Dominic Sansoni / The World Bank

Ibukota Sri Lanka, Kolombo. Pusat ekonomi dan politik negeri. Pemulihan setelah perang sipil berdekade lamanya begitu terasa. Pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen tahun lalu. Namun pertumbuhan ekonomi membutuhkan energi. Terutama di industri teh.

Teh Ceylon asal Sri Lanka terkenal di dunia, dan merupakan komoditas ekspor utama bagi negara tersebut. Teh selalu diproses tidak jauh dari perkebunan. Kalau tidak, daun teh akan cepat basi.

55 ribu kilogram daun teh diproses pabrik setiap hari. Sejak daun teh ditimbang dan digiling secara otomotis dengan mesin, total produksi bertambah berkali-kali lipat. Volume penjualan memang turut berlipat ganda, namun ini juga berarti kebutuhan energi yang harus dipenuhi ikut bertambah.

Direktur pabrik teh Galpaditenne, Saman Upasena, menjelaskan, "Kebanyakan yang mampu terutama dari sektor swasta seperti kami sudah beralih ke teknologi otomatis. Bukan hanya atas pertimbangan tenaga kerja. Teh adalah bahan pangan, jadi menyangkut faktor higienis. Tanpa penanganan yang berlebih, kami mendapatkan produk yang lebih baik."

Energi surya digunakan untuk menerangkan toko di sebuah desa di Sri Lanka
Energi surya digunakan untuk menerangkan toko di sebuah desa di Sri LankaFoto: Dominic Sansoni / The World Bank

Pembangkit listrik tenaga air

Untuk menekan biaya energi yang terus meningkat, pabrik teh Galpaditenne baru-baru ini berinvestasi pada energi terbarukan. Sebuah pembangkit listrik tenaga air didirikan tak jauh dari pabrik, dan sejak tahun lalu menyediakan energi yang dibutuhkan.

Dengan kapasitas 1,4 megawatt, PLTA tersebut bisa dibilang berskala kecil. Hampir 2,5 juta Euro dikeluarkan oleh pabrik teh. Jumlah yang diprediksi kembali dalam 4 tahun. Investasi semacam ini turut didukung dan dimanfaatkan pemerintah Sri Lanka.

Lakshika Gunawardhane, manajer operasional pabrik teh Galpaditenne, mengungkapkan, "Kami mengekspor energi ke jaringan listrik nasional dan mereka membayar dengan harga yang pantas. Itulah mengapa PLTA ini merupakan kesempatan yang baik."

Sri Lanka memiliki pengalaman panjang dengan tenaga air. Juga karena industri teh negara tersebut. Budidaya tanaman teh berasal dari dataran tinggi yang mempunyai curah hujan tinggi. Sejak 100 tahun lalu, air terjun dan sungai sudah dimanfaatkan dalam produksi energi.

Bantuan bagi sektor swasta

Kini tenaga air memenuhi 45 persen kebutuhan energi nasional. Meski lahan yang dibutuhkan untuk membuat PLTA kecil sudah semakin langka, pembangunan terus diupayakan di berbagai dataran tinggi Sri Lanka. Seperti sebuah PLTA bernilai 1 juta Euro yang didanai perusahaan energi 'Lanka Gasifiers.' Manajer Lalith Seneviratne tengah mengunjungi lokasi konstruksi.

Turbin angin di Hambantota
Turbin angin di HambantotaFoto: CC / Rehman Abubakr

"PLTA skala kecil bisa didanai pengusaha sektor swasta. Mereka bisa pergi ke bank dan minta pinjaman. Bukan beban finansial yang begitu besar. Jadi banyak pengusaha yang terdorong untuk membangun PLTA seperti ini. Dampak lingkungan PLTA semacam ini juga kecil. Dan yang terpenting, tidak membutuhkan lahan besar sehingga tidak perlu menggusur warga," ujar Seneviratne.

Meski bantuan modal mudah didapatkan, bukan berarti izin membangun PLTA gampang didapat. Kembali Lalith Seneviratne, "Susah karena satu, kami harus mempertimbangkan isu lingkungan. Kami membangun PLTA ini di dalam hutan. Jadi kami harus meminimalkan kerusakan terhadap hutan. Sedikit mungkin menebang pohon. Belum kalau jalur yang diambil panjang mencapai 1,5 kilometer. Semakin rumit konstruksi, biayanya semakin besar."

Wajib suplai jaringan nasional

Konstruksi PLTA rencananya selesai tahun ini dan mampu melayani 1.500 rumah tangga dengan listrik ramah lingkungan. PLTA ini juga akan digunakan untuk menyuplai jaringan listrik nasional.

Keharusan PLTA skala kecil menyuplai jaringan nasional telah menguntungkan banyak warga. Seperti keluarga Chandima Ederelle yang baru setahun ini terhubung dengan jaringan listrik nasional. Sebelumnya mereka hanya memiliki listrik di waktu makan malam, antara pukul 6 hingga 10 malam dari pembangkit listrik biomassa milik desa.

Ederelle berkisah, "Karena listrik 24 jam, kami bisa bangun pagi dan beraktivitas lebih cepat. Karena terang di dalam rumah dan di jalan. Tentunya mengubah hidup. Kami punya lebih banyak waktu dan bisa bersantai di malam hari."

Semakin terpencil sebuah desa, akan semakin besar biaya yang dibutuhkan untuk menyuplai energi. Saat ini ada 100 PLTA skala kecil yang beroperasi. Dalam tahun-tahun ke depan, rencananya jumlah tersebut bertambah dua kali lipat.

Brigitta Moll/Carissa Paramita

Editor: Hendra Pasuhuk