1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Suaka Orangutan Dirambah Warga, Polisi Menolak Bertindak

27 Juli 2017

Yayasan Borneo Orangutan Survival mengeluhkan sikap diam kepolisian menyusul aksi warga merambah hutan yang menjadi kawasan suaka buat orangutan di Samboja. Pihak yayasan diminta menyelesaikan masalah secara kekeluargaan

https://p.dw.com/p/2hDIs
Indonesien Orang-Utans Bedrohung durch Waldrodung
Foto: Getty Images/U. Ifansasti

Kepolisian di Samboja, Kutai Kartanegara, menolak menindaklanjuti kasus perambahan kawasan perlindungan orangutan dan sebaliknya mengimbau agar pihak yayasan Borneo Orangutan Survival agar menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan. Hampir seperlima wilayah hutan yang termasuk dalam kawasan perlindungan orangutan di Kalimantan dirambah oleh warga transmigran.

Cara itu "tidak akan menyelesaikan apapun," kata Nico Hermanu, Jurubicara Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS). Ia mengklaim pihaknya sudah berulangkali memberitahu penduduk agar tidak merusak kawasan rehabilitasi. "Tapi mereka tetap melakukannya."

Kini pihak yayasan berharap mendapat dukungan dari pemerintah provinsi Kalimantan Timur untuk melindungi kawasan rehabilitasi tersebut.

Para transmigran dilaporkan menebang pohon untuk membuka lahan perkebunan, termasuk kelapa sawit. Menurut catatan BOS sekitar 340 hektar lahan hutan telah habis dibabat oleh warga lokal. Celakanya aktivitas tersebut dilakukan di dekat "sekolah hutan" yang menampung 20 orangutan. Sekolah itu mendidik orangutan untuk hidup mandiri sebelum dilepaskan ke alam liar.

Sebagian besar satwa yang ditampung oleh BOS merupakan korban perdagangan atau satwa yang kehilangan orang tuanya akibat dibunuh pembalak liar. Yayasan tersebut membeli lahan seluas 1.850 hektar di Samboja, dari warga lokal dan memulihkan kembali kondisi hutan untuk menjadi rumah bagi 170 ekor satwa.

Butuh waktu hingga 15 tahun sebelum BOS berhasil menghijaukan kembali hutan yang telah rusak.

Maraknya perambahan mulai terjadi 2015 silam saat kebakaran lahan berkecamuk di sekitar pusat rehabilitasi Samboja Lestari. "Itu kami telaah dari citra satelit, lokasi terjadi di pinggiran hutan BOS. Tapi diteliti lebih jauh, ternyata masuk ke areal kami," ujar Nico seperti dilansir Merdeka.com.

rzn/ap (ap,antara,merdeka,kompas)