1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

D Köhler Rücktritt

1 Juni 2010

Belum pernah dalam sejarah Jerman seorang presiden meletakkan jabatannya sebelum habis masa tugasnya. Bagaimana kita menilai langkah Köhler ini? Apa arti keputusan Köhler ini bagi Jerman?

https://p.dw.com/p/Newz
Horst Köhler ketika mengumumkan pengunduran dirinyaFoto: picture alliance / dpa

Hal itu sebetulnya tidak perlu. Memang Presiden Horst Köhler membuat pernyataan yang salah dalam sebuah wawancara. Akan tetapi itu bukan merupakan alasan bagi seorang kepala negara yang terhormat dan dihormati untuk meletakan jabatannya. Dalam perjalanan pulang setelah melakukan kunjungan di Afghanistan, Horst Köhler menyampaikan sebuah pernyataan yang dapat ditafsirkan, bahwa penugasan pasukan Jerman di sana adalah untuk membela kepentingan ekonomi. Ketika lima hari setelah pernyataan itu ditayangkan, tiba-tiba pecah gelombang kemarahan terhadap Köhler, ia menyatakan, bukan itu yang dimaksudkannya. Dengan begitu, seharusnya hal ini dapat berakhir baik.

Tapi dalam kenyataannya kritik dari para politisi maupun media massa terus berlanjut. Bahkan ditarik semacam kesamaan dengan mantan Presiden Heinrich Lübke yang memangku jabatan di tahun 60-an, pada saat daya intelegensinya pada jabatannya yang kedua terus menurun, dan bagi banyak kalangan dipandang sebagai figur lelucon. Kenangan akan hal ini tertanam dalam benak warga. Dan itu amat jahat.

Akan tetapi sebagai alasan pengunduran dirinya, Köhler menyampaikan argumen yang lain. Ia merasa dipersalahkan mendukung sebuah penugasan militer, yang tidak dilindungi oleh konstitusi. Dengan kata lain, sebagai kepala negara ia mewakili sebuah posisi yang melanggar konstitusi. Kritik semacam itu, benar seperti kata Köhler, merusak citra jabatan presiden Jerman. Untuk melindungi citra jabatan presiden dari kritik semacam itu, ia mengundurkan diri. Dan ini merupakan tindakan yang sangat terhormat.

Akan tetapi yang kurang terhormat adalah, kini muncul spekulasi, bahwa kemungkinan Köhler mundur akibat alasan yang amat berbeda. Antara lain, kekecewaannya terhadap Kanselir Jerman Angela Merkel, yang tidak melindunginya dari serangan kritik. Merkel melalui seorang juru bicaranya melontarkan pernyataan, bahwa ia sebagai kanselir tidak memiliki kewenangan untuk mengomentari pernyataan presiden Jerman.

Sudah sejak sebelum pernyataan tidak menguntungkan dalam wawancara ini, kritik terhadap Köhler terus meningkat. Terdengar kritik, dalam masa jabatannya yang kedua, tidak banyak petunjuk berharga yang datang dari presiden. Tapi Köhler tahu persis, banyak pernyataannya yang menunjukan dalam situasi sesulit apa Jerman dan Eropa yang terus dilanda krisis keuangan dan tekanan untuk melakukan penghematan, tidak ditanggapi.

Bahwa dalam situasi negara seperti ini, ia menghindari diskusi panas menyangkut jabatannya sebagai kepala negara, menuai banyak simpati, dan sekaligus menepis balik kritik bahwa ia tidak mampu memangku jabatannya kepada pembuat kritik.

Sekarang Sidang Umum Federal yang terdiri dari anggota parlemen-Bundestag dan perwakilan dari negara bagian harus menggelar sidang dalam waktu paling lambat 30 hari. Pemerintah koalisi dan oposisi kini sudah mengajukan nominasi calonnya. Dipandang dari komposisi suara mayoritas, kubu pemerintah dipastikan dapat memenangkan kandidatnya. Setelah itu krisis jabatan tertinggi negara akan tuntas. Dan Horst Köhler diharapkan tidak hanya dikenang sebagai presiden Jerman pertama yang mengundurkan diri. Karena hal itu tidak adil baginya.

Deutsche Welle Peter Stützle
Peter StützleFoto: DW

Peter Stützle

Editor: Agus Setiawan